7+ Hal Penting untuk Diketahui mengenai Suku Gayo

Suku Gayo – Keberagaman Indonesia dapat terlihat dari Sabang sampai Merauke. Berbeda pula yang ditempati, berbeda tradisi pula yang dijalankan masyarakatnya.

Sekumpulan masyarakat yang menganut kebudayaan tertentu disebut dengan suku. Ada banyak suku yang menjadi kekayaan Indonesia, salah satunya adalah suku Gayo.

Masyarakat Gayo mendiami dataran tinggi Gayo di Provinsi Aceh. Karena Aceh merupakan provinsi dengan dominan penduduk muslim, maka masyarakat Gayo juga sangat berpegang teguh pada agama Islam.

Tradisi dan kebudayaannya berkaitan erat dengan nilai-nilai agama. Inilah beberapa poin penting mengenai masyarakat Gayo.

Asal Usul dan Persebaran Suku Gayo

Asal Usul Suku Gayo

Asal Usul Suku Gayo

Sebuah suku yang menjadi penduduk tetap wilayah tertentu dulunya pasti merupakan penduduk pendatang. Seperti halnya Gayo yang dikenal sebagai suku khas Aceh ternyata juga memiliki nenek moyang dari negeri lain.

Gayo diperkirakan tergolong ras Proto Melayu yang berasal dari India. Kedatangan bangsa ini diprediksi sekitar 2000 tahun sebelum masehi.

Gayo memang merupakan suku yang dominan di Provinsi Aceh. Tapi bukan berarti semua orang adalah adalah warga Gayo.

Masyarakat Gayo tersebar di beberapa wilayah di provinsi Aceh. Populasi suku ini yang mencapai 85.000 jiwa tersebar di wilayah Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues.

Selain tiga wilayah tersebut, sebagian lagi masyarakat Gayo juga menempati wilayah Aceh Timur, yaitu di Peunaron, Kecamatan Serba Jadi, dan Simpang Jernih.

Meskipun disebut satu suku, ternyata masyarakat Gayo dibedakan menjadi 3 kelompok besar dengan wilayah tinggal yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Ciri Fisik Orang Gayo

Ciri Fisik Orang Gayo

Ciri Fisik Orang Gayo

Seperti yang telah disebutkan di atas, masyarakat Gayo terdiri dari 3 kelompok yaitu masyarakat Gayo Laut, masyarakat Gayo Lues dan masyarakat Gayo Blang.

Masyarakat Gayo Laut mendiami daerah Bener Meriah dan Aceh Tengah. Sedangkan masyarakat Gayo Lues menempati wilayah Gayo Lues dan Aceh Tenggara.

Kelompok Gayo Blang bermukim di wilayah kecamatan Aceh Tamiang. Ketiga kelompok suku tersebut secara umum memiliki aturan dan tradisi yang sama dalam beberapa hal.

Perbedaan yang bisa dilihat dari ketiganya adalah dialek bahasa daerah yang dipakai. Cara penuturan dan intonasi bicara memiliki perbedaan dari kelompok satu dengan yang lain.

Ciri khas orang Gayo asli adalah memiliki warna kulit yang gelap dan cenderung hitam. Umumnya orang Gayo asli juga mempunyai tubuh yang tidak terlalu tinggi alias pendek.

Selain itu ciri fisik yang sangat mudah dikenali dari orang Gayo asli adalah rambutnya yang keriting. Ketiga ciri ini merupakan kekhasan utama yang paling terlihat dari orang Gayo.

Bahasa Suku Gayo

Bahasa Gayo

Bahasa Gayo

Secara umum, suku Gayo baik itu kelompok Gayo Lues, Gayo Laut maupun Gayo Blang menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa Gayo.

Bahasa Gayo tersebut memiliki keterikatan dengan bahasa suku Batak di Karo, Sumatera Utara karena memang wilayahnya berdekatan. Bahasa dua suku ini juga dikelompokkan dalam rumpun bahasa Austronesia.

Melanjutkan pembahasan tentang perbedaan kelompok Gayo pada poin sebelumnya, dialek yang digunakan bisa berbeda antar wilayah.

Dialek yang bervariasi ini terjadi karena pengaruh dari luar. Bahasa Gayo yang dipakai di Lokop sedikit berbeda dengan bahasa Gayo yang ada di Gayo Kalul, Linge, Gayo Lut, dan Gayo Lues karena lebih didominasi wilayah Aceh Timur.

Dialek berbeda juga hadir di wilayah lain. Bahasa Gayo di Aceh Tamiang sedikit banyak dipengaruh budaya Melayu, karena lebih dekat ke Sumatera Utara.

Kemudian Gayo Lues lebih dipengaruhi bahasa Alas dan bahasa Karo karena lebih banyak berinteraksi dengan kedua suku tersebut. Apalagi komunitas Gayo juga banyak terdapat di Aceh Tenggara.

