5 Pakaian Adat Sulawesi Barat yang Khas dengan Corak Etnik

Pakaian Adat Sulawesi Barat – Negara Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Setiap suku yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda antara satu suku dengan suku yang lain.

Perbedaan dapat terjadi pada bentuk dan bahan pakaian, corak pada pakaian, warna pakaian, serta penggunaan aksesoris sebagai tambahan, seperti dalam pakaian adat Sulawesi Barat.

Pakaian adat dari setiap provinsi memiliki cerita dan sejarah tersendiri, hingga melahirkan pakaian adat yang berbeda.

Perbedaan inilah yang membuat Indonesia kaya akan adat dan budayanya.

Macam-macam Pakaian Adat Sulawesi Barat

Pakaian Adat Sulawesi Barat

Berikut 5 pakaian adat dari Sulawesi Barat yang memiliki ciri khas dan keistimewaan yang perlu untuk dipelajari.

Pakaian Adat Pattuqduq Towaine untuk Perempuan

Pattuqduq towaine merupakan pakaian adat yang dikenakan oleh perempuan suku Mandar di Sulawesi Barat. Pakaian adat ini biasanya digunakan oleh perempuan suku Mandar saat upacara pernikahan, selain itu pakaian adat pattuqduq towaine juga digunakan saat menarikan tarian patuqdu (tari tradisional Sulawesi Barat).

Perbedaan dalam penggunaan pakaian adat saat kegiatan tari dan menikah yaitu terletak pada aksesoris pelengkapnya.

Saat melakukan tarian pattuqduq, jumlah aksesoris yang dikenakan yaitu 18 aksesoris, sedangkan aksesoris yang dikenakan saat diadakan upacara pernikahan berjumlah 24 aksesoris.

Aksesoris tradisional yang dikenakan oleh perempuan suku Mandar terdiri dari pakaian utama, aksesoris penghias kepala, aksesoris perhiasan badan, dan aksesoris perhiasan tangan dengan jumlah yang telah ditetapkan sebagai aksesoris tradisional dalam penggunaan pakaian adat.

Pakaian adat perempuan suku Mandar menggunakan kain atau sarung sutra berwarna hitam maupun warna putih.

Corak tenun yang biasa digunakan oleh perempuan suku Mandar yaitu motif kotak-kotak dengan hiasan berwarna emas pada garis-garisnya. Atasan yang dikenakan dalam pakaian adat ini yaitu kebaya berlengan pendek.

Bahan kebaya yang digunakan dalam pakaian adat suku Mandar ini umumnya terbuat dari bahan sutra atau dapat menggunakan kain bertekstur halus dan tidak tembus pandang.

Ukuran baju yang dikenakan umumnya melampaui pinggul. Baju kebaya yang digunakan dalam pakaian adat suku Mandar ini juga dihiasi dengan kepingan-kepingan logam berwarna emas.

Hiasan berupa kepingan-kepingan emas pada kebaya ini akan dipasang di seluruh pinggiran kebaya. Selain itu, baju kebaya juga dihias dengan kepingan bulat yang dipasang di seluruh permukaan kebaya.

Penggunaan pakaian adat ini juga sering dipadukan dengan selendang tipis serta tali dari kain yang digunakan untuk mengencangkan ikatan pada sarung.

Pakaian adat Sulawesi Barat ini selain digunakan sebagai upacara pernikahan juga digunakan saat menghadiri upacara adat.

Perempuan suku Mandar membuat sanggul sedikit rendah dengan hiasan yang terbuat dari tusuk sanggul emas dan kembang goyang untuk hiasan di bagian kepala.

Saat menghadiri upacara resmi, umumnya perempuan suku Mandar memasangkan tambahan aksesoris sebagai hiasan kepalanya.

Hiasan tambahan yang digunakan antara lain rambut yang disasak lebih tinggi yang disebut dengan sigara, sanggul yang dihias dengan bunga seruni dan bunga serampa. Sandal yang digunakan biasanya menggunakan selop maupun pantofel.

Baca juga : Pakaian Adat Riau

Pakaian Adat Lelaki Suku Mandar

Pakaian adat yang dikenakan oleh suku Mandar di Sulawesi Barat cukup sederhana bila dibandingkan pakaian perempuan suku Mandar. Pakaian adat yang dikenakan lelaki suku Mandar terdiri dari setelan baju menyerupai jas dengan model kerah berdiri dengan warna hitam, celana hitam sebagai bawahannya, serta kain sarung yang dililitkan sebagai bawahan.

