Mengenal Suku Samin, Suku Terisolasi yang Pandai Menjaga Tradisi

Suku Samin – Indonesia disebut negara yang memiliki kekayaan budaya dan tradisi yang begitu banyak. Karakter masyarakatnya juga beragam.

Bahkan sebuah suku di pulau Jawa sangat menarik perhatian karena karakternya yang unik. Ialah suku Samin, Suku Samin berasal dari sebuah masyarakat yang terkenal akan karakternya yang polos dan lugu.

Masyarakat Samin tinggal di daerah Blora Provinsi Jawa Tengah. Sebagian lagi dari populasi mereka mendiami kawasan Bojonegoro, Jawa Timur.

Di balik sifat lugu dan polos suku ini, ternyata masyarakat Samin memiliki pemikiran yang kritis. Seperti inilah hal-hal unik lain tentang kehidupan masyarakat Samin.

Pengikut Kyai Samin

Pengikut Kyai Samin

Pengikut Kyai Samin

Semua suku di Indonesia terbentuk dari sejarah dan asal usulnya masing-masing. Begitu juga dengan orang-orang Samin. Menurut sejarah, masyarakat Samin adalah keturunan Kyai Samin Soerosantiko yang bernama asli Raden Kohar.

Kyai Samin lahir di Desa Ploso Kedhiren, Randublatung tahun 1859 dan meninggal saat diasingkan ke Padang pada tahun 1914.

Ajaran Kyai Samin kemudian menjadi nilai-nilai moral utama yang sampai sekarang dianut suku ini dan disebut Saminisme. Ajaran tersebut pertama kali tersebar di daerah Klopoduwur, Blora, Jawa Tengah.

Pada 1890, ajaran Samin berkembang di dua desa hutan kawasan Randublatung. Ajaran ini lantas begitu cepat menyebar ke wilayah lain.

Ajaran Samin akhirnya menyentuh wilayah pantai utara Jawa ke seputar hutan di Pegunungan Kendeng Selatan dan Kendeng Utara.

Menurut peta sekarang wilayah tersebut lebih dikenal sebagai perbatasan provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di wilayah ini, jumlah masyarakat Samin sekarang tidak terlalu banyak.

Baca juga : Suku Gayo

Tertutup dari Pengaruh Modernisasi

Tertutup dari Pengaruh Modernisasi

Tertutup dari Pengaruh Modernisasi

Kebanyakan suku primitif yang tinggal di pedalaman memang hidup sangat sederhana. Mereka hidup dengan bergantung pada alam.

Di waktu yang sama mereka juga cenderung menutup diri terhadap arus modernisasi. Hal ini juga yang terjadi pada suku Samin yang masih tetap hidup dalam kesederhanaan tanpa tersentuh gaya hidup modern.

Orang Samin tidak mengenal dan menggunakan alat-alat elektronik. Sepenuhnya kebutuhan mereka dipenuhi dengan mengandalkan pemberian Tuhan yang dapat ditemukan di alam.

Mereka juga menutup diri dari akses pendidikan alias tidak ada orang Samin yang bersekolah. Hal ini sudah menjadi prinsip dan pilihan hidup mereka yang sampai sekarang tidak berubah.

Sifat dan Perilaku Orang Samin

Sifat dan Perilaku Orang Samin

Sifat dan Perilaku Orang Samin

Sifat dan karakter orang Samin patut dijadikan teladan karena mereka selalu menjunjung tinggi norma kesopanan. Orang Samin sangat mengutamakan kejujuran.

Mereka akan selalu berkata dan berlaku jujur dan sangat menghindari kebohongan. Bahkan orang Samin tidak suka perdagangan karena itu berisiko menghasilkan kecurangan.

Karena sangat menjunjung tinggi nilai kejujuran, orang Samin sangat tidak menyukai semua bentuk pencurian. Orang Samin mengedepankan ajaran yang melarang mengambil hak orang lain.

Menurut masyarakat Samin, agama adalah pegangan hidup paling utama dan harus dipenuhi untuk semua bidang kehidupan.

Baca juga : Suku Bajo

Ajaran Suku Samin

Ajaran Suku Samin

Ajaran Suku Samin

Sifat orang Samin yang terkenal luhur serta berbudi merupakan hasil dari ajaran yang selama ini mereka terapkan. Dalam urusan beragama, orang Samin sangat menghargai orang-orang dari agama lain.

Mereka tidak membedakan pemeluk agama lain, menghormati ibadahnya dan tetap bersikap baik terhadap umat agama lain.

Orang Samin juga menerapkan ajaran dalam hidup untuk tidak mengganggu orang lain. Sesama manusia tidak boleh saling bertengkar, bertikai atau memancing permasalahan.

