20+ Adab Menuntut Ilmu Terhadap Guru Beserta Penjelasan dan Dalilnya

Adab Menuntut Ilmu

Adab Menuntut Ilmu – Assalamu’alaikum wr wb berjumpa lagi dengan saya. Bagimana sih kabar kalian semua, tentu nya baik semua kan!. Baik temen – temen disini saya akan berbagi sebuah informasi yang menarik dan insyaallah akan bermanfaat bagi kalian semua.

Pengen tau tidak apa informasi nya, tidak sabar ya pastinya temen – temen semua apa sih informasinya ?. Ya, informasinya adalah bagaimana sih cara atau adab menuntut ilmu yang baik sesuai dengan ajaran agama islam.

Langsung saja ya daripada kalian semua penasaran tentang tata cara atau adab ketika Menuntut Ilmu.

Adab Menuntut Ilmu

Adab Menuntut Ilmu

Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang Islam, termasuk di dalamnya masalah adab. Seorang penuntut ilmu harus dapat menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak yang  mulia. Mereka  harus mengamalkan ilmunya dengan menerapkan akhlak yang mulia, baik terhadap dirinya maupun kepada orang lain.

Berikut ini merupakan  adab-adab yang selayaknya diperhatikan ketika seseorang menuntut ilmu syar’i sesuai dengan ajaran islam,

1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu

Dalam menuntut ilmu kita harus selalu ikhlas karena Allah Ta’ala dan seseorang tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat jika mereka tidak ikhlas karena Allah.

Dimana dalam pernyataan ini sudah dijelaskan didalam Surat Al-Bayyinah : 5 yang artinya adalah :

Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar beribadah hanya kepada Allah dengan memurnikan ketaatan hanya kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan memurnikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah:

2. Rajin berdoa kepada Allah swt, dan memohon ilmu yang bermanfaat

Hendaknya setiap penuntut ilmu harus senantiasa memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan memohon pertolongan kepadaNya dalam mencari ilmu serta selalu merasa butuh kepadaNya.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kita agar selalu memohon ilmu yang bermanfaat kepada Allah Ta’ala dan berlindung kepadaNya (Allah) dari ilmu yang tidak bermanfaat, karena banyak kaum Muslimin yang bahkan mempelajari ilmu yang tidak bermanfaat, seperti mempelajari ilmu filsafat, ilmu kalam, ilmu hukum sekuler, dan lainnya.

3. Bersungguh – sungguh dalam kegiatan belajar dan selalu merasa haus ilmu

Dalam menuntut ilmu syar’i diperlukan untuk selalu bersungguh-sunnguh. Tidak layak para penuntut ilmu bermalas-malasan dalam mencari ilmu. Kita akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dengan izin Allah apabila kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu tersebut.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak akan pernah kenyang: yakni (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang serakah  terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi)

4. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat dengn cara betaqwa kepada Allah swt

Seseorang akan dapat  terhalang dari ilmu yang bermanfaat disebabkan banyak melakukan dosa dan maksiat. Sesungguhnya dosa dan maksiat dapat menghalangi ilmu yang bermanfaat, bahkan dapat mematikan hati, merusak kehidupan dan mendatangkan siksa dari Allah swt.

5. Tidak boleh sombong dan tidak boleh  malu dalam mencari  ilmu

Seseorang yang Sombong dan malu akan menyebabkan pelakunya tidak akan mendapatkan ilmu selama kedua sifat itu masih ada dalam dirinya.

Imam Mujahid mengatakan,

لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْىٍ وَلاَ مُسْتَكْبِرٌ

“Sesorang  yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq)

6. Mendengarkan dengan baik pelajaran yang disampaikan oleh guru

Ketika belajar maupun mengkaji ilmu syar’i lebih baik kita harus mendengarkan nya dnegan baik dan diam ketika seorang guru menyampaikan isi materi atau pembelajaran.

7. Diam pada saat pelajaran disampaikan

Ketika belajar maupun mengkaji ilmu syar’i tidak boleh berbicara yang tidak bermanfaat, tanpa ada keperluan, dan tidak ada hubungannya dengan ilmu syar’i yang telah  disampaikan, tidak boleh ngobrol.

8. Berusaha untuk dapat memahami ilmu syar’i yang disampaikan

Kiat memahami pelajaran yang disampaikan oleh seorang guru atau pengajar: mencari tempat duduk yang tepat di hadapan guru, memperhatikan penjelasan guru dan bacaan murid yang berpengalama.

