6+ Fakta Tentang Jiwa Petarung Suku Nias Yang Sangat Ditakuti

Suku Nias – Beragam karakter khas suku membuat Indonesia menjadi kaya akan tradisi dan kebudayaan. Seperti suku Nias yang dikenal masih teguh memegang nilai adat istiadat sampai era modern seperti sekarang ini.

Semua tradisi yang masih dijalankan hingga kini bertujuan untuk menjaga warisan nenek moyang mereka agar tidak punah.

Salah satu kebudayaan yang paling dikenal dari masyarakat pulau Nias adalah tradisi bertarung. Pada zaman dulu, para petarung Nias selalu berusaha mati-matian untuk mempertahankan wilayahnya agar tak direbut penguasa.

Hingga perang besar sering tidak bisa terhindarkan. Inilah fakta-fakta unik lain mengenai kebiasaan tersebut.

Jiwa Petarung yang Sudah Mendarah Daging

Suku Nias

Petarung Suku Nias

Kebiasaan bertarung masyarakat Nias ternyata sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu. Bahkan sejak zaman megalitikum pada 13.000 tahun yang lalu, orang-orang Nias sudah sangat akrab dengan petarungan dan peperangan.

Bagi masyarakat Nias, harga diri merupakan hal yang paling penting hingga rela berperang demi menjaganya.

Kebanyakan perang yang terjadi untuk tujuan mempertahankan wilayah. Seperti penguasa suatu desa yang akan bertarung dengan penguasa lain yang ingin menjajah wilayahnya.

Namun ada juga petarungan untuk tujuan lain. Masyarakat Nias juga mudah terlibat pertarungan yang sengit untuk memburu kepala manusia. Nantinya kepala manusia itu digunakan untuk ritual.

Selain untuk dua kepentingan di atas, orang Nias juga kerap berperang untuk menjaga warganya. Pada masa lampau, banyak orang Nias yang diculik untuk dijadikan budak di wilayah Sumatera bagian utara atau diperjual belikan di wilayah Aceh dan Padang.

Orang-orang Nias ini akhirnya tidak segan untuk memulai perang pada penyusup agar warganya tetap aman dari penculikan.

Wilayah Paling Sulit Ditaklukan

Peta Suku Nias

Peta Suku Nias

Penjajah Belanda pada masa lampau terkenal sangat mudah menguasai Indonesia. Terbukti dari hampir seluruh wilayah Indonesia berada dalam kekuasaan Belanda.

Terlebih Belanda berkuasa di Indonesia dalam jangka waktu yang sangat lama. Sejarah penjajah Belanda memang menjadi sejarah yang paling panjang hingga masih terus teringat sampai sekarang.

Namun ternyata mudahnya Belanda menguasai wilayah-wilayah di Indonesia tidak berlaku di pulau Nias. Orang Nias yang terkenal garang dan suka berperang berhasil membuat Belanda takut dan hampir gagal menguasai wilayah tersebut.

Ternyata wilayah Nias yang cukup kecil dibanding pulau lain tidak menjamin masyarakatnya mudah ditaklukan.

Penduduk Nias berkali-kali berhasil memukul mundur Belanda yang ingin menguasainya. Mereka melakukan pertarungan habis-habisan untuk melumpuhkan pasukan Belanda.

Pulau Nias sempat menjadi neraka bagi Belanda karena sulitnya dikalahkan. Belanda sampai tak mampu masuk terlalu dalam ke wilayah tersebut karena para petarung siap menyerangnya dengan kejam.

Terhitung dalam sejarah, Belanda sampai melakukan tiga kali ekspedisi militer untuk menguasai Nias. Ketiganya terjadi pada tahun 1756, 1855 dan 1856.

Ekspedisi militer itu diharapkan bisa mengalahkan pemimpin Nias dan membuatnya menyerah pada Belanda. Nyatanya ketiga ekspedisi militer itu juga tetap tidak membuahkan hasil bagi Belanda.

Belanda harus mengakui kehebatan dan ketangguhan penguasa Nias. Sampai Belanda memberikan julukan “De Verdijver der Hollanders” yang artinya engusir orang-orang Belanda.

Sayangnya, Nias benar-benar bisa ditaklukan Belanda pada 1912 setelah selama ratusan tahun bertarung secara sengit. Nias benar-benar pejuang yang sangat mengagumkan.

Tari Perang sebagai Tradisi Khas Nias

Tari Perang Suku Nias

Tari Perang Suku Nias

Ternyata masyarakat Nias tidak hanya dikenal sebagai masyarakat yang suka bertarung. Kesenian daerah mereka juga masih berkaitan erat dengan tradisi tersebut.

