Kemalisme, Pembaruan Bahasa Turki oleh Mustafa Kemal Ataturk

Bahasa Turki – Setelah Kesultanan Turki Utsmani runtuh. Turki yang semula menjadi pusat peradaban Islam kini menjadi negara Republik yang kebarat-baratan.

Mustafa Kemal Ataturk adalah orang yang mengubahnya.Ia melakukan perombakan negara besar-besaran yang dikenal dengan Kemalisme.

Perombakan ini bertujuan untuk selangkah lebih maju dan menghilangkan sisa-sisa peninggalan Islam, kebudayaan Arab maupun Persia di wilayah Turki. Yang paling menjadi sorotan dari sekian banyak perombakan adalah pembaruan bahasa Turki yang tidak lagi menggunakan tata bahasa dan aksara Arab.

Sejarah Bahasa Negara Turki

Sejarah bahasa resmi negara Turki ini bermula dari berdirinya Khalifah Turki Utsmani selepas wafatnya Urthughril ayah dari Utsman. Kekuasaan Utsman atas suatu wilayah didapat dari warisan sebidang tanah ayahnya. Sebidang tanah tersebut merupakan hadiah dari Kesultanan Seljuk atas jasa Urthughril yang dapat memenangkan peperangan melawan bangsa Romawi.

Semasa hidupnya Urthughril melakukan penaklukan terhadap wilayah-wilayah dibawah kekuasaan Kaisar Romawi. Wilayah yang diwariskan oleh Urthughril terus diperluas oleh Utsman. Wilayah tersebut berbatasan dengan Anatolia, sekitar bagian barat perbatasan Romawi.

Akibat perluasan wilayah yang dilakukan oleh Utsman membuat penduduk asli bangsa Turk mau tidak mau menyamakan bahasa yang dibawa oleh Utsman yang selanjutnya dikenal sebagai bahasa Utsmani. Bahasa ini merupakan gabungan dari bahasa Arab dan bahasa Persia. Aksara yang digunakan pada bahasa Utsmani adalah aksara Arab.

Baca juga : Bahasa Thailand

Turkish Languange (Türkçe)

Bahasa negara Turki adalah bahasa yang digunakan oleh orang-orang yang terpusat di wilayah Republik Turki. Sebanyak 55 juta jiwa dari 65 juta penduduk bangsa Turki menggunakan bahasa ini dalam sekeharian aktivitas mereka. Selain itu bahasa ini disebut juga sebagai Turkish Languange atau Türkçe dalam bahasa lokal.

Secara klasifikasi bahasa, bahasa Republik Turki masuk dalam cabang Turkic Languange pada kelompok Southwestern. Kelompok ini adalah kelompok Oghuz yang terdiri dari wilayah Azerbajain, Gagauz dan Turki.

Secara periode, bahasa negara Turki terbagi ke dalam tiga periode yakni periode lama, periode Islam dan periode Republik. Pada masa kejayaan Islam masuk, yakni pada masa Kesultanan Utsmani bahasa negara Turki mendapat pengaruh dari bahasa Persia dan bahasa Arab. Hal ini berlangsung cukup lama mulai dari abad ke-11 sampai abad ke-19.

Pada akhir abad ke-19 para sastrawan dan cendekiawan mengeluhkan dominasi bahasa Arab dan bahasa Persia yang dianggap susah untuk dimengerti oleh  masyarakat. Apalagi terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara bahasa masyarakat diperkotaan dengan masyarakat dipedesaan.

Keluhan para cendikiawan terkait bahasa ini menimbulkan gejolak yang memaksa pemerintah melakukan reformasi. Hal ini terus berlangsung sampai masa Republik, yaitu masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk.

Masa ini dikenal dengan istilah Kemalisme, di mana Mustafa Kemal Ataturk melakukan reformasi besar-besaran dalam segala aspek, terutama aspek bahasa. Bahasa Turki yang tadinya didominasi oleh bahasa Arab kemudian dirubah, disederhanakan  menjadi bahasa Latin.

Disusul dengan keluarnya undang-undang oleh Majelis Nasional Agung pada tahun 1928. Undang-undang ini berisi tentang pengadopsian dan penerapan huruf Latin. Selanjutnya pada tahun 1932 terjadilah pemurnian dan penyederhanaan bahasa negara Turki.