Bersungguh-sungguh untuk mencatat faedah-faedah pelajaran, tidak banyak bertanya saat pelajaran disampaikan, tidak membaca satu kitab kepada banyak guru pada waktu yang sama, mengulang pelajaran setelah kajian selesai dan bersungguh-sungguh mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

9. Menghafalkan ilmu syar;i yang telah disampaikan

Nabi muhammad saw beliau bersabda :

Allah akan memberikan cahaya kepada wajah orang yang telah mendengarkan perkataan, kemudian ia dapat memahaminya, menghafalkannnya, dan menyampaikannya. Banyak sekali orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya. (HR.At-Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut Nab Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah Ta’ala agar Dia memberikan cahaya pada wajah orang-orang yang mendengar, memahami, menghafal, dan mengamalkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka kita telah diperintahkan untuk menghafal pelajaran-pelajaran yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

10. Mengikat ilmu atau pelajaran dengan tulisan

Ketika sedang  belajar, seorang penuntut ilmu harus mencatat pelajaran, poin-poin penting, fawaa-id (faedah dan manfaat) dari ayat, hadits dan perkataan para sahabat serta ulama, atau berbagai dalil bagi suatu permasalahan yang dibawa kan oleh syaikh atau gurunya.

Agar ilmu yang telah disampaikannya tidak akan hilang dan terus tertancap dalam ingatannya setiap kali ia mengulangi pelajarannya.

11. Mengamalkan ilmu syar’i yang sudah dipelajari

Menuntut ilmu syar’i bukanlah tujuan akhir kita, tetapi sebagai pengantar kepada tujuan yang agung, yakni adanya rasa takut kepada Allah, merasa diawasi oleh-Nya, taqwa kepada-Nya, dan mengamalkan tuntutan dari ilmu tersebut.

Dengan demikian, barang siapa saja yang menuntut ilmu bukan untuk diamalkan, niscaya mereka  diharamkan dari keberkahan ilmu, kemuliaan, dan ganjaran pahalanya yang besar.

12. Berusaha mendakwahkan ilmu yang telah dipelajari

Objek dakwah yang paling utama yaitu keluarga dan kerabat kita.

Hal yang harus diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu, apabila dakwah mengajak manusia ke jalan Allah adalah kedudukan yang mulia dan utama bagi seorang hamba, maka hal itu tidak akan terlaksana kecuali dengan ilmu.

Dengan ilmu, seorang dapat berdakwah dan kepada ilmu mereka berdakwah. Bahkan demi sempurnannya dakwah, ilmu itu harus diraih sampai batas usaha yang maksimal.

Selain kita dianjurkan untuk selalu menuntut ilmu karena ilmu sangat penting buat anda semua.

Tapi ketika kita hendak menuntut ilmu anda juga harus selalu menghormati seseorang yang telah mengajarkan ilmu kepada anda semua, siapa lagi kalau tidak seorang guru!

Berikut adalah akan saya bagikan informasi singkat bagaimana tata cara atau adab seorang murid terhadap guru, berikut penjelasannya :

Adab Seorang Murid Terhadap Guru

Adab Menuntut Ilmu

Guru adalah aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan merupakan  ilmu agama yang mulia ini. Para pewaris nabi begitu julukan mereka para pemegang kemulian ilmu agama tersebut.

Ketahuilah anda  para pengajar agama mulai dari yang mengajarkan iqra sampai para ulama besar, mereka semua itu ada di pesan Nabi muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam. Beliau  telah bersabda :

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta yang tidak mengerti hak ulama”

Tersirat dari perkatanya Nabi Muhammad shallahu ‘alaihi wa salam, bahwa mereka para ulama wajib di perlakukan sesuai dengan haknya masing-maing. Akhlak serta adab yang baik adalah kewajiban yang tak boleh dilupakan bagi seorang murid

Guru kami DR. Umar As-Sufyani Hafidzohullah mengatakan bahwa, “Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan dapat menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.

1. Menghormati guru

Para Salaf, adalah salah satu suri tauladan untuk manusia setelahnya telah memberikan contoh dalam penghormatan terhadap seorang guru. Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata, bahwa :

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami ada seekor  burung. Tak satu pun dari kami yang dapat berbicara” (HR. Bukhari).

Berikut adalah tata cara atau adab ketika kita berada di depan guru.