Variasi dialek dalam bahasa Gayo sama sekali tidak menghambat komunikasi. Orang Gayo terkenal sebagai masyarakat yang mudah menyesuaikan diri dengan ragam dialek.

Jadi ketika orang dari wilayah tertentu pergi ke luar daerahnya, ia masih bisa berkomunikasi dengan baik. Perbedaan lainnya juga ada di kosa kata namun dengan pengucapan yang hampir sama.

Sejarah Kerajaan Suku Gayo

Kerajaan Suku Gayo

Kerajaan Suku Gayo

Tercatat dalam sejarah, masyarakat Gayo mendirikan kerajaan Linge pada abad 11 dipimpin oleh Sultan Makhdum Johan Berdaulat Mahmud Syah dari Kesultanan Perlak.

Informasi ini diperoleh dari keterangan Raja Uyem dan anaknya Raja Cik Bebesen yang merupakan Raja Anta. Selain itu informasi ini juga didapat dari Zainuddin, yaitu raja-raja keturunan Kejurun Bukit.

Raja Linge pertama disebut memiliki 4 orang anak. Anak tertua perempuan bernama Empu Beru atau Datu Beru. Anak-anak lain yaitu Sebayak Lingga (Ali Syah), Meurah Johan (Johan Syah) dan Meurah Lingga (Malamsyah).

Sebanyak Lingga merantau ke Tanah Karo dan mendirikan negara sendiri di sana kemudian dikenal dengan nama Raja Lingga Sibanyak.

Sama halnya dengan Meurah Johan yang juga mengembara. Ia menuju Aceh Besar dan mendirikan kerajaan yang bernama Lam Krak atau Lam Oeii atau yang dikenal dengan Lamuri atau Kesultanan Lamuri.

Sedangkan Meurah Lingga tinggal di Linge, Gayo, yang selanjutnya menjadi raja Linge turun-temurun dan menerukan generasi.

Kehidupan Sosial

Rumah Adat Suku Gayo

Rumah Adat Suku Gayo

Masyarakat suku Gayo hidup dalam komunitas lebih kecil yang disebut kampong. Masing-masing kampong dikepalai oleh seorang gecik.

Kumpulan beberapa kampong disebut dengan kemukiman dan dipimpin oleh seorang mukim. Unsur kepemimpinan Gayo disebut sarak opat dengan tingkatan reje (raja), petue (petua), imem (imam), dan rayat (rakyat).

Garis keturunan yang dianut adalah sistem patrilineal. Sistem perkawinan yang berlaku berdasarkan tradisi eksogami belah dengan adat menetap setelah menikah yang patriokal atau matriokal.

Itu berarti pasangan pengantin yang baru menikah bisa menentukan ingin tinggal di keluarga istri atau keluarga suami.

Kelompok kekerabatan paling kecil di masyarakat Gayo dikenal dengan nama sara ine atau keluarga inti. Perkumpulan beberapa keluarga inti disebut sara dapur.

Dahulu, sara dapur tinggal bersama dalam sebuah rumah yang disebut sara umah. Beberapa rumah panjang tergabung menjadi satu klan.

Di era modern ini, sudah banyak keluarga inti yang mendiami rumah sendiri. Hal ini dikarenakan sekarang kemandirian sebuah keluarga menjadi harga diri.

Banyak juga pasangan yang berkerja dalam bidang-bidang yang lebih modern sehingga lebih nyaman jika tinggal sendiri. Sekarang kondisinya sudah jauh berbeda dengan masa lampau yang suka bertani, berkebun dan beternak.

Kebudayaan Suku Gayo

Kebudayaan Suku Gayo Tari Saman

Tari Saman

Bentuk kesenian Gayo yang paling terkenal juga merupakan kesenian terkenal dari wilayah Aceh yaitu Tari Saman.

Kesenian tersebut sebagai bentuk hiburan masyarakat serta sarana untuk mengembangkan fungsi ritual dan mempertahankan struktur sosial masyarakat.

Jenis tari lain juga tak kalah populer seperti Tari Bines, Tari Guel, dan Tari Munalu.

Orang Gayo menganut norma-norma kesopanan dan nilai luhur dengan sangat patuh. Nilai-nilai tersebut menjadi acuan dalam bertingkah laku dan bermasyarakat.

Mereka menerapkan norma disiplin, ketertiban, setia kawan, gotong royong dan rajin.

Sebagai salah satu suku di Indonesia, suku Gayo bisa menjadi panutan dalam bermasyarakat. Mereka masih memegang teguh agama sebagai pondasi utama dalam kehidupan.

Selain itu mereka juga menerapkan nilai-nilai kebaikan dalah kehidupan sehari-hari.