Adab Berpakaian : Pengertian, Penjelasan, Beserta Contohnya {Lengkap}

Adab Berpakaian

Pengertian Adab Dalam Berpakaian

Adab Berpakaian

Adab Berpakaian – Menurut ajaran Islam, berpakaian yaitu mengenakan pakaian untuk menutupi aurat, dan sekaligus perhiasan untuk memperindah jasmani seseorang. Sebagaimana yang telah ditegaskan Allah Swt, dalam firman-ya:

يبَنِيْ~ ادَمَ قَدْاَنْزَلْنَاعَلَيْكُمْ لِبَاثًايُوَارِيْ سَوْاتِكُمْ وَرِيْشًاوَلِبَاسُ التَّقْوى

ذلِكَ خَيْرٌ طْذلِكَ مِنْاايتِ الله لَعَلَّهُمْ يَذَّكَُّرُوْنَ ﴿ الأءاف : ٢٦﴾

Artinya:

“Wahai anak Adam! Susungguhnya Kami telah menyiapkan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagaimu tetap takwa itulah yang lebih baik.  Begitulah  sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalui ingat.” (Q.S. Al-A’raf:26)

Ayat tersebut telah memberi acuan cara berpakaian sebagaimana dituntut oleh sifat takwa, yakni untuk menutup aurat dan berpakaian rapi, sehingga tampak simpati dan berwibawa serta anggun untuk dipandangnya, bukan menggiurkan dibuatnya.

Berikut ini merupakan contoh atau cara Pakaian yang harus digunakan atau dipakai oleh seorang Wanita

Pakaian Wanita

Adab Berpakaian

Seorang wanita dinilai berbusana baik dan serasi kalau mereka senantiasa menggunakan pakaian yang cocok dengan usia dan kepribadiannya masing – masing.

Pegangan utama yang perlu diperhatikan dalam berpakaian  yaitu tidak perlu berlebihan dan lebih baik berpakaian sederhana yang dapat  menutupi aurat.

Menurut ajaran islam, aurat wanita islam adalah seluruh badannya, kecuali muka dan telapak tangan sehingga wajib bagi seorang wanita islam memelihara beberapa bagian badannya dan menutup dadanya dengan kerudung.

Contoh adab berpakaian  Didalam ajaran Isalam, berpakaian tidak hanya sekedar sebagai kain penutup badan, tidak hanya sekedar mode atau trend yang hanya mengikuti perkembangan zaman.

Islam mengajarkan tata cara atau adab berpakaian yang sesuai dengan ajaran agama, baik secara moral, indah dipandang dan nyaman digunakan serta tidak dapat mengumbar nafsu lawan jenis.

Diantara adab berpakaian dalam pandangan Islam adalah sebagai berikut:

a) Harus dapat memperhatikan syarat-syarat pakaian yang islami, yakni yang dapat menutupi aurat, terutama wanita

b) Pakailah pakaian yang bersih dan rapi, sehingga tidak akan menimbulkan kesan kumal dan dekil, yang akan berpengaruh terhadap pergaulan dengan sesame

c) Hendaklah mendahulukan anggota badan sebelah kanan,  kemudian anggota badan sebelah kiri

d) Tidak dapat menyerupai pakaian wanita bagi laki-laki, atau pakaian laki-laki bagi wanita

e) Tidak meyerupai dengan pakaian Pendeta Yahudi atau Nasrani, dan atau melambangkan sebuah pakaian kebesaran agama lain

f) Tidak terlalu ketat dan juga transparan, sehingga terkesan ingin selalu untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya atau mempertontonkan kelembutan kulitnya

g) Tidak terlalu berlebihan atau sengaja melebihkan lebar kainnya, sehingga terkesan berat dan rikuh menggunakannya, disamping dapat mengurangi nilai kepantasan dan keindahan pemakainya

h) Sebelum memakai pakaian, hendaklah berdoa terlebih dahulu, berikut ini adalah contoh doa sebelum kita memakai pakaian :

اَلْحَمْدُللهِ الَذِ يْ كَسَانِيْ هذَاالثَّوْبَ وَرَزَقَنِيْ مِنْ غَيْرِحَوْلٍــ

مِنِّيْ وَلاَقُوَّةٍ

Artinya :

“Segala puji bagi Allah yang telah menyerahkan pakaian dan rezeki kepadaku tanpa jerih payahku dan kekuatanku”

Syarat Berpakaian Seorang Wanita

Adab Berpakaian

Berikut adalah Syarat-syarat berpakaian bagi seorang  wanita antara lain sebagai berikut :

  1. Kainnya tidak tipis maupun tembus pandang
  2. Potongannya tidak ketat atau pas dibadan
  3. Tertutup aurat atau badannya, kecuali pada muka dan tangannya.

Berikut adalah Fungsi pakaian (khusus bagi wanita) antara lain :

  1. Menjauhkan wanita dari gangguan atau pelecehan oleh kaum adam.
  2. Membedakan antara wanita yang berakhlak hina dengan wanita berakhlak mulia.
  3. Mencegah timbulnya suatu fitnah bagi kaum wanita.
  4. Memelihara kesucian diri dan agama wanita yang telah bersangkutan
  5. Pakaian Pria

Adab Berpakaian Laki-Laki

Adab Berpakaian

Ilmu fikih menegaskan bahwa aurat laki-laki yaitu diantara pusar sampai lutut sehingga pakaian pria tidak sama dengan pakaian wanita dalam menutupi auratnya.

Pakaian lelaki pada umumnya adalah sebagai berikut:

  1. Kemeja dan celana panjang disertai dengan dasi.
  2. Jas (jika untuk pakaian resmi).
  3. Kemeja batik usahakan lengan panjang
  4. Pakaian bergaya timu, seperti gamis, kemudian disertai sorban.
  5. Ulama mengharamkan kaum lelaki menggunakan perhiasan emas dan pakaian sutra.

Tidak dibolehkan menggunakan sutera dan emas bagi kaum lelaki berdasarkan hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain sutera dan memegangnya dengan tangan kanannya sedangkan emas dipegang dengan tangan kirinya kemudian Beliau bersabda :

إِنَّ هذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُوْرِ أَمَّتِيْ.

“Sesungguhnya keduanya adalah haram atas kaum lelaki dari ummatku.” [HR. Abu Dawud no.

Untuk dapat mebiasakan diri mempraktikkan adab berpakaian secara Islami, hendaklah terlebih dahulu untuk memperhatikan hal berikut ini :

a) Tanamkan keimanan yang kuat didalam hati kalian semua, agar niat niat yang baik tidak tergoyahkan

b) Yakinkan dalam hati bahwa menutup aurat bagi seorang muslim dan muslimah merupakan wajib hukumnya, sehingga akan mendapat dosa bagi yang telah meninggalkannya

c) Tanamkan keyakinan bahwa Islam tidak bermaksud untuk memberatkan umatnya dalam berpakaian, bahkan sebaliknya memberikan kebebasan dan juga perlindungan bagi harkat dan martabat umatnya.

