7 Hal Menarik Tentang Bahasa Jawa yang Jarang Diketahui

Bahasa Jawa Halus– Penggunaan bahasa pada tiap negara diperlukan sebagai sarana komunikasi antar manusia. Namun kegunaan bahasa daerah biasanya dipakai untuk daerah tertentu saja.

Contohnya bahasa Jawa untuk orang Jawa atau orang yang memang tinggal di daerah Jawa. Kini bahasa daerah Jawa tak hanya diperuntukan untuk hal-hal tersebut saja.

Sebab, kini bahasa daerah dari tanah Jawa ini sudah mendunia. Hal ini mungkin terjadi, banyak hal yang mempengaruhi hingga bahasa tersebut dikenal dunia.

Sebut saja Bandara Dubai, Bandara bersekala Internasional ini memakai bahasa daerah Jawa sebagai salah satu bahasa pengantar informasi kepada para penumpang di Bandara.

Keunikan Bahasa Jawa

Bahasa Jawa Halus

Bahasa Jawa Halus

1. Hierarki Bahasa Sunda

Dalam penggunaan intonasi dan kosakata orang Jawa akan menyesuaikan penggunaan dengan lawan bicaranya. Biasanya sebelum berbicara mereka akan lihat dahulu dengan siapa mereka bicara.

Sebab bahasa ini memiliki tingkatan, ada yang kasar atau ngoko sampai yang paling halus atau kromo inggil.

Adapun tingkatan Ngoko ini biasa diucapkan pada lawan bicara Anda lebih muda atau bisa dilihat dari kelas sosialnya lebih rendah. Ngoko pun bahkan mempunyai versi yang paling kasar untuk perbendaharaan untuk kata tertentu.

Sedangkan, kromo inggil ialah tataran atau tingkatan bahasa daerah Jawa yang paling halus untuk digunakan saat Anda berbicara dengan yang lebih tua.

Penuturan kromo inggil disertai dengan perangai yang memperlihatkan rasa hormat misal tangan ngapu rancang atau terkepal dan kepala agak menunduk.

Gambaran pada perbedaan bahasa itu bisa Anda lihat pada kata makan. Untuk penggunaan ngoko, makan adalah mangan, adapun yang lebih kasarnya ialah nguntal.

Sedangkan untuk kata makan dalam kromo ialah nedha. Dan untuk kromo inggil yang luar biasa halus, makan disebut dahar. Tingkatan ini digunakan berdasarkan orang yang diajak bicara.

Baca juga : Bahasa Belanda

2. 10 Bahasa yang Paling Banyak Dipakai di Dunia

Semenjak Indonesia dijajah orang Jawa sudah menduduki populasi terbanyak. Hal ini dimanfaatkan oleh kolonial Belanda untuk meluaskan jankauan kekuasaannya.

Pada akhir abad ke 19 Pemerintah Belanda membuat kontrak kerja dan mengirim orang Jawa ke berbagai tempat. Namun mereka tidak pulang dan memilih untuk menetap di sana.

Salah satu sukun terbesar di Indonesia adalah Orang Jawa. Berdasarkan Data BPS pada tahun 2010 memperlihatkan kalau persentasi populasi orang Jawa sekitar 40% dari total semua penduduk Indonesia atau sampai 95,2 juta jiwa.

Hal ini belum termasuk orang Jawa yang tinggal di luar negeri. Mereka tersebar di Brdi Suriname, Kaledonia Baru, Malaysia, hingga Belanda. Ini pula sebabnya Bahasa Jawa tercantum sebagai 1 di antara 10 bahasa yang paling sering digunakan di dunia.

Baca juga : Bahasa Batak

3. Punya Logat Beragam

Bahasa Jawa memiliki banyak sekali dialek, mulai Bahasa daerah Yogyakarta, Jawa Timuran, Surakarta, sampai ratusan lainnya yang berada di Jawa Tengah dan Timur. Di Jawa Tengah umumnya saja contohnya, terdapat dialek Jawa Timur, Banyumas,  dan Surakarta.