2. Adab Duduk

Dari sahabat nabi muhammad yaitu Syaikh Bakr Abu Zaid Rahimahullah di dalam kitabnya Hilyah Tolibil Ilm mengatakan, “Pakailah adab yang terbaik pada saat kau duduk bersama syaikhmu, pakailah cara yang baik dalam bertanya dan juga mendengarkannya.”

Syaikh Utsaimin kemudian mengomentari perkataan ini, “Duduklah dengan duduk yang beradab, tidak membentangkan kaki, juga tidak bersandar, apalagi saat berada di dalam majelis.”

Ibnul Jamaah berpendapat bahwa, “Seorang penuntut ilmu harus duduk rapi, tenang, tawadhu’, mata tertuju kepada guru, tidak membetangkan kaki, tidak bersandar, tidak pula bersandar dengan tangannya, tidak tertawa dengan keras, tidak duduk di tempat yang lebih tinggi dan juga tidak membelakangi gurunya”.

3. Adab Berbicara

Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan dengan kita berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik mereka layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

Para Sahabat Nabi muhammad  shallahu ‘alaihi wa sallam, muridnya Rasulullah, tidak pernah kita dapati mereka beradab buruk kepada gurunya tersebut, mereka tidak pernah memotong ucapannya atau mengeraskan suara di hadapannya, bahkan Umar bin khattab yang terkenal keras wataknya tidak pernah menarik suaranya di depan Rasulullah, bahkan di beberapa riwayat, Rasulullah sampai kesulitan mendengar suara Umar jika berbicara.

Di dalam hadist Abi Said al Khudry radhiallahu ‘anhu juga menjelaskan,

كنا جلوساً في المسجد إذ خرج رسول الله فجلس إلينا فكأن على رؤوسنا الطير لا يتكلم أحد منا

“Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat seekorburung. Tidak satu pun dari kami yang dapat berbicara” (HR. Bukhari).

4. Adab Bertanya

Bertanyalah kepada para ulama, begitulah pesan Allah, dengan bertanya maka akan terobati kebodohan, hilang kerancuan, serta mendapat keilmuan dari Allah swt.

Tidak diragukan bahwa bertanya juga memiliki adab di dalam Islam. Para ulama telah menjelaskan tentang adab bertanya di dalam bahasan diatas.

Mereka mengajarkan bahwa pertanyaan harus disampaikan dengan cara yang  tenang, penuh kelembutan, jelas, singkat dan padat, juga tidak menanyakan pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.

5. Adab dalam Mendengarkan Pelajaran

Para pembaca, bagaimana rasanya jika kita berbicara dengan seseorang tapi tidak didengarkan pembicaraan kita? Sungguh jengkel  hati ini. Maka bagaiamana perasaan seorang guru jika melihat murid sekaligus lawan bicaranya itu tidak mendengarkan apa yang beliau ucapkan? Sungguh merugilah para murid yang telah membuat hati gurunya menjadi  jengkel.

Agama yang mulia ini tidak pernah mengajarkan adab seperti itu, tidak didapati di kalangan salaf adab yang seperti itu.

Sudah kita ketahui bahwa kisah Nabi Musa yang berjanji tidak mengatakan apa-apa selama belum diizinkan. Juga para sahabat Nabi Muhammad yang diam pada saat  Beliau berada di tengah mereka.

Bahkan di riwayatkan dari Yahya bin Yahya Al Laitsi tidak beranjak dari tempat duduknya saat para kawannya keluar melihat rombongan gajah yang lewat di tengah pelajaran, yahya mengetahui tujuannya duduk di sebuah majelis yaitu mendengarkan apa yang dibicarakan gurunya bukan yang lain.

Apa yang ada dari Yahya bin Yahya katakan jika melihat keadaan para penuntut ilmu saat ini, jangankan segerombol gajah yang lewat, sedikit suarapun akan dikejar untuk dapat mengetahuinya seakan tidak ada seorang guru yang ada di hadapannya, belum lagi yang sibuk berbicara dengan kawan di sampingnya, atau sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

6. Mendoakan guru

Banyak sekali dari kalangan salaf berkata, bahwa

ما صليت إلا ودعيت لوالدي ولمشايخي جميعاً

“Tidaklah aku mengerjakan sholat kecuali aku pasti akan mendoakan kedua orang tuaku dan guru guruku semuanya.”

7. Meneladani penerapan ilmu dan akhlaknya

Adalah suatu keharusan seorang penuntut ilmu untuk mengambil ilmu serta akhlak yang baik dari gurunya.