Tanamkan rasa bangga kepada kita karena telah berpakaian sesuai ajaran Islam, sebagai perwujudan keimanan yang kuat dri diri seorang muslim/muslimah

d) Ayo, mulailah dari sekarang cara berpakain sesuai dengan ajaran agama islam.

Pakaian Tidak Diperbolehkan Oleh Kaum Laki-Laki

Adab Berpakaian

Berikut ini adalah adab yang tidak dibolehkan oleh kaum laki – laki maupun kaum perempuan secara umum.

1.Tidak dibolehkan bagi laki-laki untuk memanjangkan pakaian atau celana panjang, burnus (sejenis mantel yang bertudung kepala) atau jubah sampai melebihi mata kaki. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ اْلإِزَارِ فَفِي النَّارِ.

“Kain yang dibawah mata kaki dan tempatnya di Neraka.” [HR. Al-Bukhari no. 5787 dan an-Nasa-i VIII/207 no. 5331]

 

2. Diwajibkan bagi wanita muslimah untuk dapat memanjangkan pakaiannya hingga dapat menutupi kedua mata kakinya dan hendaknya menjulurkan kain kerudung jilbab pada kepalanya sehingga dapat menutupi leher dan dadanya, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :

“Hai Nabi ucapkanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘seharusnya mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah itu Maha penyanyand dan Maha Pengampun.” [Al-Ahzaab/33: 59]

Dan firman Allah Azza wa Jalla:

“ucapkanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka memperlihatkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan tidaklah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka punyai atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai tekad (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.

Dan tidaklah dari mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan meminta maaflah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [An-Nuur/24: 31]

 

3. Seorang muslim tidak dibenarkan untuk menutup kain ke seluruh tubuhnya dan tidak menyisakan tempat keluar untuk kedua tangannya karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang hal ini dan tidak boleh berjalan dengan satu sandal, hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

“Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu sandal saja hanya  hendaknya menggunakan keduanya atau melepaskannya sama sekali.” [HR. Al-Bukhari no. 5856 dan Muslim no. 2097 (68)]

4. Seorang Laki-laki muslim tidak diperbolehkan untuk menggunakan busana muslimah dan wanita muslimah tidak boleh menggunakan busana laki-laki. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau Bersabda:

لَعَنَ اللهُ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Allah melaknat laki-laki yang berbusana layaknya wanita dan wanita-wanita yang berbusana layaknya laki-laki.”[1]

Dan sabda oleh Nabi Muhammad  Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lainnya:

“Allah melaknat laki-laki yang menggunakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.”[2]

5. Bagi seorang muslim, jika hendak menggunakan sandal maka haruslah memulainya dengan kaki kanan dan jika hendak melepaskan memulai dengan kaki kiri. Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kamu menggunakan sandal (sepatu), maka awalilah dengan yang kanan dan apabila hendak  melepasnya mulailah dengan yang kiri.” [HR. Al-Bukhari no. 5855 dan Muslim no. 2097]

 

6. Hendaknya menggunakani baju dari bagian kanan sebagaimana hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau bersabda:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ التَّيَمُّنَ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan yang kanan ketika menggunakan sandal, menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya.” [HR. Al-Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268 (67)]

 

7. Hendaknya ketika meggunakan  baju baru, sorban (kopiah atau peci) baru, dan jenis pakaian lainnya yang baru untuk mengucapkan do’a. Dan berikut adalah doa nya ketika berpakaian:

بِسْمِ اللهِ اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَخَيْرِ مَاهُوَ لَهُ وَاَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَشَرِّمَا هُوَلَهُ

“Ya Allah, hanya bagimu segala pujian, Engkaulah yang telah menghadiahkanku pakaian, aku memohon kepada-Mu untuk menjumpai kebaikannya dan kebaikan dari tujuan dibuatnya pakaian ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan dari tujuan dibuatnya pakaian ini.”[3]

[Disalin dari kitab Aadaab Islaamiyyah, Penulisnya adalah ‘Abdul Hamid bin ‘Abdirrahman as-Suhaibani, Judul dalam Bahasa Indonesia Adab Harian Muslim Teladan, Penerjemah Zaki Rahmawan, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir Bogor, Cetakan Kedua Shafar 1427H – Maret 2006M]

[1]. Lafazh di atas merupakan  lafazh yang keliru karena tidak ditemukan lafazh la’ana Allah, namun yang benar yaitu la’ana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu:

لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَ الْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ.

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang mengenakan busana  wanita dan wanita-wanita yang mengenakan busana  laki-laki.” [HR. Al-Bukhari no. 5886, 6834, Abu Dawud no. 4930]-pent.

[2]. Tetapi lafazh ini tetap salah karena mencantumkan lafazh لَعَنَ اللهُ (Allah melaknat), padahal yang benar yaitu لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ (Rasulullah melaknat) dan ini riwayat Imam al-Bukhari, namun pada riwayat Abu Dawud dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu yaitu sebagai berikut:

“Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melaknat laki-laki yang mengenakan busana wanita dan wanita yang menggunakan busana laki-laki.” [HR. Abu Dawud no. 4098]-penj.

[3]. HR. Abu Dawud no. 4020, at-Tirmidzi no. 1822, al-Hakim IV/192 yang telah menshahihkannya dan disepakati oleh adz-Dzahabi dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu.-penj.

Itulah sedikit pembahasan singkat tentang adab Berpakain sesuai dengan ajaran agama islam, yang dimana dari pembahasan dapat menjadikan contoh atau suri tauladan untuk kalian semua.

Dan berikut adalah adab Berhias yang sesuai dengan ajaran islam. Yuk simak langsung ya pembahasannya.

 Pengertian Adab Berhias

Adab Berpakaian

Berhias merupakan suatu kegiatan  berdandan atau merapikan diri baik fisiknya maupun pakiannya.  Berhias dalam pandangan Islam merupakan suatu kebaikan dan sunah untuk dilakukan, sepanjang untuk ibadah atau dalam hal kebaikan.

Menghiasi diri agar dapat  tampil menarik dan tidak mengganggu kenyamanan orang lain yang memandangnya, adalah suatu keharusan bagi setiap muslim, terutama bagi kaum wanita di hadapan suaminya, dan kaum pria dihadapan istrinya.

Islam tidak mengharuskan umatnya untuk berhias dengan cara apa pun, sepanjang tidak melanggar kaidaih-kaidah agama atau melanggar kodrat kewanitaan dan kelaki-lakian, serta tidak berlebihan dalam melakukannya.