Baca juga : Manfaat Belajar Bahasa Spanyol

Bahasa Negara Turki dalam Tiga Periode (Lama, Islam dan Republik)

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa perkembangan bahasa negara Turki ini terbagi ke dalam tiga periode. Periode Lama terjadi pada abad ke-7 di mana penduduk asli masih menggunakan bahasa Uyghur dan aksara Orkhon. Bahasa Uyghur juga merupakan cabang bahasa negara Turki. Bahasa ini terus digunakan sampai pada abad ke-9.

Selanjutnya pada abad ke-11 hingga abad ke19 bahasa negara Turki berubah seiring masuknya agama Islam ke dalam wilayah ini, yang kemudian disebut sebagai periode Islam. Bahasa negara Turki pada masa ini banyak menyerap kosakata asing seperti Persia dan Arab.

Pengaruh bahasa Arab sangat terasa pada keilmuan di bidang agama dan hukum, seperti ilmu teologi, ilmu hukum dan ilmu hadits. Bernard lewis mengatakan meskipun bahasa Arab adalah bahasa yang bagus namun penggunaannya tidak cocok untuk Turki.

Meskipun bahasa negara Turki banyak menyerap kosakata Arab dan Persia, namun tetap saja struktur bahasa Arab Persia dengan Turki sangat berbeda. Lewis juga mengungkapkan ada banyak kosakata dalam bahasa Arab yang tidak dapat mewakilkan pengucapan dan ejaan dalam bahasa negara Turki.

Menurut Jasckhe di dalam buku Binnaz Toprak, bahasa Arab adalah bahasa yang sakral dan tidak bisa disandingkan dengan Turkish Languange. Kesakralannya ini membuat jarak antara bahasa Arab lisan dengan bahasa Arab tulis jika tidak dipakai sesuai pada tempatnya, seperti penggunaan bahasa Arab tulis yang diaplikasikan pada bahasa lain.

Pengaruh bahasa Arab Persia di wilayah Turki mengalami peningkatan tajam pada abad ke-15. Banyak seniman dan sastrawan Turki menyerap bahasa tersebut ke dalam karya-karyanya. Menguatnya pengaruh bahasa Arab pada masa Kekhalifahan Turki Utsmani ternyata tidak disambut dengan baik oleh masyarakatnya.

Keresahan akan adopsi bahasa yang seakan dipaksakan ini kemudian menimbulkan gejolak reformasi oleh masyarakat Turki untuk menacari jati diri bahasa. Kemalisme hanyalah buntut dari pergolakan yang dilakukan seorang pegawai negeri dan publisis Turki Mehmed Munif Pasha pada tahun 1828-1910.

Mehmed Munif Pasha berkeyakinan bahwa bahasa negara Turki tidak pantas menjadikan aksara Arab sebagai bagian dari bahasa negara Turki. Aksara Arab terlalu bermakna ambigu jika disandingkan dengan bahasa lain.

Beberapa tokoh sastrawan Turki yang turut menyetujui gerakan reformasi pada periode Islam adalah Ahmed Vefik Pasha, Ibrahim Sinasi, Suleyman Pasha, Recaizadeh Ekrem, Ali Suavi dan Ziya Pasha.

Selanjutnya adalah periode Republik, di mana pergolakan di periode ini masyarakat Turki mulai menemukan sedikit celah untuk menerapkan pembaruan bahasa. Romanisasi mulai diterapkan pada awal tahun 1923. Romanisasi ialah proses peralihan dari aksara non-Latin menjadi aksara Latin.

Romanisasi dilakukan oleh Uni Soviet kepada negara-negara anggotanya yang masih menggunakan bahasa Turki dengan pengaruh Arab Persia seperti Uzbekistan, Kazakhstan dan Azerbaijan, untuk menghilangkan pengaruh Islam yang berdampak pada kesenjangan orang Turki di Soviet dan orang Turki yang menggunakan aksara Arab.

Pada periode ini Uni Soviet yang berhasil memaksa Turki untuk menggunakan aksara Latin, kembali membuat kebijakan untuk menggunakan aksara Cyrillic. Gagasan Romanisasi ini juga disetujui oleh Mustafa Kemal Ataturk, ia beralasan perubahan huruf Arab menjadi huruf Latin lebih bisa digunakan untuk menjalin hubungan diplomatik antar Republik Azerbaijan.

