6 Tokoh Nasional yang Mahir Bahasa Belanda

Bahasa Belada – Bahasa Belanda termasuk bahasa kategori Germanic Barat yang ada kaitannya juga dengan bahasa Jerman.

Bahasa ini juga memiliki sedikit kemiripan dengan bahasa Inggris. Bahasa yang dituturkan oleh lebih dari 20 juta jiwa di dunia ini turut menjadi bahasa resmi beberapa negara, diantaranya Suriname, Aruba, Belgia, Sint Marten dan Curacaou.

Bahasa ini begitu lekat di pendengaran, karena beberapa bangsawan kita menggunakan bahasa ini untuk berinteraksi dengan tentara dan elite politik Belanda pada masa penjajahan.

Beberapa kosakatanya pun juga diserap ke dalam bahasa Indonesia.

6 Tokoh Nasional yang Mahir Bahasa Belanda

Bahasa Belanda

Sumber image : his-travel.co.id

Selain bangsawan, beberapa tokoh nasional berikut juga menguasai bahasa negara Belanda dan tergolong sebagai poliglot jenius.

R.A. Kartini

Raden Ajeng Kartini, atau yang biasa kita kenal dengan R.A Kartini adalah tokoh emansipasi wanita. Ia hidup pada zaman penjajahan Belanda. Wanita yang lahir pada tanggal 21 April, 55 tahun silam merupakan anak bangsawan.

Ayahnya seorang bupati Jepara bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Ibunya adalah M.A. Ngasirah.
Sosok Kartini dikenal cerdas semasa bersekolah walau darah Jawa yang mengalir ditubuhnya kerap menjadi bahan olok-olokan oleh teman-teman Belandanya.

Sayangnya ia hanya sampai menempuh pendidikan sekolah dasar, karena adat istiadat Jawa yang melarang perempuan belajar hingga ke jenjang yang lebih tinggi.

Meski demikian semangat Kartini dalam menuntut ilmu tidak pernah padam, diam-diam ia gemar membaca surat kabar, majalah dan buku-buku yang menuliskan tentang pergerakan emansipasi wanita di Eropa.

Ia bersemangat ketika mengetahui bahwa di luar sana wanita sudah lebih disetarakan kedudukannya. Ia bercita-cita mengusung budaya emansipasi wanita di Indonesia.

Wanita yang wafat pada usia 25 tahun ini dikenal fasih berbahasa Prancis dan Belanda. Ia seringkali menuliskan surat ke rekan-rekannya dengan menggunakan bahasa tersebut. Karena kecerdasannya pula, Kartini disukai elite Belanda.

Momen ini ia manfaatkan untuk mencuri ilmu dan informasi sebanyak mungkin untuk diajarkan kepada perempuan-perempuan Indonesia.

Kemampuan bahasanya juga membuatnya terasing dan dijuluki sebagai ‘mukjizat’ oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Ia lahir di tanah Jawa, namun terpikat menggunakan bahasa kolonial Belanda hingga dalam kesehariannya ia sering menulis dalam bahasa itu.

Salah satu yang ditulis adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang yang telah diterjemahkan Armijn Pane pada 1936.

Baca juga : Bahasa Batak

R.M.P. Sosrokartono

Selanjutnya adalah kakak R.A. Kartini, yaitu Raden Mas Panji Sosrokartono alias R.M.P. Sosrokartono. Orang-orang lebih mengenal tokoh ini dengan nama Kartono.

Ia adalah seorang Dokter, penerjemah dan sebagai jurnalis Perang Dunia I. Cendikiawan ini lahir pada tanggal 10 April 1877 di Jepara. Ialah sosok yang menginspirasi Kartini.
Tokoh Indonesia ini mendapatkan julukan De Javanese Prins karena kejeniusannya.

Sosrokartono mahir dalam 10 bahasa daerah Indonesia dan 24 bahasa asing, termasuk bahasa Belanda. Dengan kemahirannya menguasai bahasa, ia bisa mengalahkan poligot dari Amerika dan Eropa. Hingga mampu menjabat sebagai kepala penerjemah (LBB) Liga Bangsa-Bangsa.

Baca juga : Bahasa Banjar

Roehanna Koeddoes

Tak banyak yang tau tokoh Indonesia satu ini. Ialah Roehanna Koeddoes seorang jurnalis wanita, pendiri surat kabar pertama di Indonesia, Soenting Melayu pada tahun 1912.

Menariknya semua anggota redaksi surat kabar Soenting Melayu adalah perempuan. Sebelumnya diketahui Roehanna kerap mengirimkan tulisannya ke media Poetri Hindia.

Wanita kelahiran 20 Desember 1884 di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat ini memiliki komitmen serta pendirian yang tinggi untuk mendidik perempuan-perempuan Indonesia.