Wanita tidak boleh berhias dengan cara laki-laki, begitu pula dengan sebaliknya laki-laki tidak boleh berhias layaknya seorang wanita.  Sebab yang demikian itu sangat  dilarang dalam ajaran Islam. Perhatikan sabda Nabi Muhammad saw, yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalib;

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلّرِجَأَل اْلمُتَشَابِهِيْنَ بِالنِّسَـاءِ

وَالنِّسَـاءِوَالنِّسَـاءَاْلمُتَشَابِهَاتِ بِالرِّجَالِــ. ﴿رواهالداقـطنى﴾

Artinya :

“Rasulullah saw, membeci laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (H.R. Daruquthni)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa  berhias menurut ajaran Islam harus sesuai dengan adab dan tata cara yang Islami.

Sehingga perbuatan untuk dapat menghiasi diri, selain membuat penampilan menjadi indah dan menarik, juga mendapat nilai ibadah dari Allah Swt.

Adab Berhias

Adab Berpakaian

Berikut ini adalah Contoh adab dalam berhias sesuai dengan ajaran agama islam:

a) Menggunakan perhiasan atau alat-alat untuk berhias yang halal dan tidak mengandung efek ketergantungan.

Misalnya pada  alat-alat kecantikan tidak mengandung lemak babi, alcohol tinggi, benda-benda yang mengandung najis dan sebagainya

b) Menggunakan alat-alat atau barang-barang hias sesuai dengan kebutuhan dan kepantasan, dan tidak berlebihan.

Misalnya ketika menggunakan lipstik melebihi garis bibir, bedak yang terlalu tebal, parfum yang berbau menyengat, dan sebagainya

c) Mendahulukan anggota sebelah kanan, baru kemudian anggota badan sebelah kiri

d) Berhiaslah tujuan untuk beribadah atau kebaikan, misalnya untuk melaksanakan salat, mengaji, belajar, menyabut suami tercinta, dan sebagainya.

e) Membaca “Basmalah” setiap kali akan memulai berhias, agar mendapatkan berkah dan pahala dari Allah swt.

f) Membaca doa setiap kali ingin menghadap cermin untuk berhias. Berikut adalah contoh berdo’a ketika kita hendak bercermin.

اَللَّـهُمَّ جَمِّلْنِيْ بِالْعِلْمِ وَالتَّقْوَى وَزَيِّنِيْ بِالْحِلْمِ وَاْلاَخْلاَقِ اْلكَرِيْمَةِ.

Arinya:

“Ya Allah, percantiklah aku dengan ilmu dan takwa, dan hiasilah aku dengan hati yang lembut dan budi pekerti yang mulia”

Hal – Hal Ketika Ingin Berhias

Adab Berpakaian

Untuk dapat mempraktikkan adab berhias secara Islami, hendaknya kamu dapat perhatikan terlebih dahulu beberapa hal berikut ini :

a) Tanamkan keimanan yang kuat dalam hati, agar dalam berhias sehari-hari tidak akan tergoda oleh buju rayu setan yang selalu mengajak untuk selalu berlebihan

b) Tanamkan keyakinan bahwa berhias termasuk ibadah yang mendapat pahala, sepanjang tidak digunakan untuk

c) Tanamkan niat, yang suci bahwa berhias hanya untuk kebaikan semata, menambah kepercayaan diri, dan juga untuk dapat mengangkat citra agama,

d) Hindari berhias yang hanya untuk mengharapkan pujian maupun sanjungan dari orang lain atau bermaksud menggoda orang lain agar tertarik kepada kita.

e) Mulailah mempraktikkan adab berhias secara islami dari sekarang, agar kelak terbiasa menjadi seorang yang pandai dalam berhias untuk ibadah naupun dalam hal kebiasaan.

Itulah beberapa hal yang bisa saya sampaikan, jadi bisa disimpulkan bahwa islam melarang umatnya untuk mengobral umat, baik itu laki-laki maupun perempuan. Oleh sebab itu, setiap muslim mempunyai etika dalam berpakaian maupun dalam memakai perhiasan.

Islam juga menganjurkan umutnya agar senantiasa berhias. Artinya setiap muslim harus tampil memikat, sehingga membuat orang lain merasa jijik bergaul dengan kita.

Oleh sebab itu, setiap muslim harus mempunyai etika dalam berpakaian maupun dalam hal berhias. Sekian dari saya Assalamu’alaikum wr wb

 

35+ Adab Makan dan Minum Beserta Penjelasan, Hadist, dan Contohnya

Adab Makan dan Minum

Adab Makan dan Minum – Assalamu’alaikum wr wb kawan saya semua bagaimana kabarnya, pasti baik. Ya kali ini saya akan sedikit menyampaikan tata cara atau adab ketika makan dan munim

Sesuai dengan temanya yaitu adab makan dan minum jadi ketika kalian sedang makan dan minum ada banyak sekali adab nya dimulai dari makanan yang halal dan baik sampai dengan bacaan ketika sudah makan.

Dan semua adab itu telah dilakukan oleh Nabi Muhammad saw ketika Beliau sedang makan maupun minum. Berikut merupakan etika atau adab makan dan minum sesuai dengan Nabi Muhammad Saw.

Pengertian Adab Makan dan Minum

Adab Makan dan Minum
                                                                                              Adab Makan dan Minum

Adab makan dan minum adalah mempraktikkan cara makan dan minum yang sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat atau aturan yang sesuai dengan agama islam.Apabila belum memahami tentang adab makan dan minum disuatu daerah yang dikunjungi, janganlah malu utnuk bertanya. Bertanyalah secara baik-baik dan benar kepada teman atau masayarakat setempat

Adab Makan dan Minum

Adab Makan dan Minum
                                                                                                  Adab Makan dan Minum

1.Makanan Seorang Muslim: Baik dan Halal

Adab makan dan minum yang pertama adalah makanan baik dan juga halal, Sesuai dengan ajaran agama islam seorang muslim wajib memakan makanan yang baik dan juga halal.

Dimana  dalam hal ini sudah di jelaskan di dalam Al-quran surat Al-Baqarah Ayat 172

يَٰٓأَيُّهَاٱلَّذِينَءَامَنُوا۟كُلُوا۟مِنطَيِّبَٰتِمَارَزَقْنَٰكُمْوَٱشْكُرُوا۟لِلَّهِإِنكُنتُمْإِيَّاهُتَعْبُدُونَ

artinya  “ hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezekimu yang baik dan halah yang telah kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada allah, jika benar- benar hanya kepada Allah kalian menyembah.

