Kipung, Empunya Senjata Tradisional Sulawesi Utara

Senjata Tradisional Sulawesi Utara – Provinsi Sulawesi Utara terletak di ujung utara pulau Sulawesi. Berbatasan dengan Samudera Pasifik, Laut Maluku, Teluk Tomini, Provinsi Gorontalo dan Filipina.

Sulawesi Utara memiliki ragam kebudayaan dan adat istiadat. Diantaranya adalah rumah adat, lagu adat, pakaian adat dan senjata tradisional Sulawesi Utara yang beragam.

Jumlah penduduknya sekitar 2.771.159 dengan tingkat keanekaragaman etnis dan suku budaya yang tinggi. Provinsi ini terdiri dari 6 agama dan agama Kristen yang mendominasi. Memiliki lebih dari 10 suku yang tersebar di seluruh wilayah Sulawesi Utara.

Perekonomian Kampung Langenang

Walaupun letaknya berdekatan dengan laut, sumber perekonomian warganya tidak hanya berkutat di sektor perikanan dan budidaya perairan saja. Tetapi juga unggul di bidang tekstil dan kerajinan logam khususnya.

Salah satu tempat kerajinan logam yang tersohor di wilayah Sulawesi Utara adalah milik Suku Sanger berda di Kampung Langenag, Pulau Sanger, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kurang lebih butuh waktu 20-30 menit untuk sampai di sana dari Kota Tahuna menggunakan moda transportasi darat.

Mengenal Kipung Suku Sanger

Mengenal Kipung Suku Sanger

Mengenal Kipung Suku Sanger

Di kampung Langenang, Pulau Sanger, Kepulauan Sangihe, para empu atau biasa disebut kipung berkumpul. Kampung yang juga terkenal sebagai pusat penyebaran Islam Tua Masade ini sudah menjadi tempat rujukan jika ingin membuat senjata tajam tradisional khas Sulawesi Utara.

Orang-orang biasa menjuluki hasil produk Suku Sanger ini dengan ‘peda sanger’.

Para kipung yang bermukim di pulau ini merupakan anak cucu nenek moyang mereka yang juga seorang pandai besi khusus untuk memasok persediaan senjata tajam tradisional Kerajaan Sangihe seperti tombak, keris, pedang, parang, tameng dan lainnya.

Keahlian mereka dapatkan dari warisan leluhur. Leluhur mereka mengajari cara menempa besi panas sejak mereka duduk di bangku sekolah dasar. Maka tidak heran jika hampir seluruh rumah-rumah warga di Kampung Langenang ini terdapat bengkel-bengkel pembuatan senjata tradisional.

Karena keahlian dan profesi ini dilakukan sejak turun temurun maka sebanyak 80% pria dewasa warga Sangihe dari total 600 jiwa ini serius menekuni bidang pembuatan kerajinan logam ini.

Mereka menjadikan pekerjaan kipung sebagai sumber utama penghasilan, membiayai kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak-anak mereka dari tempaan besi panas yang dibentuk setiap hari.

Setiap harinya 142 kipung yang tersebar ke 71 bengkel kerja di Kampung Langenang selalu meramaikan suara riuh besi ditempa karena pesanan puluhan hingga ratusan parang, pedang, pisau dan senjata tajam lainnya menanti.

Permintaan pesanan tidak hanya dari warga lokal saja, tetapi sampai luar kota, provinsi bahkan mancanegara.

Para konsumen membeli tidak hanya untuk dijadikan senjata, tetapi juga sebagai koleksi. Para kipung memasok bahan baku pembuatan senjata mereka berupa pegas mobil dari Kota Manado. Menurutnya jenis besi terbaik ada pada pegas mobil dan hanya bisa dijangkau di Kota Manado.

Baca juga : Senjata Tradisional Indonesia

Pedang Legendaris Kinawalang

Pedang Legendaris Kinawalang

Senjata Tradisional Sulawesi Utara

Tempaan kipung mampu menghasilkan pedang legendaris bernama pedang Kinawalang. Pedang tersebut merupakan salah satu senjata tradisional Sulawesi Utara.

Dipercaya memiliki kekuatan gaib dan sakti yang bisa mengeluarkan api dan terbang sendiri. Pedang bertuankan Raja Tabukan, David Papukule Sarapil terkenal sangat ditakuti perompak mangindano.

Menjadi kipung tidak bisa sembarangan, harus punya kewajiban moral menahan diri dari segala perbuatan buruk. Karena lingkungan kerja mereka dikeliingi senjata tajam. Kalau kelepasan sedikit bisa-bisa nyawa melayang.

Selain itu prosesi penempaan besi menjadi senjata tajam tidak boleh asal. Karena mereka harus menghitung hari baik supaya leluhur mereka dapat memberikan petunjuk dan nyawa atas senjata tersebut.

Proses Pembuatan Senjata

Proses Pembuatan Senjata Sulawesi Utara

Senjata Tradisional Sulawesi Utara

Proses pembuatan senjata ini memiliki beberapa tahapan. Pertama, memotong bahan baku yang berasal dari besi pegas mobil dipotong bagian demi bagian sesuai dengan kebutuhan dan permintaan.

Kedua, membentuk besi yang telah dipanaskan untuk dibengkokkan sambil ditempa. Ketiga, besi yang sudah melalui dua proses tersebut kemudian dicelupkan ke dalam oli dingin untuk dikeraskan.

