Apa Itu Dejavu, Dan Kenapa Dejavu Dapat Terjadi Pada Manusia ?

Apa Itu Dejavu, Dan Kenapa Dejavu Dapat Terjadi Pada Manusia ?

Apa Itu Dejavu – Pasti dari kalian pernah mengalami yang namanya Dejavu. Pernahkah kalian ke suatu tempat untuk pertama kalinya namun merasa seperti sudah mengenal betul tempat tersebut. Atau pernahkah kalian merasa seperti mengulang suatu kejadian berulang kali.

Itulah yang disebut dengan sensasi  dejavu. Hampir semua orang atau dapat dikatakan sekitar 80 % orang di seluruh dunia pasti pernah mengalami yang namanya dejavu. Peristiwa dejavu lebih sering terjadi pada orang dewasa sebab orang dewasa akan lebih cepat menyadari suatu peristiwa dejavu dibandingkan dengan anak-anak.

Tetapi menurut penelitian dejavu juga ternyata dapat dialami oleh anak-anak loh. Membahas lebih lanjut mengenai dejavu, tahukah kalian apa itu Dejavu?

Pengertian Dejavu

Apa Itu Dejavu

Dejavu sebenarnya berasal dari bahasa Perancis yang berarti “ pernah mengalami”. Secara harfiah Dejavu berarti sebuah perasaan atau sensasi yang dirasakan seseorang dimana ia merasa pernah mengalami peristiwa tersebut.

Banyak yang menganggap jika Dejavu adalah sebuah pertanda atau sering dihubungkan dengan hal-hal berbau mistis ataupun sebuah intuisi. padahal menurut para ahli ada sebuah penelitian ilmiah yang mampu menjelaskan mengenai peristiwa tersebut.

Dejavu biasanya banyak dirasakan oleh mereka yang berumuran antara 15 hingga 25 tahun. Dan dapat terjadi baik pada pria maupun wanita dengan jumlah yang hampir merata. Ada beberapa contoh dejavu, yaitu:

Deja Senti

Jenis dejavu satu ini memiliki makna yang berarti “ pernah merasakan”. Maksudnya adalah suatu peristiwa yang tanpa perlu kit aungkapkan dengan perkataan namun hanya cukup kita merasa seperti pernah merasakannya sebelumnya.

Contohnya, ketika kita sedang mengobrol dengan teman lalu kalian menanggapi perkataan mereka dengan “ oh iya benar” atau “ saya ingat” lalu sebuah perasaan seperti kalian pernah melakukan pembicaraan seperti itu muncul selama beberapa detik, itulah yang disebut dengan deja senti.

Deja Vecu

Jenis yang satu ini memiliki detail peristiwa yang tergambar jelas. Deja vecu sendiri memiliki arti “ mengalami”. Saat seseorang mengalami deja vecu, tidak hanya tempat dan suasana namun suara, rupa, bahkan aroma yang tercium saat itu tergambar jelas sama seperti sebuah peristiwa di masa lampau.

Deja Visite

Deja visite berarti “ pernah mengunjungi”, yaitu suatu peristiwa seakan-akan pernah mengunjungi suatu tempat padahal baru pertama kali datang ke tempat tersebut. Hal ini sering dikaitkan dengan pengalaman spiritual padahal ada penjelasan ilmiahnya.

Jika Dejavu adalah sebuah perasaan seperti mengulang suatu peristiwa, maka kebalikan dari Dejavu adalah jamais vu, berasal dari bahasa Perancis yang berarti tidak pernah. Jamais vu dapat dikatakan adalah sebuah sensasi dimana kita justru merasa tidak pernah mengalami peristiwa tersebut padahal hal tersebut dapat dikatakan rutinitas dan hal yang kita lakukan.

Adapun ciri-ciri daari dejavu adalah sebagai berikut:

  • Peristiwa dejavu dapat muncul kapan saja dan dimana saja
  • Proses terjadinya dejavu hanya dalam waktu yang amat singkat atau seperti sekelebat memori
  • Karena terjadi secara tiba-tiba maka dejavu tidak dapat diprediksi kapan akan muncul

Penyebab Dejavu

Apa Itu Dejavu

Dejavu dikatakan tidak memiliki hubungan apapun dengan kebetulan belaka karena sebenarnya ada penjelasan dibaliknya. Dejavu menurut para ahli ada dua faktor penyebabnya.