Dan ada lagi ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang bab atau masalah ini yaitu bab tentang adab makan dan minum yang baik dan juga halal, yaitu terdapat di (QS. Al-A’raf ayat 157) yang berbunyi :

ٱلَّذِينَيَتَّبِعُونَٱلرَّسُولَٱلنَّبِىَّٱلْأُمِّىَّٱلَّذِىيَجِدُونَهُۥمَكْتُوبًاعِندَهُمْفِىٱلتَّوْرَىٰةِوَٱلْإِنجِيلِيَأْمُرُهُمبِٱلْمَعْرُوفِوَيَنْهَىٰهُمْعَنِٱلْمُنكَرِوَيُحِلُّلَهُمُٱلطَّيِّبَٰتِوَيُحَرِّمُعَلَيْهِمُٱلْخَبَٰٓئِثَوَيَضَعُعَنْهُمْإِصْرَهُمْوَٱلْأَغْلَٰلَٱلَّتِىكَانَتْعَلَيْهِمْفَٱلَّذِينَءَامَنُوا۟بِهِۦوَعَزَّرُوهُوَنَصَرُوهُوَٱتَّبَعُوا۟ٱلنُّورَٱلَّذِىٓأُنزِلَمَعَهُۥٓأُو۟لَٰٓئِكَهُمُٱلْمُفْلِحُونَ

Yang artinya ( Yaitu ) orang- orang yang mengikut Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka masih dapati tertulis didalam kitab Taurat dan juga Kitab Injil yang ada disisi mereka, yang menyuruh mereka untuk mengerjakan yang ma’ruf dan juga melarang mereka dari mengerjakan bagi mereka segala sesuatu yang buruk dan membuang dari mereka beban- beban dan juga ikatan – ikatan yang ada pada mereka semua. Maka orang – orang yang telah beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan juga mengikuti cahaya yang terang yang telah di turunkan kepadanya (AL-QURAN), mereka itulah orang – orang yang telah beruntung.

2.Membaca Basmalah pada Saat Makan dan Memulai dengan yang Terdekat

Dari Ibnu Mas’ud r.a berkata, bahwa “Nabi Muhammad saw beliau bersabda,

“Siapa yang lupa untuk menyebut nama Allah Ketika hendak memulai makan, maka hendaklah ia mengucapkan saat ingat, ‘Bismillahi fi awwalihi wa akhirhi ( Dengan nama Allah di awal dan di akhir makanan). “Maka kalian seperti menghadapi makanan baru lagi dan mencegah apa tadi sudah didapatkan setan,”

3.Makan dan Minum dengan Menggunakan Tangan Kanan

Dari Ibnu Umar r.a, Nabi Muhammad saw Beliau bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan, maka makanlah dengan menggunakan tangan kanan, dan jika kalian ingin minum, maka minumlah juga dengan menggunakan tangan kanan pula, karena sesungguhnya setan itu makan dan minum dengan menggunakan tangan kiri.

4.Bernafas di Luar Bejana ketika Hendak Minum

Dari sahabat rasulullah saw Anas r.a berkata, “Rasulullah muhammad saw bernafas tiga kali ketika hendak minum dan beliau terus bersabda,

“sesungguhnya yang demikian itulah yang lebih segar, lebih steril dan juga lebih memuaskan”

5.Cara Memberi Minum Orang Lain

Dari Anas bin Malik r.a, Nabi Muhammad saw pernah diberi susu penuh, sedang di sebelah kanannya ada seorang Arab Badui dan di sebelah kirinya ada Abu Bakar. Beliau Nabi Muhammad saw  meminumnya kemudian memberikannya kepada Arab Badui seraya beliau bersabda, “Dari kanan kemudian ke kanannya lagi.” 5

6.Tidak Minum Sambil Berdiri

Dan ini merupakan adab ketika makan maupun minum yang sering dilupakan kebanyakan orang yaitu tidak makan sambil berdiri karena semasa hidupnya Beliau Nabi Muhammad saw tidak pernah makan maupun minum sambil berdiri.

A.Dari Abu said Al-Khudri R.A, Nabi Muhammad sawa melarang sekali minum maupun makan sambil berdiri.

  1. Dari Abu Hurairah R.A Nabi Muhammad saw sedang melihat seorang lelaki minum sambil berdiri, Kemudian Beliau Bersabda, “muntahkanlah” kemudian seorang lelaki itu berkata, kenapa? Beliau Nabi Muhammad saw kemudian bersabda, “Apakah kamu (seorang pemuda) suka sekali minum maupun makan bareng dengan seekor kucing?” Seorang lelaki itu menjawab, “Tidak”, Ya Rasul. Kemudian beliau Nabi Muhammad a saw bersabda, “Sesungguhnya ikut minum maupun makan bersama kamu adalah sesuatu yang lebih buruk dari seekor kucing, yaitu “Setan”

7.Tidak Makan dan Minum dari Tempat yang Terbuat dari bahan Emas dan Perak

Dari Hudzaifah R.A Beliau berkata, “Aku mendengar Nabi Muhammad saw bersabda, ‘Janganlah kalian menggunakan  sutra dan kain diibaj ‘sutra yang lebih halus’; dan janganlah minum dengan menggunakan alas dari  bejana yang terbuat dari emas maupun perak. Janganlah makan dengan menggunakan piring yang terbuat dari emas atau perak, karena perabot tersebut  untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia, dan juga untuk kita di akhirat.”

8.Tata Cara Makan

Dari Kaab bin Malik r.a, Beliau berkata,Nabi Muhammad saw makan dengan menggunakan tiga jari, dan juga beliau menjilati tangannya sendiri sebelum membersihkannya.”

Dari Anas r.a, jika Nabi Muhammad saw setelah makan beliau menjilati ketiga jarinya tersebut. Anas berkata, “Nabi Muhammad saw bersabda, “Jika adadari suapan kalian terjatuh, maka hendaklah diambil dan juga dibersihkan dari penyakit (kotoran), kemudian dimakan serta tidak meninggalkannya lagi untuk setan.” Beliau memerintahkan juga untuk menghabiskan sisa makanan. Beliau Nabi Muhammad saw bersabda, bahwa “Sesungguhnya dari kalian tidak mengerti dari sisi makanan manakah yang mengandung berkah dari Allah swt.”

Dari Ibnu Umar r.a, Beliau berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang (umatnya) untuk menelan dua kurma sekaligus sebelum meminta izin kepada teman-temannya sendiri.”

Dari Ibnu Umar r.a, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Hendaklah setiap orang di antara kalian makan dengan menggunakan tangan sebelah kanannya, minum dengan menggunakan tangan kanan, mengambil dengan menggunakan tangan kanan, dan juga memberi dengan menggunakan tangan kanan, karena sesungguhnya setan makan dengan menggunakan tangan kiri, minum dengan menggunakan tangan kiri, memberi dengan menggunakan tangan kiri dan mengambil dengan menggunakan tangan kiri itulah perbuatan dari “Setan”.”

