4+ Jenis Senjata Pusaka Tradisional Bangka Belitung Sejarah dan Kegunaannya

Senjata Tradisional Bangka Belitung – Di balik keindahan wisata pantai pasir putihnya, Bangka Belitung memiliki keragaman budaya dan adat istiadat.

Selain tari, lagu dan alat musik daerah, bentuk kebudayaan provinsi ini yang masih eksis pada kegiatan sehari-hari yaitu adanya karya seni budaya berupa senjata tradisional Bangka Belitung.

Nama Senjata Tradisional Bangka Belitung

Sejak zaman peradaban penggunaan senjata sudah digunakan oleh manusia primitif untuk memudahkan kegiatan. Hal ini sesuai dengan salah dua dari tujuh unsur budaya yang disebutkan oleh Koentjaraningrat.

Pertama, kebudayaan dipengaruhi oleh sistem ekonomi dan mata pencaharian. Dimana kita melakukan aktifitas berburu, bercocok tanam, beternak, berdagang untuk mengumpulkan makan dan bertahan hidup.

Kedua, kebudayaan dipengaruhi oleh unsur sistem teknologi dan peralatan hidup. Hal ini meliputi kegiatan produksi, distribusi, transportasi, komunikasi, membangun tempat berlindung yaitu rumah, melindungi diri dengan senjata, dan lain sebagainya.

Konsep penggunaan senjata terbagi menjadi dua dilihat dari siapa penggunanya. Perempuan biasa menggunakan senjata untuk memasak dan bercocok tanam, sedangkan laki-laki menggunakannya untuk berburu, melindungi dan mempertahankan diri untuk melawan dari serangan musuh atau binatang buas.

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa dominasi penggunaan senjata oleh laki-laki juga sebagai simbol maskulinitas dan paternalistik.

Penggunaan senjata pada laki-laki menjadikannya terlihat jantan, tegas dan keras. Paternalistik merupakan pemahaman budaya yang meyakini peran laki-laki sebagai sosok ayah, pelindung, pencari nafkah, pemimpin dan pengayom dalam keluarga.

Khasanah keaneka ragaman senjata tradisional di Indonesia diwarnai oleh ragam budaya. Kemajemukan budaya juga terlihat pada provinsi Bangka Belitung yang memiliki jumlah penduduk 1.432 juta jiwa dengan beragam etnis dan agama. Ini berdasarkan data statistik penduduk tahun 2017.

Kemajemukan masyarakat Bangka Belitung hasil dari asimilasi dan akulturasi yang  berkontribusi terhadap keragaman khasanah budaya.

Itulah mengapa senjata tradisional Bangka Belitung memiliki sedikit kemiripan dengan senjata tradisional daerah lain.

Dahulu senjata tradisional Bangka Belitung digunakan sebagai senjata perang antar kerajaan dan melawan penjajah. Kini senjata tradisional Bangka Belitung kembali digunakan hanya untuk kepentingan sehari-hari.

Provinsi penghasil timah ini memiliki 3 macam jenis senjata tradisional, diantaranya parang, kedik dan siwar. Masing-masing memiliki ciri khas bentuk dan manfaatnya sendiri-sendiri. Berikut penjelasannya.

Baca juga : Senjata Tradisional Indonesia

Parang Senjata Tradisional Bangka Belitung

Senjata Tradisional Bangka Belitung

Senjata Tradisional Bangka Belitung

Parang adalah senjata tradisional Bangka Belitung yang memiliki bentuk khas seperti layar kapal. Pada kegiatan sehari-hari ia digunakan sebagai alat untuk menebas semak belukar.

Parang terlihat seperti golok tapi memiliki perbedaan yang terletak pada ujungnya yang lebar dan cenderung berat. Berguna untuk memotong dan menebas sasarannya dengan cepat.

Selain itu bobot pada ujung parang berguna untuk meningkatkan kekuatan saat digunakan. Ketika mengayunkannya ia dapat memberikan tekanan pada pemakainya sehingga lebih mantap menancap tajam.

Parang yang memiliki panjang 40 cm juga bisa digunakan untuk menebang pohon. Dalam keadaan mendesak, masyarakat Babel biasa juga menggunakan parang sebagai senjata perkelahian jarak pendek.

Kini bentuk parang di pasaran tidak seotentik mestinya. Di Belitung parang jenis Badau dibuat khusu untuk orang-orang khusus. Orang-orang yang biasanya memiliki kedudukan dan dihormati.

Dimanapun tempatnya senjata tradisional selalu dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Begitupun dengan senjata tradisional Bangka Belitung ini. Parang sudah layaknya keris yang mengandung unsure klenik.

Jika di Belitung parang kenal dengan jenis Badau. Namun di Bangka parang di kenal dengan sebutan parang Belitung. Sama halnya dengan parang Badau, parang Belitungpun diyakini memiliki nilai mistis.

Produksi parang di Belitung diungkap oleh W.S Stapel pada tahun 1938 dalam bukunya yang berjudul Aanvullende Gegevens Geschiedenis Billiton. Ia mengungkapkan bahwa hasil dagang utama dari pulau Belitung adalah besi, perkakas besi, beras dan dammar.

Lebih kuat lagi ia mengungkapkan bahwa hubungan dagang antara Batavia dan Belitung bertahan cukup lama, yaitu selama 25 tahun. Tercatat dalam kurun waktu tersebut sering mengirimkan tongkang bersama awak kapan berisi 10.000 muatan kapak dan parang.