Adapun subdialeknya yakni subdialek Yogyakarta, Purwokerto, Kebumen, Pemalang, Banten Utara, Tegal, Semarang, Rembang, Surakarta (Solo), Cirebon, Madiun, Surabaya, dan Banyuwangi.

Sedangkan dalam dokumen Balai Bahasa untuk Provinsi Jawa Tengah tahun 2008 dengan nama Peta Bahasa di Jawa Tengah, bahasa daerah Jawa di Jawa Tengah terbagi jadi lima dialek, yaitu logat Wonosobo, Banyumas, Semarang, Pekalongan, dan Tegal yang mencakup Kabupaten Brebes dan Tegal. Ini belum terhitung logat dari daerah Jawa Timur dan Cirebon.

Apakah Anda sudah mulai mengerti atau justru Anda bingung prihal dialek ini? Banyaknya bahasa yang membuat Indonesia kaya akan bahasa, tentu akan membingungkan sebab mengingat bahasa beserta dialek tiap daerah itu beragam.

Baca juga : Bahasa Banjar

4. Penutur Jawa Menggunakan Trilingual

Kultur yang dimiliki orang Jawa melekat dengan kuat. Bahasa daerah Jawa telah menjadi bahasa ibu yang diucapkan saat di luar rumah atau bertemu masyarakat dan di dalam rumah.

Tapi ketika cakupan wilayah pergaulannya makin meluas, orang Jawa pastinya akan memakai Bahasa Indonesia.

Bagi Orang Jawa yang ingin menambah pengetahuannya, mereka akan mempelajari Bahasa Inggris. Karenanya, banyak ditemui orang Jawa menjadi trilingual dengan otak dimasukkan kosakata serta tata bahasa dari tiga bahasa di mana strukturnya satu dan lainnya sangat berbeda.

Dari hasil sebuah penelitian ditemukan kalau orang Jawa yang trilingual terbukti bahwa orang Indonesia merupakan jumlah penutur tiga bahasa terbanyak. Orang Indonesia yang memiliki kemampuan atau fasih menggunakan bahasa Jawa, Indonesia, dan Inggris sampai 17,64 % dari trilingual lain di dunia.

Baca juga : Bahasa Bali

5. Aksara Jawa

Aksara Jawa erat kaitannya dengan Bahasa daerah Jawa. Sebelum huruf latin datang, huruf Jawa seperti HaNaCaRaKa sudah lama dipakai sebagai penulisan. Pada dasarnya Aksara Jawa mempunyai 20 suku kata dan juga angka Jawa, tanda baca, dan aksara suara.

Aksara tersebut adalah bentuk perubahan huruf Pallawa pada simbol penulisan Bahasa Sanskerta yang lahir pada Dinasti Syailendra.Tapi sebenarnya Bahasa Jawa tak hanya ditulis di aksara Jawa. Bahasa daerah Jawa pun bisa ditulis dengan huruf Arab. Hal ini dikarenakan adanya proses asimilasi budaya yang dibangun santri Jawa pada abad ke 18.

Sampai kini aksara Jawa masih terus dipelajari di beberapa wilayah penutur pada kurikulum sekolah. Pemerintah daerah pun menegakkan penulisan aksara Jawa di penanda jalan ataupu di papan nama kantor pemerintahan.

Baca juga : Bahasa Manado

6. Memiliki Banyak Turunan Kata

Setiap perbendaharaan kata yang ada dalam struktur bahasa umumnya terbentuk tak hanya untuk menjabarkan proses yang diperoleh dari penglihatan, namun tentang rasa juga.

Begitupun Bahasa Jawa. Paling terlihat pada kata jatuh. Dalam bahasa daerah Jawa, jatuh ini mempunyai banyak bentuk, hal ini tergantung pada proses jatuh dan rasa sakit yang diperoleh.

Jika Anda Jatuh terlempar dengan posisi badan terpental itu disebut njungkel. Bila jatuh ke belakang disebut nggeblak sebab biasanya akan berbunyi blak!. Jatuh pada saat terpeleset dan posisi badan dalam kondisi meluncur disebut ndlosor.