9.Kadar (Ukuran) Makan yang Baik

Dari Miqdam bin Ma’dikarib r.a, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Tidaklah anak Adam memenuhi bejana mereka  lebih buruk dari pada memenuhi perutnya. Cukuplah bagi kaum bani Adam makanan yang dapat menegakkan tulang rusuknya, kalau tidak boleh tidak (harus memenuhi perutnya) hendaklah 1/3 (perutnya) untuk makanan, 1/3 untuk minuman dan 1/3 lagi untuk nafasnya sendiri.” 13

10.Tidak Mencaci Makanan

Kita sebagai seorang muslim yang baik janganlah dari kita untuk mencaci makanan yang sudah ada di depan mata kita, apalagi kita tinggal mekannya, dan orang yang suka mencaci makannya sendiri ialah orang yang sifatnya seperti sifat “Setan”.

Dari sahabat Rasulullah yaitu Abu Hurairah R.A, Beliau berkata, Ketika Nabi Muhammad saw makan beliau tidak pernah mencaci makanannya itu sendiri, jika beliau suka dengan makananya itu maka beliau memakanannya, dan jika Beliau tidak menyukai makanan itu maka beliau meninggalkan makanan tersebut.

11.Tidak Makan Secara Berlebihan

Sebenarnya kita  sebagai seorang muslim tidak boleh melakukan semua hal secara berlebihan, karena sikap berlebihan itulah merupakan sikapnya Setan. Apalagi kita berlebihan dalam hal makan

Dari sahabat Nabi Muhammad saw yaitu Ibnu Umar R.A berkata, bhaw Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang kafirlah yang makan dengan tujuh usus, sedangkan orang mukmin hanya makan dengan satu usus”

12.Keistimewaan Makan dan juga Membaginya

Dari Jabir bin Abdullah r.a, beliau berkata, “Aku mendengar Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘(Jatah) makanan satu biasanya orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang, dan juga makanan empat orang cukup untuk delapan orang.”

Dari Abdullah bin Amr r.a, seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang perbuatan yang paling baik dalam agama Islam. Beliau bersabda,

“Memberi makanan, dan juga mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal dan orang yang tidak engkau kenal.”

Dari Abu Ayyub Al-Anshari r.a, beliau berkata, “Jika Nabi Muhammad saw Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menerima makanan beliau memakan sebagian dan juga mengirimkan sisanya kepadaku.”

13.Memuji Hidangan

Dari Jabir bin Abdullah r.a, Nabi Muhammad SAW bertanya kepada tuan rumah tentang lauk-pauk yang akan dihidangkan. Mereka berkata, bahwa “Kita tidak memiliki makanan kecuali khal (cuka, sejenis asinan).” Kemudian beliau meminta  agar dibawakan khal, dan juga memakannya seraya bersabda, “Sebaik-baik lauk-pauk yaitu khal dan sebaik-baik lauk pauk yaitu khal.”

14.Tidak Meniup Minuman

Dari sahabat Rasulullah yaitu Abu Said Al-Khudri r.a, ia berkata, “Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita untuk  minum dari lubang tempat air, dan juga melarang meniup minuman.”

15.Pemberi Air Minum Hendaknya Meminum Terakhir Kali

Dari Abu Qatadah r.a berkata, bahwa  “ketika Nabi Muhammad sedang ingin berkhutbah kepada kami dan di akhir khutbahnya beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang memberi minum suatu kaum maka dialah yang harus minum terakhir kali.”

16.Berkumpul untuk Makan Bersama

Dari sahabat Rasulullah yaitu Wahsyi bin Harb, dari bapaknya, dari kakeknya, “Para sahabat Nabi Muhammad saw berkata, ‘Ya Rasulullah, kami makan namun tidak merasa kenyang.’ Beliau bersabda, ‘Mungkin kalian berpencar-pencar (ketika makan).’ Mereka ( Wahsyi bin Hard) berkata, ‘Benar.’ Kemudian Beliau bersabda, “Berkumpullah ketika kalian sedang makan, dan sebutlah nama Allah atasnya, maka Dia akan memberikan makan kalian.”

17.Menghormati Tamu dan Melayaninya Sendiri

Firman Allah SWt tentang adab menghormati tamu dan melayaninya sendiri akan di jelaskan di dalam surat Adz-Dzariyat ayat 24-27, berikut ini :

(Yaitu) Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang telah dimuliakan?(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu (malikat jibril) mengucapkan, “Salaman” (salam), Kemudian Nabi Ibrahim menjawab, “Salamun” (salam). (Mereka itu) orang-orang yang belum dikenal oleh Nabi Ibrahim.Maka diam-diam dia (Ibrahim) pergi untuk menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar),kemudian dihidangkannya kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan). Nabi Ibrahim berkata, “Mengapa tidak kamu makan.”

Dari sahabat Nabi Muhammad saw yaitu Abu Syuraih Al-Ka’bi r.a, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda,

“Siapa yang beriman kepada Allah dan juga hari akhir, maka hendaklah mereka  menghormati tamunya, masa pelayanannya sehari semalam, masa bertamunya tiga hari dan setelah itu merupakan sedekah, tidak halal baginya (tamu) untuk selalu menetap di tempatnya sampai membuat sang tuan rumah terganggu.”

18.Posisi Duduk ketika Makan

Dari sahbat nabi muhammad saw yaitu Abu Juhaifah r.a, beliau berkaa, “Nabu muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya aku makan tidak dengan cara bersandar.”

Dari sahbat Nabi Muhamad yaitu Anas r.a berkata, “Aku melihat Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam duduk dengan cara menegakkan kedua betis dan paha (muq’i) ketika makan kurma.”

Dari sahabat Nabi Muhammad saw yaitu Abdullan bin Bisr r.a, ia berkata, “Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi hadiah daging kambing, pada saat memakan daging tersebut, beliau duduk bersimpuh. Seorang dari suku Badui berkata, ‘Duduk (pertemuan) apa ini? Kemudian Nabi Muhammad saw Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah akan menjadikanku untukmenjadi hamba yang begitu mulia, tidak pula menjadikanku sebagai orang yang diktator dan juga pembangkang.”

19.Sifat Makan Orang Sibuk

Dari Anas r.a, Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diberi kurma, kemudian Rasulullah  saw membaginya sambil berjalan dengan cara yang tergesa-gesa, kemudian Beliau memakannya dengan cepat. Dalam riwayat Zuhair, “Makan dengan terburu-buru.”

