7 Senjata Tradisional Aceh yang Tajam tapi Menawan

Senjata Tradisional Aceh – Aceh adalah daerah berjuluk serambi mekkah, yang jadi tujuan wisata berkat keindahan alamnya dan ada pula museum tsunami di sana.

Selain cantik, di daerah itu juga memiliki kekayaan budaya dan senjata kuno yang masih dikoleksi oleh warganya. Ada beberapa senjata tradisional Aceh seperti rencong, peudoh, dan pudoi yang desainnya menawan.

Senjata tradisional ini awalnya muncul di abad ke-12, pada masa kesultanan Aceh yang gemilang. Jika rencong awalnya dibuat untuk membela diri ketika ada tindak kejahatan, maka akhirnya dipakai juga untuk melawan para penjajah.

Senjata Tradisional Aceh

Saat ini senjata tradisional masih dilestarikan untuk penghias rumah atau suvenir. Mari kita simak beberapa contohnya.

1. Rencong Senjata Tradisional Aceh

Rencong Senjata Tradisional Aceh

Rencong Senjata Tradisional Aceh

Rencong adalah senjata tradisional Aceh yang paling terkenal, bahkan daerah ini juga jadi disebut sebagai kota rencong.

Pada waktu kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah, senjata ini digunakan untuk melindungi jika ada lawan yang ingin menyerang. Tak heran pria dewasa selalu membawa rencong di pinggang saat keluar rumah, pada masa itu.

Rencong ukurannya cukup kecil, tidak sepanjang pedang, namun bilahnya cukup tajam. Dahulu, senjata ini digunakan mulai dari anggota kerajaan hingga rakyat biasa.

Jika bangsawan memakai rencong bersepuh emas, maka kaum proletar memiliki senjata yang terbuat dari kuningan atau besi putih. Rencong emas milik Sultan sekarang masih ada.

Senjata rencongjuga bisa diukir untuk memperindahnya. Bedanya dengan keris atau wedhung yang diukir, rencong ditatah dengan motif ayat-ayat al-quran.

Ukiran menambah keindahannya dan harganya juga jadi lebih mahal. Sebagai senjata yang bernilai seni tinggi, rencong juga diusulkan jadi salah satu warisan kebudayaan dunia, ke UNICEF.

Baca juga : Senjata Tradisional Indonesia

2. Senjata Tradisional Aceh Meriam

Senjata Tradisional Aceh Meriam Sri Rambai

Senjata Tradisional Aceh Meriam Sri Rambai

Saat perang, selain menggunakan rencong dan pudoi, rakyat Aceh juga memakai meriam untuk menyerang musuh. Senjata ini sudah ada sejak masa pemerintahan Sultan Aceh bernama Iskandar Muda.

Bahkan meriam yang dulu dipakai untuk melawan kompeni, sekarang masih ada. Namanya Sri Rambai, letaknya di pantai dan menghadap laut Penang.

Jika dulu digunakan untuk pertarungan mempertahankan wilayah Aceh dari Belanda, maka sekarang meriam dialihfungsikan.

Bukan untuk menyerang musuh, tapi untuk melontarkan mercon. Jelang lebaran, suasana makin meriah berkat dentuman yang terdengar dari ledakan meriam. Jangan kaget saat akan berhari raya Idul Fitri di Nanggroe Aceh Darussalam.

3. Peudeung Senjata Tradisional

Peudeung Senjata Tradisional Aceh

Peudeung Senjata Tradisional Aceh

Peudeung adalah bahasa aceh untuk pedang. Ya, ini adalah serapan dari pedang Eropa tapi disesuaikan dengan postur orang Indonesia. Saat akan berangkat ke medan peperangan, pria dewasa di Aceh pada masa itu membawa 2 jenis senjata tajam.

Di tangan kiri mereka menggenggam rencong kuningan atau besi putih, dan di tangan kanan membawa pedeung.

Ada 3 jenis senjata tradisional Aceh pedeung yang diklasifikasikan dari bentuk pegangannya. Di antaranya pedeung Ulee Meu-Apet, Tumpang Jingki, dan Ulee Tapak Guda.

Sedangkan pedeung juga bisa dibagi berdasarkan asalnya, yakni pedeung Habasyah alias dari Abesiana (sekarang di benua Afrika), pedeung Portugis (atau Portugal) , dan pedeung Turki.

Pedeung Ulee Tapak Guda punya pegangan mirip dengan tapak kaki kuda. Sedangkan Ulee Meu Apet gagangnya ada penahan agar mudah digenggam dan tak mudah jatuh saat ditepis lawan.

Bentuk pegangannya unik, seperti terbelah namun membuatnya gampang dipegang. Pedeung Tumpang Jingki mirip juga tapi ujungnya lurus dan ada ukiran pada sarungnya.