Penggunaan pakaian adat bagi lelaki suku Mandar ini dengan celana panjang yang ditutup oleh sarung sebatas lutut, selanjutnya yaitu penggunaan kopiah sebagai penutup kepala yang disebut dengan songkok tobone. Warna songkok tobone disesuaikan dengan warna baju bagian atas dan jas atau sarung yang dikenakan.

Aksesoris yang dikenakan lelaki suku Mandar yaitu rantai emas dengan liontin dan medalion yang terbuat daru taring macan. Selain terbuat dari taring macan, aksesoris medalion juga dapat dibuat dari taji ayam. Aksesoris pelengkap ini diselipkan pada saku jas dengan bagian rantainya dibiarkan menjuntai keluar. Alas kaki yang digunakan yaitu pantofel maupun sandal kulit.

Pakaian adat lelaki suku Mandar yang terkesan sederhana dengan dominasi busana warna hitam ini semakin menambah kegagahan bagi pemakainya.

Pakaian adat lelaki Sulawesi Barat ini melambangkan bahwa setiap lelaki suku Mandar harus gesit dalam bekerja dan gesit dalam bersikap.

Baca juga : Pakaian Adat Papua

Pakaian Adat Sepa Tallung Buku

Sepa tallung buku merupakan pakaian adat yang digunakan khusus laki-laki suku Toraja di Sulawesi Barat. Pakaian adat sepa tallung buku ini merupakan pakaian yang memiliki panjang hingga lutut. Penggunaan pakaian adat ini dilengkapi dengan aksesoris kaundre, lipa, gayang, dan lain sebagainya.

Pakaian adat sepa tallung buku merupakan pakaian adat suku Toraja yang masih ada dan dilestarikan hingga saat ini. Hal ini karena bagi PNS laki-laki yang berada di Sulawesi Selatan diwajibkan mengenakan pakaian adat ini setiap hari Sabtu.

Baca juga : Pakaian Adat Maluku

Pakaian Adat Pokko

Pakaian adat pokko merupakan pakaian adat yang dikenakan oleh perempuan suku Toraja di Sulawesi Barat. Pakaian ini merupakan baju dengan lengan pendek yang didominasi oleh warna kuning, merah, dan putih. Pakaian ini memiliki hiasan etnik khas Sulawesi Barat yang cukup unik serta memiliki nilai seni yang cukup tinggi.

Pakaian adat pokko merupakan pakaian adat suku Totaja yang masih digunakan dan dilestarikan hingga saat ini. hal ini karena setiap perempuan yang bekerja sebagai PNS di Sulawesi Barat diwajibkan menggunakan pakaian adat pokko setiap hari Sabtu.

Pakaian Adat Kandore

Kandore merupakan pakaian adat Sulawesi Barat yang penggunaannya khusus untuk perempuan. Pakaian adat kandore merupakan pakaian yang cukup menarik dengan hiasan yang terbuat dari manik-manik untuk dijadikan kalung, gelang, ikat pinggang, serta ikat kepala. pakaian Kandore merupakan pakaian adat yang masih dikenakan dan dilestarikan hingga saat ini.

Baca juga : Pakaian Adat Kalimantan Timur

Sarung Kain Tenun dan Kain Tenun Toraja

Sarung tenun Toraja merupakan pakaian adat dari Sulawesi Barat yang bahan utamanya terbuat dari kain tenun.

Kain tenun dari Toraja ini umumnya digunakan oleh tetua adat saat memimpin upacara kematian di kecamatan Rantepao atau dikenal dengan upacara Rambu Solo’.

Biasanya kain tenun yang dipakai oleh tetua adat yaitu sarung yang berwarna putih. Hal ini memiliki tujuan untuk menunjukkan status sosial kebangsawanan.

Namun sangat disayangkan  bahwa keberadaan kain tenun dari Toraja sekarang sangat langka dan hampir punah.

Sama seperti sarung tenun, kain tenun merupakan kain yang berasal dari suku Toraja yang hingga saat ini masih dipakai oleh masyarakat di Toraja.

Berbeda dengan sarung kain tenun yang digunakan tetua adat, kain tenun Toraja ini merupakan tanda kasih sayang dari saudara-saudara suku Toraja yang telah meninggal.

Kelima pakaian di atas merupakan pakaian adat Sulawesi Barat yang memiliki keunikan tersendiri, yang tentu berbeda dengan provinsi lain.

Pakaian adat merupakan salah satu kebudayaan warisan leluhur yang harus dijaga kemurnian dan kelestariannya. Hal ini bertujuan agar kebudayaan di Indonesia tetap terjaga dan tidak punah seiring berjalannya waktu.

Baca juga : Pakaian Adat Kalimantan Selatan