20.Tutuplah Minuman dan Menyebut Nama Allah pada Saat Tidur

Dari Jabir r.a, Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Tutuplah pintumu, sebutlah nama Allah, matikan lampu dan sebutlah nama Allah, kencangkan (tutup) minumanmu dan juga sebutlah nama Allah, tutuplah bejanamu dan sebutlah nama Allah, meski kamu telah menutupinya dengan sesuatu (yang bukan tutupnya).” 28

21.Makan Bersama dengan Pembantu

Dari sahabat Nabi Muhammad yaitu Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Jika pembantu adalah salah satu seorang di antara kalian datang membawa makanan, jika kalian tidak memintanya duduk bersama maka hendaklah mengambilkan untuknya satu makanan maupun dua makanan, sesuap maupun dua suap. Karena dialah yang telah menangani panasnya makanan dan pengolahannya.”

22.Mendahulukan Makan Malam daripada Shalat Isya

Dari Anas bin Malik r.a, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau kemudian bersabda,

“Jika makan malam sudah dihidangkan sedang shalat (Isya) sudah didirikan maka dahulukanlah makan malam kalian dari pada shalat isya’ kalian.” 30

23.Tata Cara Makan yang Tepat dan Benar di Sebuah Nampan

Dari Ibnu Abbas r.a, Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau berkata, “Jika salah satu dari seorang di antara kalian mengonsumsi makanan di sebuah nampan, maka jangan memulainya dari bagian tengah, tapi dari bagian pinggir, karena keberkahannya terdapat di bagian tengah.” 31

24.Bacaan Setelah Makan

Dari Muadz bin Anas r.a, Nabi Muhammad  Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Siapa yang usai makan, kemudian membaca doa, “Alhamdulilahil Ladzii Ath’amani Hadzath Tha’sama wa Razaqanihi Min Ghairi Haulim Minnii Walaa Quwwah’ (Segala puji bagi Allah yang telah memberi (aku) makanan ini, dan juga  memberi rezekiku ini tanpa kesusahan dan kekuatan dariku), maka akan dimaafkan segala dosa yang telah berlalu darinya.”

Ya Itulah sedikit Artikel tentang Adab atau Tata Cara makan dan minum sesuai dengan agama islam dan Juga sunnah dari Nabi Muhammad saw. Semoga dengan adanya Artikel ini dapat membantu pengetahuan Kalian dan terutama buat pengetahuan saya pribadi.

Adab Makan dan Minum

30+ Adab Membaca Al Quran, Beserta Pengertian, dan Gambar [Lengkap]

30+ Adab Membaca Al Quran Beserta Pengertian Gambar [Lengkap]

Adab Membaca Al Quran – Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, beberapa waktu lalu saya telah membahas sedikit artikel yang bertema tentang Al-Quran.

Dan pada kesempatan ini izinkan saya untuk sedikit menyampaikan informasi tentang Adab Membaca Al-Quran yang baik dan benar sesuai dengan ajaran agama islam.

Pengertian Al Quran

30+ Adab Membaca Al Quran Beserta Pengertian Gambar [Lengkap]
30+ Adab Membaca Al Quran Beserta Pengertian Gambar [Lengkap]
Kita semua tahu bahwa Al-Qur’an merupakan  kalamullah yang sangat mulia. Dan al-Quran bukanlah seorang  makhluk, al-Quran bukanlah buku novel dan al-Quran bukanlah kitab yang dikarang oleh manusia, melainkan al-Quran merupakan  wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril Kepada  Rasulullah Muhammad Saw.

Maka sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim untuk menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya dan selalu membacanya  setiap hari supaya dapat  semakin dekat dengan Rabnya Allah swt.

Apalagi sebentar lagi kita akan memasuki pada bulan Ramadhan, harus lebih semangat lagi untuk menghafal atau membacanya bahkan mampu mengamalkannya.

Adab Adab Membaca Al Quran

30+ Adab Membaca Al Quran Beserta Pengertian Gambar [Lengkap]
30+ Adab Membaca Al Quran Beserta Pengertian Gambar [Lengkap]
Baiklah langsung saja jangan lama – lama, berikut ini merupakan  adab-adab ketika membaca ayat al-Quran yang sesuai tuntunan/sunnah nabi Muhammad Saw:

Disini saya akan berbagi sekitar 28 adab ketika membaca Al-Quran yang bisa anda coba ketika akan membaca kitab Allah ini.

  1. Ikhlas dan Menjadi Orang yang Bertaqwa

Adab membaca ayat suci al-Quran yang pertama yaitu harus bisa  meluruskan niat dan menjadi orang bertaqwa. Karna seorang muslim akan lebih nyaman membaca al Quran jika seseorang mempunyai  niat yang ikhlas.

Sedangkan dengan bertaqwa kepada Allah swt, maka kita akan lebih mudah untuk memahami isi dari Al-Qur’an tersebut. Sebagaimana yang  telah dijelaskan di dalam Qs. Al-Baqarah 282 yang artinya.

Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Q.S Al-Baqarah: 282)

      2. Membaca dalam Keadaan Suci (Berwudhu)

Hendaklah dari kita jika ingin  membaca al Quran dalam keadaan mempunyai wudhu (suci dari hadats kecil). Selain itu dianjurkan juga agar pakaian, badan dan tempatnya harus bersih.

Namun di sini ada beberapa perbedaan pendapat tentang anak kecil. Apakah dari anak kecil harus berwudhu atau tidak saat hendak memegang mushaf al Quran tersebut. Untuk lebih berhati hati sebaiknya dia harus juga berwudhu dan dalam keadaan suci.

Tidak mengapa  ketika seorang guru di kelas memandu anak-anak untuk mengambil air wudhu sebelum membacanya. Katakan kepada mereka bahwa ini merupakan adab seorang muslim saat membaca al-Quran.

  1. Bersiwak sebelum Membaca Al-Quran

Bagi kita yang ingin membaca kitab al-quran ini kita lebih dahulu disunnahkan untuk bersiwak yang bertujuan untuk dapat membersihkan mulut kita.. Dalil tentang sunnah bersiwak ada di hadits yang diriwayatkan dari Hudzaifah, Rasulullah Muhammad saw telah bersabda.

عَنْحُذَيْفَةَبْنِالْيَمَانِرَضِيَاللهُعَنْهُقَالَ : كَانَرَسُوْلُاللهِإِذَاقَامَمِنَاللَّيْلِيَشُوْسُفَاهُبِالسِّوَاكِ

  1. Membaca Ta’awudz Sebelum Membaca Kitab Suci Al-Quran

Disunnahkan juga untuk untuk ketika membaca al-quran sebaiknya membaca taawudz dan basmala terlebih dahulu, kecuali surat at Taubah yang cukup beristi’adzah atau memohon kepada Allah dari godaan syaithon yang terkutuk, tanpa kita mengucapkan  basmalah.