Baca juga : Bahasa Sansekerta

Kebijakan Mustafa Kemal Ataturk Pada Reformasi Bahasa di Turki

Momentum pergolakan para sastrawan Turki, ditambah dengan adanya Romanisasi membuat Mustafa Kemal Ataturk membuat suatu kebijakan yang khusus mengarah pada bidang bahasa dan sejarah. Ditangannya ia ingin membuat Turki menjadi lebih modern dan tidak kalah dengan negara-negara barat lainnya.

Makna modern di sini adalah westernisasi atau pembaratan atau memasukkan unsur kebudayaan yang kebarat-baratan. Langkah awal ia menghapus peradaban Islam adalah dengan cara menghapus pikiran rakyat dari unsur kearabannya. Dari sinilah, reformasi bahasa ala Kemal dimulai.

Ia membuat kebijakan perombakan bahasa ke dalam dua tahap yang disebut dwi-fase. Kebijakan selanjutnya yang ia buat untuk memodernkan Turki adalah menghilangkan dominasi unsur Arab dan Persia dalam kebudayaan Turki.

Baca juga : Fakta Bahasa Rusia

Reformasi Bahasa di Turki

Kemalisme dimulai dari merombak bahasa negara Turki. Mustafa Kemal Ataturk mengeluarkan kebijakan dalam dua tahap, yaitu mengubah aksara Arab menjadi aksara Latin lalu melakukan pemurnian bahasa.

Sebagai langkah kongkrit mengubah aksara Arab menjadi latin, diadakanlah Kongres Turkologi pada tanggal 1 Mei 1926 di Baku. Pada kongres tersebut telah disepakati pengenalan aksara Latin dan penghapusan bahasa dan aksara Arab bagi penutur Turkish Languange baik di Turki maupun di Uni Soviet.

Pada tangal 9 Agustus  1928 huruf latin mulai diadopsi ke dalam bahasa negara Turki. Mustafa Kemal Ataturk merasa cukup puas dengan proses ini. Ia mengapresiasi tahap ini dengan memperkenalkannya di Gulhane Park dalam acara gala malam Partai Republik Rakyat. Selang beberapa hari ia lantas mengenalkannya ke Istana Dolmabahce.

Selain mengenalkan dan mengajarkannya ke dalam pemerintahan. Mustafa Kemal Ataturk juga mulai menginstruksikan penggunaan bahasa negara Turki yang baru pada sektor pemerintahan, hukum supaya dibuatlah aturan yang mengikat warganya untuk menggunakan bahasa negara Turki yang telah diperbarui ini. hukum ini kemudian berlaku pada tanggal 3 November 1928.

Tahap pemurnian bahasa negara ini dimulai dari berdirinya Lembaga Pengkajian Bahasa atau Turk Dili Tektik Cemeyeti pada 12 Juli 1928. Lembaga ini bertugas mengkaji dan mencari bahasa ibu asli dengan menggunakan lima metode.

Lima metode tersebut diantaranya, menghidupkan kosakata yang terdapat pada naskah lama dalam teks Pra Utsmani dan Pasca Utsmani, menggunakan dialek Anatolia, mengenalkan bahasa Altai dan Turki, mengembangkan lingkup semantik yang telah ada dan terbaru, menerjemahkan kosakata Turki dari istilah asing.

Baca juga : Fakta Menarik Bahasa Perancis

Perkembangan Bahasa Negara Turki

Lembaga Pengkajian Bahasa dalam perjalanannya mengalami pasang surut. Namun dampak akibat Kemalisasi ini terlihat. Sebanyak 60.5 % penduduk mulai menggunakan bahasa murni Turki. Dominasi bahasa Arab Persia juga tidak ada lagi.

Dengan begitu bahasa Turki telah berhasil mendapatkan identitas diri dengan memurnikan kembali bahasa ibu mereka. Selama 55 tahun sudah pemurnian bahasa ini dilakukan dan terbukti ampuh mengurangi unsur bahasa dan kebudayaan Arab Persia di tanah Turki.