Sahabat Nabi Muhammad yaitu syaikh Ibnu Utsaimin Beliau berkata, “Jika gurumu itu sangat baik akhlaknya, jadikanlah dia qudwah atau contoh untukmu dalam berakhlak yang mulia.

Namun apabila keadaan malah sebaliknya, maka jangan jadikan akhlak buruknya sebagai contoh untukmu, karena seorang guru dijadikan contoh dalam akhlak yang baik, bukan akhlak buruknya, karena tujuan seorang penuntut ilmu duduk di majelis seorang guru akan bisa mengambil ilmunya kemudian akhlaknya.”

8. Sabar dalam membersamainya

Tidak ada satupun manusia di dunia ini kecuali mereka pernah berbuat dosa, sebaik apapun agamanya, sebaik apapun amalnya nya, sebanyak apapun ilmunya, selembut apapun perangainya, tetap ada kekurangannya. Tetap bersabarlah bersama mereka dan janganlah anda berpaling darinya.

Besar jasa mereka para guru yang telah memberikan ilmunya kepada kita semua, yang kerap menahan amarahnya, yang selalu merasakan perihnya dan menahan kesabaran.

Sungguh tak pantas seorang murid ini melupakan kebaikan gurunya, dan jangan pernah lupa menyisipkan nama mereka di lantunan doa kita semua ya..

Semoga Allah selalu memberikan rahmat dan kebaikan kepada guru guru kaum Muslimin. Semoga kita daptt menjalankan adab adab yang mulia sesorang guru tersebut.

Dan itulah sedikit artikel yang bisa saya sampaikan. Harapannya dengan adanya artikel tentang adab menuntut ilmu ini dapat menambah wawasan dan juga pengetahuan untuk anda semua dan terutama untuk diri saya pribadi. SEKIAN TERIMAKASIH.

20+ Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu Sesuai Dengan Islam

Adab Bertamu

Adab Bertamu – Assalamu’alikum wr wb Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan juga hari akhir maka hendaklah dia menghormati  tamunya.” (HR. Bukhari)

Berikut ini merupakan adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami akan sedikit membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Adab Bagi Tuan Rumah

Adab Bertamu

1.Mengundang Orang Yang Bertakwa

Ketika kita pada saat mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidaklah  engkau berteman kecuali dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Tidak Hanya Mengundang Orang yang Kaya

Tidak mengkhususkan dari kita untuk mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sejelek-jelek makanan merupakan makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim

3. Tidak Memberatkan orangnya

Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya jika diundang.

Jadi, maksud dari kalimat di atas  adalah ketika kita memiliki sebuah acara di rumah. Dan dari kita akan ingin mengundang sesorang, misalanya tetangga kita sendiri, tetapi tetangga yang akan kita undang juga memiliki acara sendiri.

Kita sebagai seorang muslim sebaiknya jangan mengundang orang tersebut karena mungkin akan memberatkan seseorang itu untuk datang ke acara kita.

4. Menyucapkan Selamat Datang

Disunahkan kepada kita semua untuk selalu mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat Nabi yaitu Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau bersabda,

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan juga menyesal.” (HR. Bukhari)

5. Menghormati Tamu 

Menghormati tamu dan juga menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja.

Mungkin kebanyakan dari kita akan menyedikan makanan maupun hidangan yang begitu mewah  akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamun Beliau:

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ

“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian Beliau mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)

6. Tidak Menyajikan Makanan Yang Bermegah-megah

Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk menyajikan makanan yang bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamunya tersebut.

7. Pelayanan Terhadap Tamu

Hendaknya juga, dalam pelayanan tamu diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim maupun muslimah.

8. Mendahulukan Tamu Sebelah Kanan Daripada Sebelah Kiri

Mendahulukan tamu yang ada pada sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal dapat dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.

9. Mendahulukan Tamu Yang Lebih Tua 

Mendahulukan tamu yang lebih tua dari pada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami (Muhammad).” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan bahwa perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.

10. Dilarang Mengangkat Makanan

Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai untuk menikmatinya.

11. Mangajak Berbincang-bincang Yang Menyenangkan

Di antara adab orang yang memberikan hidangan yaitu mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

12. Mendekatkan Makanan Kepada Tamu

Mendekatkan makanan kepada tamu dalam menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ

“Kemudian Nabi Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

13. Mempercepat Menghidangkan Makanan Tersebut

Mempercepat untuk segera menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut adalah penghormatan bagi mereka.

14.Melayani Tamu

Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan yaitu melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.