Keempat, mengerinda sesuai bentuk, menentukan tingkat ketajaman sesuai kebutuhan. Terakhir, besi yang telah digerinda di sepuh.

Harga produk senjata tajam maupun senjata tradisional desa langenang sangihe ini beragam untuk parang yang digunakan sebagai alat pertanian harganya sekitar 30 ribu rupiah sedangkan untuk senjata berkisar antara 1,5-6 juta rupiah. Bahkan di beberapa market place harganya bisa mencapai 14 juta rupiah untuk sebuah souvenir berbentuk senjata.

Baca juga : Senjata Tradisional Sumatera Barat

Ragam Senjata Tradisional Produksi Kampung Langenang

Beberapa jenis senjata tradisional Sulawesi Utara yang ditempa oleh kipung Suku Sanger, Kepulauan Sangihe adalah bara, peda, sabel, tombak dan perisai. Salah satu produk yang terkenal lainnya adalah Bara Sangihe.

Bara adalah senjata tradisional yang berasal dari Kepulauan Langenang, Kepulauan Sangihe. Tampilannya seperti pedang dengan bentuk bilah yang unik karena ujungnya bercabang dan bergerigi persis seperti penampakan mulut buaya muara ketika menganga.

Tidak hanya pada bilahnya saja, gagang pegangan yang terbuat dari kayu juga memiliki cabang. Bara Sangihe terkenal sebagai senjata milik pahlawan nasional Sulawesi Utara kelahiran 1950, Hengkeng U Nang. Tidak heran jika senjata tradisional ini menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Utara.

Selanjutnya ada peda dan sabel, peda adalah senjata tradisioal sejenis parang. Walau sama-sama berjenis parang yang terbuat dari besi dan gagangnya terbuat dari kayu, namun kegunaan mereka berbeda berdasarkan panjang pendeknya.

Peda merupakan parang yang pendek berukuran 50 cm. Digunakan masyrakat setempat untuk bercocok tanam, menyiangi enau. Sedangkan sabel parang yang ukurannya panjang digunakan untuk berperang. Panjang sabel mencapai 1-1,5 m dan bercabang bagian ujungnya.

Luju, adalah senjata tradisional masyarakat Gayo. Ada dua macam jenis luju, yakni luju arang dan luju naru. Bentuknya menyerupai pedang sabet khas Jawa.

Selain itu bentuknya membungkuk dengan mata bilah yang tajam pada satu sisi, sementara sisi lainnya tumpul. Pada umumnya luju berukuran panjang 70 cm dan lebar 4,5 cm.

Selanjutnya adalah tombak yang memiliki bentuk secara umum sama dengan tombak lainnya yakni memiliki mata yang runcing dan tajam pada bagian ujung.

Gagangnya terbuat dari kayu sepanjang 1-1,5 m. tombak digunakan untuk menyerang musuh dalam jarak dekat maupun jauh.

Terkahir adalah perisai, merupakan salah satu senjata adat Sulawesi Utara yang berfungsi sebagai penangkis dan pelindung diri dari serangan musuh.

Senjata ini terbuat dari kayu berlapis logam yang diolah dan dibentuk berbentuk persegi panjang dan diberi ukir-ukiran maupun hiasan dengan motif daun atau binatang.

Baca juga : Senjata Tradisional Sumatera Selatan

Berikut Gambar Senjata Tradisional Sulawesi Utara

1. Pedang Bara Sagihe

Pedang Bara Sagihe Sulawesi Utara

Pedang Bara Sagihe Sulawesi Utara

2. Senjata Tradisional Sulawesi Utara Peda

Sejata Tradisional Peda Sulawesi Utara

3. Pedang Sabel

Pedang Sabel

4. Keris Sulawesi Utara

Keris Sulawesi Utara

5. Perisai Senjata Tradisional Sulawesi Utara

Perisai Senjata Sulawesi Utara

6. Parang Senjata Tradisional Sulawesi Utara

Parang Minahasa

Baca juga : Senjata Tradisional Sumatera Utara

Perkembangan Kipung dari Tahun ke Tahun

Perkembangan Kipung dari Tahun ke Tahun

Untuk lebih menguatkan eksistensinya, Kampung Langenang, tempat para kipung bermukim ini digadangkan menjadi pusat industri pandai besi pada tahun 2015.

Pemerintah provinsi berkomitmen akan memberikan dukungannya untuk industri kecil menengah dengan menerapkan program one village one product alias satu desa satu produk.

Demi mendukung jaminan keselamatan dan keamanan para kipung. Pada tahun 2019 kampung Langenang dicanangkan sebagai kampung Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (SJSK).

Hal ini disambut baik oleh 142 kipung kampung Langenang tersebut. Harapannya tidak akan ada kehawatiran lagi resiko menganggur akibat kecelakaan kerja.

Kampung Langenang adalah saksi bisu warisan budaya tidak hanya berupa artefak saja tapi bisa jadi berupa keahlian, seperti halnya leluhur yang mewariskan keahlian menempa besi menjadi senjata tajam hingga melahirkan kipung muda yang handal.

Akibatnya perekonomian berkembang menjadi industri senjata tradisional Sulawesi Utara dan kebudayaan tetap lestari.