Selama 25 tahun hubungan dagang itu ternyata terdapat lebih dari 7 bengkel pandai besi yang memroduksi parang di desa Badau. Keberadaan bengkel pandai besi inilah yang menjadi sejarah pengerjaan logam di Bangka Belitung.

Tahun 2015 senjata tradisional Bangka Belitung parang menginspirasi TNI AL untuk menamai Kapal Rudal Cepat (KRC-40), yaitu KRI Parang-647.

Penamaan ini bertujuan untuk menghayati nilai-nilai nasionalisme para pahlawan yang berjuang melawan penjajah menggunakan senjata parang selain bambu runcing.

Baca juga : Senjata Tradisional Banten

Senjata Tradisional Bangka Belitung Siwar

Senjata Siwar Panjang Bangka Belitung

Senjata Siwar Panjang Bangka Belitung

Senjata tradisional siwar memiliki bentuk hampir mirip dengan parang. Perbedaannya jika parang memiliki ujung yang lebar maka siwar memiliki ujung yang kecil dan meruncing. Ada 2 jenis siwar yaitu siwar panjang dan siwar pendek.

Siwar panjang biasa dijadikan sebagai alat bela diri masyarakat Bangka Belitung. Ukurannya ringan dan pipih. Cocok untuk digunakan pertarungan jarak dekat dan cepat. Bentuk siwar hampir mirip dengan senjata tradisional Kalimantan Barat yaitu mandu.

Siwar dibuat tidak sembarangan, ia sangat menyesuaikan penggunanya. Dia yang memiliki kasta sosial yang tinggi yang dipercaya mampu memakainya.

Keunikan lainnya adalah memiliki dua mata sisi yang tajam. Senjata jenis ini terkenal digunakan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah.

Siwar pendek pun sama fungsinya digunakan untuk bertarung oleh pendekar jaman dulu. Bentuknya lebih pendek dan terdapat lengkungan pada bagian tengahnya untuk menyayat kulit, daging dan menusuk lawan.

Senjata ini seperti keris yang memiliki ujung runcing. Ia merupakan senjata pamungkas pendekar Bangka Belitung saat.

Sama halnya dengan senjata parang, pada tahun 2015 TNI AL juga menggunakan senjata siwar dalam memberi nama Kapal Cepat Rudal (KCR-40), yakni KRI Siwar-646.

Harapannya prajurit KRI Siwar-646 dapat menyelesaikan permasalah di laut dengan cepat, tajam dan baik. Serta menerapkan ketekunan, ketelitian dan kesabaran.

Siwar Pendek

Senjata Siwar Pendek Bangka Belitung

Senjata Siwar Pendek Bangka Belitung

Baca juga : Senjata Tradisional Jawa Barat

Senjata Tradisional Kedik

Senjata Kedik

Senjata Kedik

Senjata kedik dalam keseharian biasa digunakan untuk membersihkan ilalang dan rumput kecil yang sulit dijangkau.

Penggunanya adalah perempuan karena bobotnya yang tergolong ringan. Kedik memiliki bentuk menyerupai arit. Senjata jenis ini sangat pasaran karena sering ditemui di toko pertanian dan perkakas.

Ia kerap digunakan untuk memangkas perdu pada kebun lada. Cara menggunakannya tidak jauh berbeda seperti arit. Penggunanya harus jongkok bergerak mundur atau menyimpang. Lalu kedik diayunkan kedalam.

Beberapa senjata tradisional memang memiliki kemiripan bentuk, walaupun begitu tetap saja berbeda. Bentuk yang tercipta disesuaikan dengan keadaan geografi masyarakat sekitar, siapa penggunaannya dan manfaatnya.

Bersyukur saat ini kebudayaan senjata tradisional Bangka Belitung masih dilestarikan. Kamu bisa melihat koleksi ketiga senjata di atas di museum Tanjung Pandan yang terletak di Jalan Melati No. 41A, Kabupaten Belitung.

Museum yang dulu bernama museum Geologi, didirikan oleh arkeolog Autria bernama Rudi Osberger pada tahun 1962.

Biaya masuk yang di tawarkan cukup murah, yakni Rp3.000,- rupiah saja dan buka pada jam 8 pagi sampai jam 7 malam.

Membutuhkan waktu 10 menit dari pusat kota. Selain melihat senjata tradisional Bangka Belitung. Kamu juga bisa melihat samurai tahun 1514 yang merupakan koleksi tertua museum ini.

Baca juga : Senjata Tradisional Jawa Timur

Senjata Tradisional Lengkong

Senjata Lengkong

Senjata Lengkong

Bila dilihat mirip sekali dengan sabit ataupun celurit dari madura. Tetapi, perbedaannya merupakan lekukan celurit ataupun sabit pada bagian tengah nampak sangat cekung dan bersudut tumpul.

Bagian ujung dari celurit pula sangat tajam. Sebaliknya lengkong bangka bisa sobat amati di atas. Lekukan pada bagian tengah bersudut lancip.

Lengkong digunakan untuk pertempuran tidak sering dekat. Sama semacam celurit, sasaran utama nya merupakan menyabet badan musuh paling utama tangan dan kepala dan bagian kaki. Sehingga musuh tidak bisa bergerak untuk memakai senjata miliknya.

Tetapi dikala ini, lengkong bergeser guna jadi perlengkapan pertanian untuk menebas ilalang ataupun menyabet padi dan gulma tumbuhan liar.