15. Masa Penjamuan Dengan Tamu

Adapun masa penjamuan tamu merupakan sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ

“Menjamu tamu  merupakan tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”

16. Mengantarkan Tamu Yang Hendak Pulang

Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumahnya jika rumahnya dekat dengan rumah kita.

Adab Bagi Tamu

Adab Bertamu

1.Minta Izin Maksimal Tiga Kali

Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu yaitu cukup tiga kali. Sebagaimana dalam sabda Beliau,

عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع

Dari salah satu Sahabat Nabi yaitu Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk

Terkadang ketika seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya. Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk.

Allah SWt telah berfirman di dalam surat An-Nuur ayat 24-27 yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, tidaklah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. .” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Sebagaimana juga yang terdapat dalam hadits dari sahabat nabi muhammad yaitu Kildah ibn al-ambal radhiallahu’anhu, Beliau berkata,

“Aku telah mendatangi Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi sambil mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), sesuai dengan poin pertama, maka batasannya yaitu tiga kali. Maksudnya yaitu, jika kita telah memberi salam yang ketiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu.

Adapun ketika salam kita telah ada yang menjawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja maupun  jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk.

Mintalah izin terlebih dahulu  untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya.

Hal ini dapat  disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah tersebut.

Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Rasulullah Sahal ibn Sa’adradhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

اِنّما جُعل الاستئذان من أجل البصر

“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin yaitu karena untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu

Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan sehingga dapat mengganggu pemilik rumah. Baik karena keras suara ketukan tersebut  atau cara mengetuknya.

Maka, hendaknya ketukan itu merupakan ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan sang pemilik rumah tersebut.

Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Rasulullah Anas bin Malik radhiallahu’anhu,

“Kami di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)

4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk

Hendaknya posisi berdiri tamu itu  tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk dapat mempersiapkan dirinya dan juga rumahnya dalam menerima tamu.

Sehingga di dalam posisi demikianlah , apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum mereka diizinkan oleh pemilik rumah. Sebagaimana amalan Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Bisyr Beliau berkata,

“Adalah Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud, shohih – lihat majalah Al-Furqon)

5. Tidak Mengintip

Mengintip ke dalam rumah sering sekali  terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini dan juga memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,

“Andaikan ada orang menengokmu di rumah tanpa izin, kalian melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang

Kita harus dapat menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali.

Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya mereka tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam.

Di antara hikmahnya merupakan hal  demi menjaga hak-hak pemilik rumah.

7. Menjawab Dengan Nama yanag Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”

Terkadang si pemilik rumah ingin dapat  mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan nama “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas.

Demikianlah beberapa poin penting yang perlu kita perhatikan agar apa yang kita lakukan ketika bertamu pun sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan mengetahui adab-adab yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga membuat kita lebih lapang kepada saudara kita sebagai tuan rumah ketika ia menjalankan apa yang menjadi haknya sebagai pemilik rumah.

8.Tidak Membedakan Orang Yang Mengundang

Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang telah mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.

9. Niat Untuk Hormat Sesama Muslim

Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda bahwa hormat kita kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan tentang bab atau masalah ini bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

10. Masuk Ketika Sudah Diberi Izin

Masuk jika sudah mendapatkan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:

يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ

11. Hindari Untuk Menghindari Undangan Ketika Kamu Berpuasa

Apabila kalian dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian dari ibadah.

Puasa tidak dapat menghalangi seseorang untuk dapat  menghadiri undangan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ

“Jika salah seorang di antara kamu di undang, maka hadirilah! Apabila mereka puasa, maka doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, maka makanlah!” (HR. Muslim)

12. Tidak Memberatkan Sang Tuan Rumah

Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan sang tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu telah selesai makan, maka keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)

13. Dianjurkan Membawa Hadiah Untuk Tuan Rumah

Sebagai tamu, kita juga dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,

14. Jika Tamu Tidak Diundang

Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, maka ia harus meminta izin kepada tuan rumah terlebih dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ

15. Mendoakan Sang Tuan Rumah

Seorang tamu hendaknya juga mendoakan orang yang telah memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ

“Orang-orang yang telah berpuasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian sendiri. semoga malaikat telah  mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي

“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang yang  telah memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman kepadaku.” (HR. Muslim)

اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah ampuni dosa mereka dan juga kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka semua.” (HR. Muslim)

16. Pualanglah Dengan Lapang Dada

Setelah kalian selesai bertamu maka hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan juga memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

Itulah sedikit artikel saya tentang adab bertamu. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan  atau pengetahuan anda semua tentang adab Bertamu dan memuliakan tamu, terlebih buat saya pribadi. Sekian dan terimakasih.