Walaupun ia tidak mengenyam bangku sekolah, namun ia mempertajam kemampuan literasinya dengan membaca majalah terbitan Belanda yang membahas tentang politik dan gaya hidup.

Di usia yang masih muda Roehanna sudah mampu membaca dan menulis. Ia pun mahir berbahasa Arab dan Belanda.

Juga fasih menggunakan aksara Arab, Arab-Melayu dan Latin. Hal tersebut tak lepas dari pendidikan non formal yang ia dapat dari didikan ayahnya Mohamad Rasjad Soetan seorang jurnalis dan pegawai pemerintahan Belanda.

Belum lama ini, Roehanna Koeddoes mendapatkan gelar pahlawannya dari Presiden Joko Widodo, setelah sebelumnya sempat ditolak 2 kali.

Tidak banyak yang tahu jika ternyata ia adalah kakak tiri Soetan Sjahrir, bibi dari penyair tersohor Chairil Anwar dan sepupu dari K.H. Agus Salim.

Baca juga : Bahasa Bali

K.H. Agus Salim

Satu lagi tokoh Indonesia yang berasal dari Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, yaitu Haji Agus Salim. Pria dengan nama asli Mashudul Haq ini lahir pada tangga 8 Oktober 1884. Ia merupakan lulusan ELS (Europeesche Lagere School).

ELS adalah sekolah istimewa untuk anak-anak Eropa.
Setelah lulus dari ELS, kemudian ia melanjutkan sekolahnya di HBS (Hoogere Burgerschool) dan lulus dengan nilai terbaik se-Hindia Belanda.

Haji Agus Salim sempat berkarier untuk konsulat Belanda di Jeddah. Lalu terjun ke bidang jurnalistik pada tahun 1915. Ia juga dikenal menguasai bahasa Inggris, Jerman, Arab, Belanda dan dipercaya menjadi Menteri Luar Negeri.

Baca juga : Bahasa Arab

Ir. H. Soekarno

Presiden pertama Indonesia, Ir. H. Soekarno ini merupakan tokoh yang menguasai banyak bahasa asing. Sosok Soekarno termasuk dalam tokoh poliglot dunia.

Tokoh yang akrab disapa Bung Karno ini menjabat sebagai Presiden Indonesia pada tahun 1945 hingga 1967. Kedudukannya digulingkan oleh Soeharto dengan dalih antek PKI.
Soekarno adalah orator yang hebat.

Ia mampu menguasai bahasa Belanda, Inggris, Arab, Jepang, Sunda, Jawa, Bali. Ia merupakan lulusan Hogere Burgerschool (HBS). Di sanalah ia mendapatkan kemampuan bahasanya. Soekarno adalah jenius, ia mampu mengingat suatu hal sangat jelas tanpa perlu menggunakan metode apapun. Kemampuan ini disebut Eidetic Memory.

Baca juga : Bahasa Aceh

M.T. Haryono

M.T. Haryono adalah tokoh pahlawan dari Surabaya. Ia lahir pada 20 Januari 1924. Tokoh nasional ini menamatkan pendidikannya di ELS (Europeesche Lagere School) dan HBS (Hoogere Burgerschool), kemudian ia melanjutkannya sekolah kedokteran Ika Dai Gakko pada masa penjajahan Jepang di Jakarta, walau tidak sampai lulus.
Ketika proklamasi sedang berlangsung, ia berada di Jakarta untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Ia lantas bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan mendapatkan gelar mayor.
Pada tahun 1945-1950, paska proklamasi dikumandangkan ia sering berpindah-pindah tempat karena ditugaskan untuk menjaga pertahanan negara.

Dalam masa perundingan dengan Belanda dan Inggris, ia kerap ditempatkan di kantor penghubung sebagai Sekretaris Delegasi RI. Ia juga sempat menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara.

Serta menjabat sebagai Wakil Tetap Kementrian Pertahanan Perihal Gencatan Senjata. Jabatan sebagai Sekretaris Delegasi Militer Indonesia juga pernah di ampunya ketika ia menghadiri KMB (Konferensi Meja Bundar).

Tenaganya dibutuhkan lantaran kemampuannya dalam menguasai berbagai bahasa, yakni bahasa Jerman, Belanda dan Inggris.

M.T. Haryono tewas karena usahanya mempertahankan ideology Pancasila. Ia gugur sebagai Pahlawan Revolusi. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pangkatnya yang semula Mayor Jendral dinaikkan satu tingkat menjadi Letnan Jendral sebagai bentuk penghargaan atas jasanya.

Keenam tokoh diatas adalah jenius yang mampu menguasai banyak bahasa asing, khususnya bahasa Belanda. Kemampuan bahasa tersebut mereka gunakan untuk memajukan peradaban bangsa Indonesia lewat caranya masing-masing.

Baca juga : Bahasa Minang