Inilah yang membedakan antara  al-Quran dengan kitab lainnya. Jadi jangan sampai dari kita semua  melupakan adab baca al-Quran yang satu ini.

Allah telah berfirman, “Jika Engkau hendak membaca Al Qur’an maka mintalah kalian sebuah perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (An NAhl 98)

  1. Posisi Membaca Al Quran yang Baik dan Benar

Hendaknya seorang yang sedang membaca al-Quran memposisikan dirinya dengan baik dan juga  benar, karena itu merupakan bagian dari etika membaca al-Quran. Boleh dari kita ketika membaca al Quran sambil berdiri, berjalan, berbaring dan berkendara. Hadits dari Aisyah bahwa Nabi Muhammad saw telah bersabda,

أَنَّالنَّبِيَّصَلَّىاللّهُعَلَيْهِوَسَلَّمَكَانَيَتَّكِئُفِيحَجْرِيْوَأَنَاحَائِضٌثُمَّيَقْرَأُالقُرْآنَ

  1. Memilih Tempat yang Tenang Saat Baca Quran

Ketika kita ingin membaca al-Quran sebaiknya kita mencarilah tempat yang tenang dan waktu yang sesuai karena lebih mengundang bersatunya keinginan kuatnya dan kejernihan hatinya.

  1. Tartil (Perlahan lahan) Ketika Tilawah (membaca) Al-Quran

Setelah poin di atas sudah kalian semua dilakukan, maka membaca al-quran harus dengan tartil (perlahan-lahan). Sebab sunnah ketika membaca al Quran itu secara tartil dan makruh hukumnya apabila membacanya terlalu cepat. Hal ini sudah  dijelaskan dalam firman Allah surat Al Muzzamil ayat 4:

 

اَوْزِدْعَلَيْهِوَرَتِّلِالْقُرْاٰنَتَرْتِيْلًاۗ

au zid ‘alaihi wa rattilil-qur`āna tartīlā

atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Qur’an itu dengan secara perlahan-lahan atau tidak terburu – buru.

  1. Bacaan Mad harus Diperhatikan

Sebenarnya ini bagian dari tartil juga, namun ketika dalam masalah mad (panjang pendek) orang-orang masih banyak yang salah maka perlu ditekankan salah satu poin khusus ini. Kita lebih dianjurkan untuk memperhatikan bacaan-bacaan yang panjang maupun pendek.

Jika terdapat bacaan mad yang panjang maka kita pun harus memanjangkan juga. Sahabat Nabi yaitu Anas pernah ditanya, “Bagaimana cara baca Nabi?” Maka dia menjawab, ‘Beliau membaca dengan memanjangkan, beliau membaca ‘Bismillahirrahmanirrahim.’ Beliau Nabi Muhammad saw memanjangkan ‘bismillaah’, memanjangkan ‘ar rahmaan dan ar rahiim”. (HR. Bukhari)

  1. Membaguskan Suara ketika membaca Al-Quran

Disunnahkan pula bagi kita  agar membaguskan suara dalam membaca Al Quran dan dilarang pula  membaca al-quran dengan dialek yang mendayu-dayu. Nabi muhammad saw telah bersabda,

زَيِّنُواالْقُرْآنَبِأَصْوَاتِكُمْ

“Hiasilah (perindah) suara kalian ketika membaca al Quran.”(HR. Abu Dawud no. 1468, Ibnu Majah no. 1342, An-Nasa-I no. 1015, Ahmad no. 18494, ad-Darimi no. 3543, Shohih, lihat Silsilah Ahaadits as-Shohihah no. 771)

  1. Bersujud ketika Membaca Ayat Sajdah

Termasuk sunnah dan adab ketika membaca al Quran yaitu bersujud ketika melewati bacaan ayat sajdah. Bahkan ketika sedang solatpun  dan kita telah menemukan ayat sajdah seorang imam pun disunnahkan untuk bersujud. Bacaan sajdah pada umumnya sudah ditandai pada mushaf kalian masing-masing. Berupa  tanda seperti bentuk masjid atau yang lainnya.

  1. Tidak Memotong Motong Bacaan

Dianjurkan menyambung bacaan di dalam al Quran dan tidak memotongnya (secara acak). Seorang tabiin Nafi’ telah meriwayatkan, “Bahwa Ibnu Umar ketika membaca al Quran maka beliau tidak akan berbicara hingga beliau selesai darinya…” (HR. Bukhari)

  1. Memulai dengan Ayat yang Sesuai jika Berhenti di Tengah Surat

Apa maksud adab membaca al-Quran yang keduabelas  ini? Maksudnya yaitu pada saat kita berhenti di tengah-tengah surat dan hendak melanjutkan bacaan, maka kita harus memulai dari ayat yang berkaitan (awal kalam) hal itu supaya tidak terputus suatu bacaan tersebut.

Untuk mengetahuinya agar kita dapat membuka terjemahan (bagi yang belum bisa bahasa Arab). Imam An Nawawi telah berkata, “Disunnahkan bagi orang yang sedang membaca Al Quran, apabila dia mulai dari tengah – tengah surat, hendaklah dia memulai dari awal kalam, di mana antara satu dengan lainnya saling berkaitan.”

Contohnya ayat 1, 2 dan 3 membahas tentang Neraka, maka kalau terputus di bagian ayat 2, maka ketika hendak memulai kita harus membaca dari ayat pertama.

  1. Merenung Juga Termasuk Adab ketika Membaca Al Quran

Wajib bagi kalian merenungi (makna-makna) ayat al Quran. Berdasarkan firman Allah dalam surat an-Nisa 82 yang artinya:

a fa lā yatadabbarụnal-qur`ān, walau kāna min ‘indi gairillāhi lawajadụ fīhikhtilāfang kaṡīrā

Maka tidakkah kalian menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukanlah dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak sekali hal yang bertentangan di dalamnya.

  1. Berinteraksi dengan Al-Quran

Setelah kita dapat merenungi, nanti kita akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan ayat-ayat al Quran.

Apa sih maksudnya? Berinteraksi sama dengan seperti memohon surga kepada Allah ketika membaca ayat tentang ini dan memohon perlindungan dari neraka ketika membaca ayat yang menyebutkannya (neraka). Allah juga telah menjelaskan dalam firmannya yaitu surat Shad ayat 29 :

وَوَهَبْنَا لِدَاوٗدَ سُلَيْمٰنَۗ نِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌۗ

wa wahabnā lidāwụda sulaimān, ni’mal-‘abd, innahū awwāb

Dan kepada Dawud Kami telah karuniakan (anak bernama) Sulaiman; dia merupakan sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).