Unsur Senyawa : Pengertian, Perbedaan, Contoh Beserta Gambarnya

Unsur Seyawa

Unsur Senyawa – Segala macam yang ada di dunia ini merupakan suatu materi yang sangatlah kompleks. Beruntungnya kita karena para ahli telah mengelompokkan materi tersebut ke dalam dua kategori yaitu zat murni dan zat campuran untuk memudahkan kita mempelajari materi-materi tersebut.

Dinamakan zat murni karena terdiri dari satu zat penyusunnya saja dan sering dikatakan dengan zat tunggal. Sedangkan zat campuran merupakan suatu zat yang terdiri dari beberapa zat penyusunnya. Zat murni sendiri dapat dikategorikan ke dalam unsur dan senyawa, sedangkan zat campuran dikategorikan ke dalam zat campuran homogen dan heterogen. Untuk lebih jelas membedakan antara unsur, senyawa dan campuran berikut penjelasannya.

1.Unsur

Unsur Seyawa

Unsur merupakan suatu zat yang paling murni, yang berarti tidak dapat diuraikan menjadi zat-zat lainnya menggunakan reaksi kimia sederhana ataupun menggunakan reaksi nuklir. Unsur merupakan zat yang paling sederhana yang dengan kombinasi satu atau dua unsur dapat membentuk suatu senyawa. Unsur terdiri atas unsur alam dan unsur buatan. Unsur buatan adalah suatu unsur yang tercipta karena adanya campur tangan manusia dalam pembuatannya. Contoh unsur buatan adalah einsteinium, yang bersifat radioaktif dan tidak stabil.

Sementara itu unsur alam adalah unsur atau zat yang memang sudah terdapat di alam. Unsur alam juga tergolong atas unsur logam dan unsur non logam. Unsur non logam seperti hidrogen, oksigen, karbon, belerang, klorin, dan nitrogen. Sementara itu unsur yang bersifat logam seperti emas, perak, besi, aluminium, dan raksa.

Unsur logam memiliki ciri-ciri:

  • Bersifat konduktor yang baik atau merupakan suatu penghantar yang baik. Unsur yang tergolong ke dalam kategori logam merupakan konduktor listrik dan panas yang baik
  • Apabila permukaannya digosok akan menjadi mengkilap
  • Permukaannya dapat ditempa dan juga dapat direnggangkan
  • Semua unsur logam merupakan benda padat pada suhu kamar atau 25 derajat celcius, kecuali untuk raksa

Untuk unsur non logam memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Dalam suhu ruangan yaitu 25 derajat Celcius, unsur non logam dapat berbentuk macam-macam ada yang berbentuk dalam zat padat, zat cair, maupun, zat gas
  • Unsur non logam yang berbentuk zat padat pada umumnya bersifat rapuh atau mudah pecah, kecuali pada arang
  • Bukan termasuk ke dalam kategori benda konduktor melainkan isolator karena tidak dapat menghantarkan listrik dan panas, kecuali grafit
  • Apabila digosok tidak akan mengkilap, kecuali intan

Untuk mengetahui mana saja yang termasuk suatu unsur, para ahli telah menciptakan sebuah tabel periodik yang berisi kurang lebih 100 macam unsur. Tabel periodik tersebut diberi nama sistem periodik unsur, dan dituturkan berdasarkan kesamaan yang terdapat pada tiap unsurnya untuk memudahkan dalam membacanya.

Ketika melihat nama-nama unsur dalam tabel periodik kita dapat mengetahui apakah zat tersebut merupakan unsur logam ataupun non logam. Caranya adalah dengan melihat akhiran dari tiap nama unsur. Apabila unsur tersebut berakhiran dengan nama -ium ataupun -um dapat dipastikan unsur tersebut adalah logam, kecuali helium, selenium, dan telurium. Ada juga unsur-unsur yang merupakan unsur peralihan antara logam ke non logam yang disebut unsur metaloid, seperti silikon, boron, dan arsen. Unsur yang tergabung dalam kategori metaloid memiliki sifat baik logam maupun non logam.

2.Senyawa

Unsur Seyawa

Senyawa merupakan zat tunggal yang terdiri dari dua atau lebih unsur dan dapat diuraikan melalui bantuan reaksi kimia. Senyawa terbentuk atas ikatan dua atau lebih unsur yang memiliki sifat berbeda dari unsur-unsur penyusunnya. Contoh dari senyawa adalah air, karbohidrat, garam, gula pasir, dan lainnya.

