Senjata Tradisional Sulawesi Selatan Penjelasan Lengkap Berserta Gambarnya

Banyaknya jumlah senjata tradisional Sulawesi Selatan merupakan simbol identitas masing-masing daerah di provinsi ini.

Tidak hanya digunakan sebagai alat tempur, senjata tradisional khas Sulawesi Selatan juga dijadikan sebagai simbol fungsi sosial dan budaya masyarakat setempat.

Fungsi sosial senjata tradisional pada masyarakat Sulawesi Selatan membedakan masyarakatnya ke dalam empat kasta, yakni anakarung (kaum bangsawan), todoceng (kaum terpelajar), tosama (rakyat biasa) dan ata (budak).  Berikut ulasan beberapa senjata tradisional khas Sulawesi selatan.

Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Senjata Sulawesi Selatan

Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

1. Senjata Tappi’

Senjata Tappi’

Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Tappi’ adalah senjata tradisional pada daerah Sulawesi Selatan sekilas tampak mirip dengan keris yang berada di Jawa. Yang membedakannya adalah jumlah lekuknya yang berjumlah ganjil yakni, 7, 9 atau 13. Material pembuatannya pun menjadi keunikan keris ini. Ia terbuat dari batu meteor yang ditempa. Itulah mengapa keris ini tidak terdeteksi metal detektor.

Setiap tappi’ memiliki pesonanya masing-masing. Dilihat dari pamor yang terdapat pada tapi’ tersebut. Sang panrita (empu) atau pandai besi yang membuat tappi’ tidak mampu memberikan pamor. Tappi’ akan dengan sendirinya menghasilkan pamor setelah selesai ditempa.

Senjata tradisional ini digunakan untuk menusuk lawannya. Senjata tradisional semacam keris ini biasa digunakan untuk pertempuran perorangan maupun massal. Dalam hal lain keris juga digunakan sebagai pelengkap pakaian adat laki-laki Bugis.

Bagi kebanyakan laki-laki Bugis penggunaan tappi’ ini menyimbolkan teman sejati yang tidak akan pernah meninggalkan tuannya dan juga sebagai identitas pemiliknya. Tappi’ bisa dijadikan sebagai pengganti diri. Contohnya jika pemilik tappi’ ini akan menikah dengan keturunan todeceng, tosama atau ata maka tappi’ bisa mewakilkan keberadaan pemiliknya saat upacara pernikahan.

Dalam kasus lain juga tappi’ sering ditinggal oleh pemiliknya di rumah. Dengan tujuan ketika ia pergi merantau tappi’ akan menggantikan dirinya untuk menjaga keselamatan istri. Fungsi lainnya adalah, tappi’ juga merupakan senjata pusaka warisan yang akan ditinggalkan kepada anak laki-laki sulung pemiliknya.

Baca juga : Senjata Tradisional Indonesia

2. Senjata Adat Sulawesi Selatan Kawali (Badik)

Badik Kawali Asli

Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Kawali atau nama lainnya badik adalah senjata tradisional Sulawesi Selatan berbentuk parang. Pada umumnya kawali berbentuk runcing. Bilah kawali hanya tajam pada satu sisi. Bentuknya berisi dan menjorok ke luar pada bagian tengah bilah.

Fungsi sosial kawali sama dengan tappi’. Yang membedakannya adalah ruang lingkup penggunaannya. Badik pada masyarakat Sulawesi Selatan terbagi menjadi beberapa jenis. Berikut penjelasan masing-masing jenis badik.

Badik Makasar, memiliki nama yang sama dengan daerah asalnya. Pemberian nama ini menegaskan bahwa senjata ini adalah milik daerah makasar yang khas.  Sehingga daerah lain tidak bisa mengklaimnya.

Badik Makasar memiliki bilah yang pipih, perut buncit dan tajam serta ujung yang runcing. Badik yang berbentuk seperti ini biasa disebut dengan nama Badik Sari. Badik Sari terdiri dari pangulu (gagang badik), sumpa’ kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik).

Badik Raja, badik yang kerap digunanakan oleh raja-raja Bone ini dipercaya dibuat oleh makhluk halus khusus untuk keturunan raja. Karenanya badik yang berasal dari Kajuara, Kabupaten Bone ini memiliki nilai sakral yang sangat tinggi.

Badik ini memiliki ukuran panjang 20-25 cm. Bentuknya seperti badik lampo battang yang memiliki bilah bungkuk dan besar pada bagian perutnya. Badik ini terbuat dari logam kualitas tinggi dan kerap dilengkapi dengan pamor (hiasan) indah di ujungnya. Pamor yang biasa digunakan adalah pamor timpalaja atau pamor mallasoancale.

Badik Lagecong, senjata ini merupakan senjata kehormatan masyarakat Bugis. Badik lagecong memiliki racun pada bilahnya sehingga sangat mematikan. Senjata kecil sejengkalan tangan pria dewasa ini digunakan hanya untuk keadaan terdesak.

Badik Luwu, berasal dari Kabupaten Luwu pada masa silam. Sebagian masyarakat bugis percaya apabila badik ini disepuh dengan kemaluan perawan maka lawannya akan mati dalam sekali tusuk meski memiliki ilmu kebal. Bentuknya bengkok seperti bungkuk kerbau (mabukku tedong), bilahnya lurus merucing di ujung.