Dan masih banyak lagi kata lain hanya untuk menyebut kata jatuh, yaitu nggasruk, ngglangsar, kejengkang, dan lainnya.

Ada juga kata lain yang terdapat banyak turunan seperti sakit perut. Dalam Bahasa daerah Jawa, bila sakit perut karena maag misalnya sering disebut mlilit. Hak ini beda jika sakit perut karena diare atau begah disebut mules.

7. Diakui Google

Bahasa daetah Jawa juga masuk ke dalam Google Translate atau penerjemah tahun 2013 bersamaan dengan lebih dari 100 bahasa yang lain.

Adanya fitur tersebut, Anda bisa langsung mengartikan atau menerjemahkan Bahasa daerah Jawa tak hanya ke dalam Bahasa Inggris saja, bahkan ke Bahasa negara lain yang menggunakan bahasa penduduk asli seperto Selandia Baru.

Kesuksesan bahasa daerah seperti bahasa Jawa ini, tentu saja tak lepas dari orang Indonesia, khususnya orang Jawa yang melestarikan bahasa tersebut.

Tentu hal ini patut dibanggakan sebagai bahasa daerah Indonesia. Kita harus terus melestarikan dan menganggapnya sebagai warisan budaya yang akan terus ada.

Bahasa Indonesia = Jawa Ngoko = Jawa Krama Inggil

Abadi = Langgeng

Ada = Onok = Wonten

Air = Banyu = Toya

Akan = Arep = Badhe = Ajeng

Anak = Lare/Putra = Putro

Apa = Opo = Menopo

Apa Kabar = Piyekabare = Pripun/Kadospundi

Atas = Nduwur = Nginggil

Ayah = Rama = Romo

Bagaimana = Piye = Kadhospundi

Bahagia = Seneng = Rahayu

Baik = Apik = Sae

Banyak = Akeh = Kathah

Barangkali = Menowo = Menawi

Baru = Anyar = Enggal

Bawah = Ngisor = Ngandhap

Beli = Tuku = Tumbas

Belum = Durung = Dereng

Berapa = Piro = Pinten

Beras = Uwhos

Berhenti = Mangdheg = Kendhel

Berjalan = Mlaku = Mlampah/Tindak

Besar = Gedhe = Ageng

Besok = Sesuk = Mbenjang

Betul = Bener = Leres

Bicara = Omong = Ngendika/Ngendiko

Bilang = Ngomong = Dawuh

Bisa = Iso = Saget

Cantik/Indah = Apik = Endah

Cinta = Seneng = Tresna/Tresno

Dari = Seko = Saking

Datang = Teko = Rawuh

Dekat = Cedak = Cerak

Dengar = Krungu = Miereng

Dia = Deweke = Piyambakipun

Dijenguk = Diendangi = Disambangi

Dimana = Ngendhi = Wonten Pundhi

Dingin = Adem = Asrep

Dipanggil = Dicelok = Ditimbali

Disini = Nangkene = Wontenmriki

Dua = Loro = Kalih

Duduk = Lungguh = Lenggah/Pinarak

Empat = Papat = Sekawan

Enak = Eco = Skeco

Hari Ini = Saiki = Sakmeniko

Ibu = Ibu = Ibu

Ini = Iki = Meniko

Itu = Kui = Niku

Jalan = Dalan = Mergi

Jangan = Ojo = Ampun

Jauh = Adoh = Tebeh

Jelek = Elek = Kirangsae

Kalau/Jika = Menowo = Menawi

Kamar Kecil =  (Kamar) Mburi =  (Kamar) Wingking

Kami = Awakedhewe = Kito

Kamu = Kowe = Panjenengan

Kanan = Tengen = Tengen

Kapan = Kapan = Kapan

Karena = Sebabe/Mergo = Amargi