4. Siwah Senjata Tradisional Aceh

Senjata Tradisional Aceh Siwah

Beda dengan rencong yang bisa dimiliki siapa saja, mulai dari Sultan hingga rakyat jelata. Siwah dikhususkan untuk para bangsawan. Dahulu, senjata ini dibawa oleh para ulee balang (hulubalang) kerajaan dan diselipkan di balik pinggang.

Saat perang Aceh, ia digunakan untuk menyerang kawanan musuh dari jarak dekat. Ketajamannya membuat musuh takut.

Senjata ini dihias dengan ukiran dan ada yang disepuh emas.Ada pula yang diberi batu permata untuk mempercantik tampilannya.

Siwah yang diberi intan berlian biasanya hanya digunakan sebagai asesoris, tidak dibuat berperang. Ia menyimbolkan bahwa pembawanya berdarah biru. Saat ini siwah digunakan sebagai hiasan dan juga lambang prestise.

Meskipun bentuknya mirip rencong, namun siwah lebih panjang dan lebar. Saat ini, senjata khas Aceh itu sudah mulai langka di pasaran.

Setelah masa perang melawan kompeni, jumlahnya menurun, mungkin karena dulu hanya sedikit orang yang memilikinya. Tak heran jika ada siwah asli yang dijual di pasaran, akan segera dibawa lagi ke Aceh, tempat lahirnya.

5. Pudoi Senjata Tradisional

Senjata Tradisional Aceh Pudoi

Senjata Tradisional Aceh Pudoi

Pudoi adalah jenis pisau tradisional yang bentuk fisiknya mirip dengan rencong. Bedanya, senjata ini memiliki bilah yang lengkungannya tidak setajam rencong. Selain itu, pegangan pada pudoi hanya lurus saja, seolah-olah ia belum dibikin hingga sempurna betul, tapi sudah dibawa ke medan perang. Dalam bahasa tradisional Aceh, pudoi berarti belum selesai.

Jika peudeung berukuran panjang, maka pudoi jauh lebih kecil. Ia bisa mudah diselipkan di balik pinggang, lalu digunakan untuk melawan saat diserang oleh bala tentara kompeni.

Meskipun cukup mungil, bilahnya sangat tajam dan bisa membawa pasukan menuju kemenangan. Sarung pudoi biasanya terbuat dari bahan kayu yang diamplas sampai halus.

6. Senjata Meucugek

Senjata Tradisional Aceh Meucugek

Senjata Tradisional Aceh Meucugek

Meucugek adalah salah satu jenis rencong, ukurannya juga tidak terlalu besar. Namanya berasal dari kata cugek yang artinya perekat.

Memang ada sejenis perekat khusus pada gagangnya, yang membuat tangan prajurit menggenggamnya dengan mantap dan tidak mudah jatuh atau direbut oleh musuh. Meskipun berukuran kecil, namun bilahnya tajam.

Senjata tradisional ini terbuat dari bahan baja putih yang ditempa, hingga bilahnya berkilau dan mampu menebas musuh dengan ketajamannya.

Bentuk meucugek menyerupai huruf L. Filosofinya, huruf L ini berasal dari lafaz huruf hijaiyah β€˜Lam’ pada kata bismillah. Jika Anda ingin melihat meucugek yang asli, datanglah ke museum Aceh.

7. Senjata Meupocok

Senjata Meupocok

Senjata Meupocok

Meupocok adalah salah satu jenis rencong. Bedanya, lebar bilahnya lebih sedikit, dan hiasan pada sarungnya bermotif lain.

Ciri khas senjata ini adalah adanya ukiran di bagian ujungnya. Selain itu, di bagian atas gagang meupocok yang bentuknya melengkung, ada lapisan emas yang menaikkan nilai keindahannya. Sarung meupocok bermotif garis-garis warna coklat.

Sekarang, meupocok tak lagi digunakan untuk melindungi diri, karena perang sudah lama selesai. Namun ia masih eksis karena punya beberapa fungsi lain.

Senjata ini digunakan sebagai pelengkap pada upacara adat tradisional di Aceh. Selain itu, ia juga hadir di pertunjukan kesenian pada provinsi NAD, dan juga beberapa acara seremonial lainnya.

Aceh adalah daerah yang kaya akan warisan budaya dan tradisi. Masyarakatnya masih memelihara berbagai senjata tradisional antara lain rencong, pudoi, meriam, dan lain-lain.

Dulu mereka digunakan untuk melawan para penjajah, namun kini ada yang dijadikan alat untuk memeriahkan hari raya lebaran, seperti meriam. Mana senjata yang paling Anda suka?