Tari tradisional Nias banyak mengadopsi dari kebiasaan bertarung hingga disebut sebagai tari perang. Tari ini awalnya memang muncul dari tradisi bertarung masyarakat Nias.

Tari perang itu disebut juga tari Foluaya. Tari perang Foluaya menggambarkan sejarah peperangan suku Nias yang dulu sempat terjadi.

Sama halnya seperti prajurit yang tengah berperang, penari tari Foluaya juga mengenakan pakaian perang lengkap dengan atribut bertarung seperti tameng, pedang dan tombak sebagai alat pertahanan.

Sebelum tarian ini tercipta, dulunya pemimpin desa sering mengumpulkan pemuda untuk dilatih perang. Pemuda yang terpilih akan dikelompokkan menjadi prajurit yang bertugas menjaga keamanan desa.

Saat tradisi bertarung sudah mulai pudar di masyarakat, gerakan perang yang lincah kemudian diubah menjadi gerakan tari yang dinamis.

Tradisi Suku Nias Lompat Batu yang Bergengsi

Tradisi Suku Nias Lompat Batu

Selain kebiasaan bertarung, pulau Nias juga sangat terkenal dengan tradisi lompat batunya. Dalam bahasa Nias, tradisi ini disebut dengan istilah Hombo Batu.

Awalnya, tradisi Hombo Batu digelar sebagai ajang pembuktian kematangan dan kedewasaan bagi para pemuda Nias. Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berubah menjadi ajang ketangkasan.

Hombo Batu menjadi tradisi untuk menguji mental dan fisik para pemuda Nias. Mereka harus melompati susunan batu megalitikum setinggi 2 meter dan panjang 60 cm serta lebar 90 cm tanpa alat bantu apapun.

Melewatinya tentu tidak mudah. Tapi siapapun yang berhasil melompati batu itu dianggap telah meraih prestasi tertinggi.

Setiap pemuda Nias sudah pasti menginginkan prestasi yang bergengsi tersebut. Untuk mewujudkannya, pemuda Nias sudah melatih diri sejak usia 7 tahun hingga 12 tahun.

Tradisi ikonik khas Nias ini diadakan di Desa Bawo Mataluo atau Bukit Matahari.

Garis Keturunan Suku Nias yang Berpengaruh

Terkenal sebagai pejuang tangguh, ternyata tidak semua laki-laki di suku Nias bisa melakukan Hombo Batu. Konon katanya, keberhasilan melompati susunan batu itu dipengaruhi oleh faktor keturunan.

Pemuda yang bisa dengan mudah melakukan lompat batu berarti dilahirkan dari ayah dan kakek yang dulunya juga mahir dalam tradisi ini.

Dengan kata lain, meskipun sudah berlatih sangat keras itu tidak menjamin pasti berhasil melakukan lompat batu.

Karena itulah sebelum melakukannya, warga Nias selalu melakukan ritual untuk memohon doa restu pada roh leluhur mereka. Ritual tersebut dilakukan agar tradisi lompat batu bisa berjalan dengan lancar.

Rumah Adat Suku Nias dengan Struktur yang Kuat

Rumah Adat Suku Nias

Sepertinya masyarakat Nias memang terlahir sebagai petarung sejati. Fakta ini cukup terbukti dari struktur rumah adat mereka yang berbeda dari kebanyakan rumah adat di wilayah lain.

Omo Sebua, sebutan bagi rumah adat orang Nias ini dibangun dengan sangat kuat. Uniknya, kekuatan Omo Sebua justru diciptakan dari desain bangunan tanpa menggunakan paku.

Omo Sebua didesain khusus tidak hanya sebagai tempa tinggal tapi juga sebagai rumah perlindungan dari musuh jika sewaktu-waktu datang serangan perang.

Tiang Omo Sebua terbuat dari kayu ulin yang kokoh dan tahan lama. Keunikan lain rumah ini yaitu akses masuknya yang cukup kecil karena mengantisipasi masuknya musuh ketika terjadi pertarungan antar suku.

Tampilan khas rumah adat Nias bisa dilihat dari atapnya yang curam dan ketinggian mencapai 16 meter.

Selain berfungsi sebagai rumah perlindungan dari musuh, Omo Sebua juga dibangun sangat kuat dan tahan terhadap gempa karena pondasi rumah terbuat dari lempengan batu besar dan balok-balok diagonal.

Masyarakat Indonesia secara keseluruhan mengenal suku Nias sebagai suku petarung. Kemampuan orang-orang Nias ini juga telah diakui dunia internasional.

Banyak fakta yang membuktikannya dan salah satunya adalah sulitnya Belanda menaklukan wilayah pulau ini pada masa penjajahan.