Badik Lompo Battang, adalah badik yang memiliki arti perut besar dalam bahasa Bugis. Pemberian nama ini karena bentuk badik ini yang besar bilahnya. Bentuk ujungnya menukik membentuk huruf ‘J’ dan hanya tajam pada satu sisi bilah.

Baca juga : Senjata Tradisional Sulawesi Utara

3. Senjata Tradisioanal Khas Sulawesi Selatan Bessing (Tombak)

Bessing (Tombak)

Bessing (Tombak)

Bessing adalah senjata tradisional Sulawesi Selatan berbentuk tombak. Senjata ini digunakan untuk menyerang  lawan dengan ditusukkan ke badan lawan atau dilontarkan jika lawan berada di kejauhan. Sama halnya dengan fungsi umum senjata tradisional lain, bessing juga digunakan dalam pertempuran dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

Fungsi lainnya adalah sebagai pusaka, dimana setiap laki-laki bugis pasti memiliki senjata ini. Bessing dihiasi dengan ornamen-ornamen yang membuatnya beda dari bessing satu dengan yang lainnya. Ornamen pada bessing menunjukkan kasta pemiliknya.

Bessing yang berbalut emas sudah bisa dipastikan milik kaum anakarung (bangsawan). Sedangkan bessing berbalut perak adalah milik kaum todeceng (kaum terpelajar). Bessing berbalut suasa dimiliki oleh kaum tosama (rakyat biasa). Sedangkan yang tanpa ornamen adalah milik kaum ata (budak).

Bessing ini merupakan senjata turun-temurun yang akan diturunkan kepada anak laki-laki sulung. Jika posisi ayah tidak ada karena meninggal atau merantau maka anak laki-laki pemegang bessing inilah yang akan dijadikan rujukan jika terjadi apa-apa di dalam keluarga.

4. Senjata Tradisional Sulawesi Selatan Alameng Sudang

Alameng Sudang

Alameng Sudang – Senjata Tradisional Sulawesi Selatan

Senjata yang disebut juga sebagai sonri atau salapu ini menyerupai pedang fungsinya dalam peperangan adalah untuk membacok lawan. Ia merupakan senjata sakral masyarakat Sulawesi selatan. Bilah senjata ini tajam ke bawah tumpul di atas.

Alameng kini tidak diproduksi lagi. Kalaupun kini anda melihatnya beredar di wilayah Sulawesi Selatan, maka bisa dipastikan alameng itu adalah hasil warisan. Alameng yang populer di masyarakat adalah milik Kerajaan Awang Pone yang disebut lateariduni.

Dinamai seperti itu karena dulu mitosnya alameng milik Raja Awang Pone muncul kembali karena tidak sudi menjadi bangkai ketika dikuburkan bersama mayatnya. Raja Bone yang mengetahui hal tersebut kemudian menamainya lateariduni (tidak sudi dikuburkan).

Semenjak saat itu alameng merupakan senjata tradisional turun temurun Kerajaan Bone. Siapa saja yang menyelipkan alameng tersebut di pinggangnya maka ia adalah Baginda Raja Tuan Agung Bone.

Baca juga : Senjata Tradisional Sulawesi Tengah

5. Kanna (Perisai)

Kanna (Perisai)

Kanna (Perisai)

Adalah alat yang berguna untuk mempertahankan diri. Kanna memiliki bentuk bulat dan persegi. cara menggunakan senjata ini ialah dengan menggerakkan kanna sesuai arah pergerakan lawan.  Senjata tradisional ini bisa dijumpai di museum Lapawawoi, Watampone II Bone.

Dalam fungsi sosial senjata kanna ini terbagi menjadi dua berdasarkan bentuknya. Bentuk kanna menunjukkan strata sosial pemiliknya. Kanna yang berbentuk bulat digunakan oleh para bangsawan yang dihiasi pamor berupa emas, perak dan logam lainnya.

Tingginya kedudukan bangsawan ini dilihat dari banyaknya campuran pamor yang terpakai. Sedangkan kanna yang berbentuk persegi panjang ini digunakan oleh laskar rakyat Sulawesi Selatan.

7. Waju Rante (Baju Besi)

Waju Rante (Baju Besi)

Waju Rante (Baju Besi)

Waju Rante adalah alat untuk mempertahankan diri selain kanna. Ia digunakan untuk melindungi tubuh pemiliknya. Benda ini digunakan sebagaimana memakai kemeja. Bagi masyarakat Sulawesi Selatan penggunaan waju rante ini bukan hanya sebagai pelindung.

Lebih dari itu waju rante digunakan sebagai unjuk status sosial diri. Karena benda ini sekarang jarang ditemui maka untuk dapat melihat langsung alat perlindungan diri ini adalah dengan cara mengunjungi Museum Lagaligo Ujung Pandang.

Itulah beberapa senjata tradisional Sulawesi Selatan. Masih banyak lagi senjata-senjata tradisional khas daerah ini, namun yang disebutkan di atas adalah senjata yang terkenal dan mencuat dipermukaan masyarakat. Selain karena mitosnya juga karena senjata ini masih dijadikan sebagai senjata pusaka warisan.