4 Pakaian Adat Gorontalo yang Memukau dan Unik

Pakaian Adat Gorontalo – Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal dengan suku dan budaya yang beragam.

Salah satunya yaitu pakaian adat setiap provinsi di Indonesia yang memiliki ciri khas unik serta memiliki nilai filosofis seperti pakaian adat Gorontalo. Pakaian adat merupakan simbol dan sebagai media pengenalan ragam budaya ke mancanegara.

Setiap pakaian adat di Indonesia memiliki keistimewaan dan keunikan masing-masing, seperti pakaian adat di Gorontalo yang memiliki keunikan dengan setiap warna pakaian adat yang dikenakan.

Setiap warna yang digunakan pada pakaian adat dari Gorontalo ini memiliki nilai filosofi masing-masing.

Macam-macam Pakaian Adat Gorontalo

Pakaian Adat Gorontalo

Pakaian Adat Gorontalo

Berikut 4 pakaian adat dari Gorontalo yang memukau.

Pakaian Adat Biliu untuk Perempuan

Biliu merupakan salah satu pakaian adat pernikahan untuk perempuan di Gorontalo. Pakaian adat ini terdiri dari blus dan dipadukan dengan rok panjang sebagai bawahannya.

Pakaian adat yang dikenakan oleh perempuan Gorontalo terdiri dari tiga bagian, yaitu baju kurung dengan lengan panjang yang disebut galenggo.

Bagian lain yang digunakan pakaian pernikahan selain galenggo yaitu rok yang digunakan di bagian dalam yang sering disebut dengan bulluwa lo rahasia.

Selanjutnya yaitu busana yang digunakan paling luar dengan tambahan ornamen berwarna keemasan yang sering disebut dengan alumbu atau bide.

Baca juga : Pakaian Adat Betawi

Perlengkapan Pakaian Adat Biliu untuk Perempuan

Penggunaan pakaian adat biliu pada perempuan ditambahi dengan hiasan dada yang dibuat dari bahan beludru berwarna hitam dengan ornamen keemasan yang disebut dengan kububu loduhelo.

Selain itu pada ujung lengan pakaian adat ini juga dilengkapi dengan hiasan peetu berwarna hitam keemasan dan gelang yang berukuran besar.

Aksesoris yang digunakan oleh perempuan saat mengenakan pakaian adat biliu ini yaitu sebagai berikut. Baya lo boute merupakan aksesoris yang dikenakan perempuan sebagai ikat kepala yang memiliki simbol jika mempelai perempuan dalam waktu dekat akan diikat (hak dan kewajiban sebagai seorang istri).

Aksesoris kedua yaitu penggunaan tuhi-tuhi, merupakan gafah yang memiliki jumlah tujuh yang menjadi simbol tujuh kerajaan besar yang bersahabat dengan suku Gorontalo.

Ketujuh kerajaan yang dijadikan simbol tersebut antara lain Gorontalo, Limboto, Bulonga, Limutu, Hulontalo dan Atingola.

Aksesoris pelengkap selanjutnya yaitu lai lai, merupakan bulu burung berwarna putih yang penggunaannya diletakkan di bagian ubun-ubun yang memiliki simbol budi luhur, keberanian, dan kesucian.

Aksesoris selanjutnya yaitu buohu wulu wawu dehu, merupakan kalung dengan warna keemasan yang memiliki lambang ikatan kekeluargaan antara keluarga kedua mempelai.

Aksesoris selanjutnya yaitu kecubu, merupakan hiasan pernak Pernik yang penggunaannya dilekatkan pada bagian dada mempelai perempuan yang memiliki makna jika perempuan harus kuat saat menghadapi cobaan dalam rumah tangga.

Selanjutnya yaitu etango, merupakan ikat pinggang yang memiliki makna jika perempuan harus memiliki sikap sederhana.

Aksesoris yang digunakan sebagai pelengkap pakaian adat selanjutnya yaitu pateda, merupakan gelang keemasan yang memiliki ukuran cukup lebar dengan makna bahwa perempuan harus membatasi diri agar tidak melakukan tindakan tercela.

Terakhir yaitu luobu merupakan hiasan kuku keemasan yang dikenakan pada jari kelingking dan jari manis.

Baca juga : Pakaian Adat Bangka Belitung

Pakaian Adat Mukuta untuk Lelaki

Mukuta merupakan pakaian adat Gorontalo yang dikenakan oleh lelaki sebagai pakaian pernikahan. Perlengkapan pakaian adat yang dipakai oleh lelaki lebih sederhana dibandingkan dengan pakaian perempuan.

Berikut aksesoris yang dikenakan sebagai pelengkap pakaian adat mukuta.