Kasi = Wenehi = Paringi

Ke = Dateng = Dateng

Kecil = Cilik = Alit

Kemarin = Wingi = Kolowingi

Kira-Kira = Kiro-Kiro = Kinten-Kinten

Kiri = Kiwo = Kiwo

Laki-Laki = Lanang = Kakong

Lapar = Ngelih = Luwe

Lebih = Luwih = Langkung

Lihat = Ndelok = Mrisani

Lima = Limo = Gangsal

Maaf = Ngapunten = Ngapura/Ngapuro

Mahal = Larang = Awis

Makan = Mangan = Dahar/Nedo

Malam = Bengi = Dalu/Ndalu

Mau = Gelem = Kersa

Membuat = Nggawe = Nadamel/Damel

Mengapa = Ngopo = Kadhosmenopo

Mengerti = Ngerti = Ngertos

Meninggal = Mati = Sedho

Minum = Ngombe = Ngunjuk

Murah = Merah = Mirah

Nama = Jeneng/Asma = Asmo

Ngaji = Ngaos

Orang = Uwong = Tiyang/Piyantun

Pagi = Esuk = Enjing-Injing

Panas = Benther = Benther

Panjang =  Dowo = Panjang

Pendek = Cendek = Cendak

Perempuan = Wedhok/Wadhon = Estri

Pergi = Lungo = Tindhak

Pijat = Pijet = Grendha

Pikir = Pikir = Penggalih

Potong = Tugel = Potong

Punya = Duwe = Kagungan

Sakit = Lara = Gerah

Sama = Podho = Sami

Sangat/Sekali = Banget = Sanget

Satu = Siji = Setunggal

Sawah = Sawah = Saben

Saya = Kulo = Dalem

Sedikit = Sithik = Sakedhik

Sekarang = Saiki = Sakmeniko

Selamat Jalan = Segeng Tindak = Sugeng Tindak

Semua = Kabeh = Sedanten/Sedaya

Sepuluh = Sedasa = Sedoso

Seratus = Satus = Setunggalatus

Seribu = Sewu = Setunggalewu

Siang = Awan = Siang

Siapa = Sopo = Sinten

Silahkan = Monggo = Monggopunaturi

Suka = Seneng = Remen

Sulit = Angel

Tahu = Ngerti = Ngertos

Tangan = Tangan = Astho

Terima Kasih = Muwun = Maturnuwun

Tetapi = Mergane = Amargi

Tidak = Ora = Mboten

Tiga = Telu = Tigo

Tua = Tuwo = Sepuh

Uang = Duwit = Artho

Ya = Yoh = Inggih/Injih

Yang Mana = Singendhi = Ingkangpundhi

Bahasa Jawa Halus

Bahasa Jawa Halus

Bahasa Jawa Halus

Bahasa Indonesia Bahasa Jawa Halus
 Ada  Wonten
 Baik  Sae
 Banyak  Kathah
 Beli  Tumbas
 Beli  Tumbas
 Belum  Dereng
 Berhenti  Kendhel
 Berhenti  Kendhel
 Besar  Ageng
 Betul  Leres
 Bicara  Ngendika/Ngendiko
 Bilang  Dawuh
 Bisa  Saget
 Cantik atau indah  Endah
 Cinta  Tresna atau tresno
 Datang  Rawuh
 Dekat  Cerak
 Dekat  Cerak
 Dengar  Miereng
 Di sini  Wontenmriki
 Duduk  Lenggah atau pinarak
 Duduk  Lenggah atau pinarak
 Jangan  Ampun
 Jauh  Tebeh
 Jauh  Tebeh
 Jelek  Kirangsae
 Kanan  Tengen
 Kanan  Tengen
 Karena  Amargi
 Kasih  Paringi
 Kecil  Alit
 Kiri  Kiwo
 Kiri  Kiwo
 Lihat  Mrisani
 Makan  Dahar atau nedo
 Mau  Kersa
 Membuat  Nadamel atau damel
 Membuat  Nadamel atau damel
 Mengerti  Ngertos
 Minum  Ngunjuk
 Pergi  Tindhak
 Pikir  Penggalih
 Pikir  Penggalih
 Punya  Kagungan
 Sama  Sami
 Sedikit  Sakedhik
 Selamat jalan  Sugeng tindak
 Suka  Remen
 Tetapi  Amargi