Antar saudara, keluarga dan tetangga juga tidak boleh saling iri dan dengki. Mereka sangat mengutuk perbuatan yang merugikan orang lain.

Ajaran lain dalam kehidupan yang dijalankan orang Samin adalah larangan untuk sombong. Manusia harus menyadari bahwa kehidupannya hanya dengan satu roh.

Orang Samin mempercayai orang yang meninggal tidak menuju alam baka melainkan hanya meninggalkan pakaiannya saja.

Sanksi Sosial yang Tegas Untuk Samin

Masyarakat Samin termasuk sekelompok orang yang konsisten terhadap aturan. Ajaran moral yang mereka terapkan sejalan dengan konsekuensinya.

Seperti jika dalam masyarakat tersebut ada orang yang tidak mematuhi aturan, maka orang tersebut akan mendapat teguran. Karena itulah warga Samin terkenal sangat disiplin.

Pelaku pelanggaran di Samin pasti akan mendapatkan sanksi sosial. Masyarakat secara umum akan otomatis mengucilkan pelaku pelanggaran.

Tidak heran jika nilai kebaikan dan ajaran moral di Samin tetap terjaga. Tidak ada yang berani melanggarnya karena akibatnya sangat buruk. Hal ini juga menjadi pondasi utama dalam penanaman karakter pada anak-anak di Samin.

Aturan Pernikahan Suku Samin

pernikahan suku samin

Pernikahan adalah sesuatu yang penting bagi warga Samin secara umum. Mereka menganggap pernikahan adalah sebuah pondasi dalam kehidupan.

Pernikahan menjadi sebuah jalan untuk menuju keluhuran budi pekerti dan meneruskan generasi yang berakhlak mulia. Dengan memiliki atmaja utama atau anak-anak mulia bisa dianggap sebagai jaminan masuk surga.

Orang Samin begitu menekankan ajaran akhlak pada anak-anak mereka agar nantinya anak bisa mendoakan orangtuanya.

Sebab mereka meyakini bahwa anak sholeh akan membawa orangtuanya menuju surga dan mendapat pengampunan. Untuk mewujudkannya, orang Samin mengawali dengan ritual pernikahan.

Pernikahan dalam tradisi Samin dimulai ketika seorang pria mengucap semacam syahadat atau ijab qabul. Setelah mengucapkannya, sepasang laki-laki dan perempuan sudah resmi menjadi suami istri.

Aturan pernikahan dalam tradisi Samin tidak mengenal adanya penghulu. Pernikahan dianggap sah setelah kedua belah pihak keluarga sepakat meresmikan ijab qabul yang terucap.

Nilai ajaran lain juga diterapkan orang Samin dalam hal pernikahan. Mereka memiliki prinsip pernikahan adalah sesuatu yang sakral.

Karena itulah menikah hanya bisa dilakukan sekali seumur hidup. Tidak akan ada perselingkuhan atau jalinan hubungan dengan orang ketiga dalam kamus orang Samin. Meskipun mereka hanya menikah secara adat dan bukan secara negara.

Laki-laki di Samin akan selalu setiap terhadap wanitanya seumur hidup. Namun jika salah satu meninggal, maka diperbolehkan untuk menikah lagi.

Ajaran ini menjadikan Samin sebagai suku yang hanya fokus untuk mengurusi kebutuhan spiritual. Mereka tidak terlalu ambil pusing dengan semua tuntutan dan kemewahan dunia.

Cara Suku Samin Mengatasi Penjajah

Senjata Tulup

Orang Samin menghadapi penjajah dengan cara yang sebaliknya. Mereka tidak melakukan perlawanan dengan cara bertarung atau menggunakan senjata.

Orang Samin justru melawan dengan cara yang unik yaitu menolak untuk membayar pajak pada pemerintah Belanda. Mereka tidak mau menyerahkan pajak pada yang tidak berhak.

Pada akhirnya daerah yang didiami orang Samin luput dari penjajahan. Uniknya lagi, masyarakat Samin tidak mengetahui saat Indonesia sudah merdeka.

Hal ini dikarenakan mereka terlalu tertutup dan tidak bisa menerima informasi dari luar. Sampai pada akhirnya salah satu pemimpin Samin menemui Presiden untuk memastikan kemerdekaan.

Masyarakat Samin baru mengetahui bahwa Indonesia sudah merdeka pada tahun 1970. Saat sudah mengetahuinya, mereka baru bersedia membayar pajak karena menganggap pajak adalah kewajiban yang harus dibayar kepada pemerintah yang sah.

Meskipun jumlah pengikut suku Samin terus berkurang, tetapi ajaran tentang kebersamaan, kejujuran, kesederhanaan dan anti kekerasan, akan terus ditaati para pengikutnya.

Karena ajaran tentang kebaikan yang dicontohkan orang Samin tetap bisa digunakan sepanjang masa.