Salah satu cara menentukan suatu zat apakah senyawa atau bukan dapat dilihat dari rumus kimia. Rumus kimia atau yang juga disebut dengan rumus molekul adalah suatu sistem penamaan senyawa kimia untuk memberikan penjelasan mengenai susunan jumlah atom penyusunnya. Sistem penamaan menggunakan rumus kimia yang paling sederhana disebut dengan rumus empiris yang hanya menggunakan huruf dan angka saja.

Sistem rumus kimia adalah dengan cara menuliskan nama kimianya dengan mengikutsertakan jumlah atom pada unsur-unsur yang terdapat pada senyawa. Contoh penamaan senyawa menggunakan rumus kimia adalah glukosa yang mempunyai rumus kimia C6H12O6.

Air merupakan suatu senyawa yang terdiri atas hidrogen dan oksigen yang saling terikat karena adanya ikatan kimia. Hidrogen bersifat mudah terbakar karena berbentuk zat gas, sedangkan oksigen adalah suatu unsur yang memiliki fungsi sebagai zat pembakar.

Contoh yang kedua adalah garam dapur atau yang memiliki nama ilmiah NaCl atau natrium klorida ini merupakan suatu senyawa yang terbentuk dari unsur natrium dan klorin. Garam dapur sendiri memiliki sifat yang berbeda dari unsur-unsur penyusunnya.

Natrium merupakan suatu logam yang mudah meledak apabila bersinggungan dengan air. Sedangkan klorin adalah unsur non logam yang memiliki sifat bau yang menusuk juga sangat reaktif karena berbentuk zat gas.

Adapun senyawa dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu senyawa ionik dan senyawa organik. Berikut penjelasannya.

  • Senyawa ionik

Senyawa ionik merupakan suatu ikatan ion yang disatukan karena adanya gaya elektrostatik. Senyawa ionik terdiri dari ion bermuatan positif atau kation dan ion bermuatan negatif atau anion, maka dari itu senyawa ionik tergolong kedalam senyawa yang bermuatan netral. Senyawa yang mengandung ion bermuatan positif atau mengandung ion hidrogen atau ion H+ disebut dengan asam.

Sedangkan senyawa ionik yang mengandung ion hidroksida disebut dengan senyawa basa. Dan untuk senyawa yang bermuatan netral disebut dengan dengan garam. Proses penetralan garam dilakukan dengan bantuan proses reaksi asam basa.

  • Asam

Asam adalah suatu senyawa yang apabila dilarutkan kedalam air maka akan memiliki jumlah pH kurang dari 7. Asam merupakan zat penerima elektron bebas dari senyawa basa atau penerima ion H+. Salah satu contoh senyawa asam adalah asam asetat pada cuka dan asam sulfat pada aki mobil.

Sifat senyawa asam adalah memiliki rasa yang asam apabila dilarutkan kedalam air, terasa sensasi menyengat apabila tersentuh oleh kulit bahkan akan mengakibatkan kerusakan pada kulit apabila asam pekat, asam bersifat korosif terhadap logam atau bersifat merusak logam, dan semua senyawa asam adalah larutan elektrolit yaitu larutan yang akan terurai menjadi ion-ion apabila dilarutkan kedalam air dan dihantarkan listrik.

Penggunaan asam dalam kehidupan sehari-hari adalah digunakan dalam proses penghilangan karat pada logam, sebagai elektrolit pada baterai seperti pada aki mobil, banyak terdapat pada enzim pencernaan manusia dan hewan, dan terakhir sebagai katalis.

  • Basa

Basa merupakan senyawa yang memiliki karakteristik berlawanan dengan asam. basa memiliki pH diatas 7 apabila dilarutkan kedalam air dan merupakan pemberi ion ( OH- ). Basa terdiri dari dua yaitu basa lemah dan basa kuat yang dikategorikan berdasarkan kemampuan senyawa tersebut melepaskan ion OH-.

Adapun karakteristik dari basa adalah memiliki rasa yang pahit, memiliki permukaan yang licin, bersifat kaustik, senyawa penetral asam, merubah warna kertas lakmus dari merah menjadi biru, merupakan penghantar listrik yang baik, dan berperan dalam proses pelapukan. Contoh basa adalah Aluminium hidroksida yang terdapat pada deodoran, kalsium hidroksida yang terdapat pada plester, dan kalium hidroksida pada bahan pembuat sabun.