Aksesoris yang digunakan sebagai pelengkap yang pertama yaitu penutup kepala dengan bentuk menyerupai bulu unggas yang menjulang ke atas serta bagian belakang yang terkulai.

Kedua yaitu pasimeni, merupakan hiasan pakaian yang memiliki simbol keluarga harmonis dan damai. Ketiga yaitu bako, merupakan kalung yang memiliki arti ikatan kekeluargaan kedua mempelai.

Aksesoris keempat yaitu tudung atau disebut dengan laapia bantali sibii yang memiliki arti bahwa seorang lelaki harus memiliki kedudukan tinggi sebagai pemimpin, namun juga harus memiliki sikap lemah lembut seperti bulu unggas.

Baca juga : Pakaian Adat Bali

Pakaian Adat Madipungu

Pakaian adat madipungu merupakan pakaian adat dari Gorontalo yang dikenakan pada saat akad nikah atau dikenal dengan akaji.

Pengantin perempuan akan mengenakan pakaian adat madipungu, baju galenggo maupun boqo tunggohu. Ketiga pakaian adat ini memiliki perbedaan yang terletak pada panjang atau pendeknya lengan baju.

Pakaian madipungu merupakan blus dengan lengan panjang menyerupai baju kurung dengan model leher yang berbentuk huruf V.

Bahan yang digunakan pada pakaian madipungu ini umumnya terbuat dari kain satin, kain beludru, kain brokat, dan bahan kain yang lain. Penggunaan pakaian ini dipadukan dengan sarung atau rok panjang di bagian luar.

Baca juga : Pakaian Adat Jawa Timur

Pakaian Adat Boqo Takowa

Boqo takowa merupakan pakaian adat Gorontalo yang digunakan oleh lelaki saat akad pernikahan atau akaji. Penggunaan pakaian adat boqo takowa ini dipadukan dengan celana panjang atau disebut dengan talala.

Pakaian adat boqo takowa ini memiliki bentuk menyerupai kemeja berlengan panjang dengan kerah baju yang dibentuk berdiri.

Pada bagian baju juga ditambahkan dengan kancing dan tiga saku yang terletak di sebelah kiri atas, sebelah kiri bawah, dan kanan baju. Celana panjang yang dikenakan juga diberi hiasan dengan corak keemasan yang sering disebut phi.

Penggunaan warna celana pada pakaian adat ini umumnya memiliki warna sama seperti warna baju. Warna-warna yang sering digunakan dalam pakaian adat ini yaitu merah, kuning, hijau, ungu, dan merah hati. Selain itu sebagai tambahan, lelaki juga mengenakan penutup kepala yang terlihat indah dengan hiasan berwarna yang disebut payunga.

Aksesoris lain yang dikenakan lelaki dalam pakaian adat ini yaitu ikat pinggang yang terbuat dari emas sepuhan. Selain itu tidak lupa penggunaan patatimbo atau keris pusaka yang biasanya diselipkan pada pinggang bagian depan.

Baca juga : Pakaian Adat Jawa Barat

Filosofi Warna yang Digunakan dalam Pakaian Adat

Pakaian adat dari Gorontalo yang terkenal unik dengan ciri khas warna warni menjadikan pakaian adat ini menarik. Setiap penggunaan warna dalam pakaian adat ini memiliki makna filosofi masing-masing, yaitu sebagai berikut.

Warna merah dalam penggunaan pakaian adat memiliki arti keberanian serta rasa tanggung jawab yang harus dimiliki setiap orang.

Kedua yaitu warna hijau yang digunakan pada pakaian memiliki arti kedamaian, kesuburan, kesejahteraan, dan kerukunan. Ketiga yaitu penggunaan warna ungu dalam pakaian adat di Gorontalo memiliki arti keanggunan dan kewibawaan.

Penggunaan warna kuning emas pada pakaian adat memiliki arti kejujuran, kemuliaan, kesetiaan, dan kebesaran. Warna coklat yang digunakan pada pakaian adat memiliki arti tanah yang dalam maknanya berarti kuburan dan kematian.

Warna putih pada pakaian adat memiliki arti kedukaan dan kesucian. Terakhir yaitu warna hitam yang berarti ketakwaan pada Tuhan.

Keempat pakaian adat di atas merupakan pakaian adat Gorontalo yang memiliki keindahan dan nilai filosofi dalam setiap warna yang dikenakannya.

Pakaian adat merupakan salah satu budaya bangsa yang harus dilestarikan dan dijaga oleh setiap penerus bangsa, agar setiap adat dan budaya di Indonesia terus bertahan dan tidak hilang terkikis zaman.

Baca juga : Pakaian Adat Jawa Tengah