  1. Menangis Ketika Membaca Al Quran

Menangis pada saat membaca dan menyimak al Quran, terdapat sunnah yang tsabit. Tapi adab membaca al quran merupakan salah satu amalan yang mudah apabila kita ingin merenungi dan berinteraksi dengan baik.

  1. Mengeraskan Suara ketika membaca Al – Quran

Ketika kalian sedang membaca Al – Quran kalian Disunnahkan menjahrkan atau mengeraskan suara dalam membaca al Quran apabila tidak menimbulkan kerusakan atau hal-hal Negatif bagi jama’ah lain.

Contohnya ketika kalian sedang berada di samping orang solat maka jangan dikeraskan.

  1. Membaca Tasbih

Termasuk sunnah Rasulullah Muhammad Saw yaitu membaca tasbih ketika melewati ayat yang mengandung tasbih atau penyucian nama Allah dan juga  memohon perlindungan dari azab.

Ketika melewati ayat yang menjelaskan tentang azab serta memohon karunia kapada Allah ketika melewati ayat rahmat. Dan ini juga salah satu jalan kita untuk dapat berintraksi dengannya.

  1. Ketika Berhenti Membaca Al-quran

Ketika kalian sudah merasa ngantuk sekali  alangkah baiknya berhenti membaca Al-quran . Khawatirnya ketika kalian lanjut membaca akan salah semua bacaan kalian sehingga menambahlah dosa kalian semuanya.

Rasulullah Muhammad saw telah bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian sedang melakukan  shalat di malam hari, lalu bacaan al Qurannya menjadi tidak jelas di lidahnya, lalu dia tidak mengetahui lagi apa yang sedang dibacanya, maka hendaklah dia berbaring  untuk istirahat.” (HR. Muslim)

Para sahabat dahulu sangatlah rajin menghafal al-quran, murojaah dan membaca al Quran, siang malam selalu dihiasi dengan al-Quran. Nah, jika kalian juga demikian dan mulai mengantuk berat maka alangkah baiknya hentikan dulu bacaannya.

  1. Ucapan “صدقاللهالعظيم” Apakah juga masuk di dalam Adab Membaca Al-Quran?

Ucapan  kalimat صدقاللهالعظيم setelah selesai membaca al-Quran dan juga  membacanya secara terus menerus yaitu  tidak ma’tsur (tidak sunnah). Ucapan tersebut merupakan kalimat yang benar pada segi maknanya, akan tetapi mengucapkannya secara terus menerus setiap kali usai membaca al-Quran merupakan bid’ah. Karena hal ini tidak didapatkan dari Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam.

  1. Doa Khatam Quran

Tidak ada doa – doa tertentu untuk mengkhatamkan al-Quran dan juga mengadakan perayaan dalam rangka menghafal al-Quran tersebut,  itu bukanlah suatu sunnah dari Nabi Muhammad saw.

Adapun apa yang telah dilakukan oleh banyak orang dengan asumsi bahwa itu merupakan adat kebiasaan dan bukan menyatakan syariat hanyalah sebagai ungkapan rasa gembira dengan adanya nikmat berhasil menghafal al Quran, maka tidaklah mengapa untuk membacanya. Sebagai wujud syukur kalian karena sudah khatam Al-quran ini.

  1. Boleh Membawa al Quran di Saku

Sebagai Seorang muslim kita diperbolehkan membawa mushaf al Quran di kantong atau di saku baju. Dan lebih diutamakan untuk diletakkan di bagian kantong atas dan jangan diletakkan di kantong celana yang sejajar dengan kemaluan.

  1. Makruh Mencium al Quran

Mungkin sebagai kita menganggap ini merupakan amalan yang baik, namun ternyata di dalam kitab “Muntaqa al-Adab as-Syariah (Adab dan Akhlak Islam), Syaikh Majid Sa’ud Al-Ausan” kita dimakruhkan mencium mushaf al Quran dan juga menempelkan di antara kedua mata atau kening.

Pada umumnya biasa dilakukan setelah selesai  membaca al Quran atau ketika mendapatkan mushaf al Quran pada tempat yang sudah kurang terhormat.

  1. Jangan Menempelkan Ayat al-Quran di Dinding

Adab islam terhadap ayat al-Quran  adalah jangan menempelkan ayat-ayat al-quran di tembok. Hal itu sangat dimakruhkan, sebab amat tidak patut menjadikan al Quran di dinding sebagai pengganti perkataan maupun bacaan semata. Bahkan kadang sampai al-quran itu berdebu, kejauhan dan kepanasan.

  1. Mengamalkan Al Quran Setelah Membacanya

Adab yang ini bukan lagi sebagai anjuran kita semua, namun sudah menjadi salh satu kewajiban kita untuk mengamalkan al-Quran setelah kita  membacanya.

  1. Mengingat atau Murojaah Al-Quran

Anjuran untuk selalu  mengingat-ingat Al-Quran dan juga memeliharanya yakni menjadikannya mengulang ulang hafalan sebagai kebiasaan atau rutinitas kita semua.

Rasulullah saw telah  bersabda,

“Peliharalah Al-Quran dengan cara mengulang-ulang hafalannya demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh hafalan al Quran itu lebih mudah lepas daripada unta di ikatan tambatnya.” (HR. Bukhari)

  1. Jangan Membiasakan Mengatakan Hal ini

Termasuk juga etika atau adab ketika  membaca al-Quran menurut Islam yaitu larangan kalian membiasakan mengatakan “Aku lupa”.

Dan yang benar adalah katakanlah, ‘aku dibuat lupa dengan ayat itu.’ atau ‘hafalan ayat ayatku dibuat gugur.’ atau ‘aku dibuat lupa.’

  1. Menyimak dengan Baik

Adab membaca al-quran berikutnya ditujukan kepada pendengarnya. Hendaknya kita yang mendengarnya, menyimaknya dengan baik dan diam serta dengan khusyu’, hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat Al-A’raf ayat 204:

وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Dan apabila dibacakannya  Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu juga mendapat rahmat.

  1. Bolehnya Wanita Haid Membaca Al Quran

Wanita yang sedang haid dan juga nifas boleh membaca al-Quran tanpa sekali menyentuh mushaf al-Quran atau menyentuhnya dengan tabir pelapis (berdasarkan pada pendapat yang lebih shahih dari dua pendapat ulama besar) karena tidak ada riwayat yang tsabit dari Nabi yang mencegah perbuatan tersebut.

Nah itulah ringkasan sedikit tentang adab-adab membaca al Quran dalam Islam yang sesuai Sunnah Nabi. Poin-poin di atas tersebut  berlaku untuk semua usia, baik wanita, laki-laki ataupun yang lainnya.

Semoga dengan adanya artikel singkat ini dapat menambah ilmu pengetahuan anda semua dan terutama bagi diri saya pribadi. Sekian Wassalamu’alaikum wr wb