Senyawa ionik sendiri memiliki ciri-ciri seperti bentuknya yang keras dan mudah rapuh, apabila dalam bentuk larut merupakan konduktor yang baik namun ketika berbentuk padat maka berubah menjadi isolator. Proses pembentukan senyawa ionik dapat diperoleh melalui metode penguapan pelarut, pembekuan, presipitasi, reaksi zat padat, atau reaksi transfer elektron logam reaktif dengan non logam reaktif.

  • Senyawa organik

Senyawa organik adalah senyawa yang memiliki kandungan karbon di dalamnya. Di dalam senyawa organik terdapat rantai karbon yang panjang, bentuk, dan gugus alkilnya berbeda-beda. Senyawa organik biasanya selain terdiri dari karbon, juga terdiri dari unsur hidrogen, oksigen, dan nitrogen.

Contoh senyawa organik adalah protein, lemak, karbohidrat. Senyawa organik memiliki karakteristik sebagai berikut titik didih dan titik leleh yang rendah, bukan termasuk kedalam golongan penghantar listrik, proses reaksi yang lambat, memiliki struktur yang rumit, dan larut dalam pelarut organik.

3.Campuran

Unsur Seyawa

Campuran adalah suatu zat yang terbentuk karena adanya ikatan antara dua atau lebih unsur yang saling terikat dengan komposisi yang berbeda-beda dan masih memiliki sifat asli unsur-unsur pembentuknya. Campuran dapat dikelompokkan ke dalam homogen dan heterogen.

Zat campuran memiliki karakteristik seperti

  • Terbentuk atas dua atau lebih zat tunggal
  • Komposisi pembentuknya tidak tetap
  • Zat campuran masih memiliki sifat asli zat pembentuknya
  • Dapat diuraikan menjadi komponen-komponen pembentuknya dengan cara fisis yaitu penyaringan dan penyulingan.

Campuran yang bersifat homogen adalah suatu gabungan antara dua atau lebih zat tunggal dimana sudah tidak terlihat batas antara masing-masing zatnya meski menggunakan mikroskop sekalipun. Campuran homogen biasa disebut dengan sebutan larutan. Salah satu contoh campuran homogen adalah udara yang terdiri dari berbagai jenis gas dan tidak dapat dibedakan satu antara lainnya.

Yang kedua campuran heterogen, merupakan suatu campuran yang masih dapat dibandingkan bidang batasnya. Contoh campuran heterogen adalah ketika kita mencampurkan air dan minyak. Bahkan tanpa menggunakan mikroskop pun kita dapat melihat bidang batas di antara keduanya.

Proses pemisahan campuran ada beberapa macam, yaitu

  • Pengayakan

Proses ini digunakan untuk memisahkan partikel berbentuk padat dengan ukuran yang berbeda-beda, contohnya memisahkan pasir dengan kerikil.

  • Decanter

Metode ini digunakan untuk memisahkan campuran antara larutan dan padatan. Prosesnya dilakukan dengan cara mengendapkan partikel padatan karena ukuran padatan yang begitu besar. Contohnya adalah memisahkan tanah dalam air.

  • Penyaringan

Metode ini untuk memisahkan padatan dari larutan namun menggunakan bantuan saringan karena partikel padatan sangat kecil. Contoh proses penyaringan pasir dan air.

  • Sentrifugasi

Metode ini digunakan untuk memisahkan cairan dan padatan namun keduanya memiliki ukuran yang sama-sama kecil sehingga akan susah jika hanya menggunakan penyaringan. Contohnya adalah pengambilan VCO atau virgin coconut oil.

  • Penguapan

Metode ini digunakan untuk mengambil padatan yang terlarut hampir sempurna pada larutan. Contohnya penguapan untuk mengambil garam dari air laut.

  • Sublimasi

Metode ini dilakukan ketika unsur penyusun campuran tersebut dapat menyublim ketika dipanaskan. Contohnya pemisahan iodine dari campuran pasir.

  • Ekstrasi

Metode ini digunakan untuk memisahkan campuran dengan menggunakan perbedaan kelarutan zat penyusunnya. Contoh proses pembuatan minyak astri.

  • Penyulingan

Metode ini dilakukan menggunakan perbedaan titik didih zat penyusunnya. Contohnya adalah penyulingan air tawar dari air laut.

  • Kromatografi

Metode ini digunakan untuk memisahkan campuran larutan dengan volume campurannya yang sangat sedikit.