Pertama, dikatakan bahwa Dejavu ada yang disebabkan karena pengaruh penyakit epilepsi yang bersifat patologis dan yang bersifat non patologis yang biasa menyerang orang sehat biasa dan biasanya merupakan sebuah gejala psikologis.

Dejavu yang bersifat patologis memiliki hubungan dengan adanya penyakit epilepsi yang mungkin diderita seseorang. Penelitian mengungkapkan bahwa Dejavu berkaitan erat dengan penyakit Temporal Lobe Epilepsi atau TLE.

TLE adalah sebuah kelainan kronis yang menyerang sistem saraf. TLE adalah salah satu jenis epilepsi yang paling banyak ditemukan dan biasanya menyebabkan kejang-kejang pada satu bagian otak saja. TLE biasanya menyerang anak-anak hingga remaja yang menginjak usia dewasa.

Biasanya gejala yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah:

  • Sebuah sensasi Dejavu ataupun jamais vu
  • Amnesia, atau kehilangan suatu ingatan
  • Ketakutan dan kecemasan secara mendadak
  • Pusing
  • Halusinasi
  • Macropsia atau kelainan penglihatan dimana melihat sebuah objek menjadi jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya
  • Microspia yaitu sebuah kelainan dimana melihat sebuah objek jauh lebih kecil dari ukuran sebenarnya
  • Sinestesia
  • Gangguan emosi seperti merasa bahagia, takut, marah, dan lainnya.

Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa Dejavu dapat terjadi karena gejala penyakit epilepsi yang ditimbulkannya.

Hal ini disebabkan karena pengaruh adanya kelainan pada sistem saraf yang berhubungan dengan aliran listrik atau sinyal ke otak mengalami gangguan menyebabkan adanya sensasi kuat seperti suatu kejadian ataupun peristiwa telah terjadi sebelumnya dan terulang lagi.

Ada juga teori yang mengatakan bahwa dejavu terjadi karena adanya kesalahan penerimaan pada bagian memori otak kita. Otak kita memiliki dua tempat penampungan memori yaitu Long Term Circuits dan Short Term Circuits.

Long term circuits bertugas untuk menampung memori atau ingatan kita akan suatu kejadian, tempat, orang, suasana, dan lainnya dalam jangka waktu panjang. Sedangkan Short term circuits bertugas menampung peristiwa ataupun tempat, waktu, orang, dan lainnya yang bersifat baru saja terjadi sehingga masih segar dalam ingatan.

Dejavu terjadi ketika otak kita salah menempatkan ingatan yang baru saja terjadi. Ketika otak menerima rangsangan berupa memori ingatan yang baru saja terjadi, otak segera mentransfer memori tersebut ke bagian long term circuits tanpa melewati short circuits, karena itulah memori yang terjadi ketika kita melihatnya kembali terasa seperti sebuah ingatan dari masa lampau.

Teori lainnya mengatakan bahwa prosses terjadinya dejavu disebabkan oleh rhinal cortex yaitu salah satu bagian yang bertugas untuk mendeteksi rasa familiar. Untuk dapat mendeteksi rasa familiar, rhinal cortex harus diaktifkan oleh hipokampus, yaitu bagian otak lainnya yang berfungsi dalam hal memori.

Saat hipokampus mengaktifkan rhinal cortex maka akan muncul perasaan familiar terhadap suatu peristiwa, namun saat prosses dejavu terjadi rhinal cortex telah diaktifkan tanpa melalui hipokampus sehingga muncul rasa seolah-olah kita merasa familiar dengan suatu hal. Namun hal ini belum dapat dipastikan karena perasaan familiar sangatlah abstrak dan kurang spesifik.

Para peneliti juga telah melakukan berbagai macam penelitian untuk mengetahui apakah ada hubungan antara Dejavu dengan gangguan mental seperti anxiety, dissociative identity disorder, maupun schizophrenia. Namun dari hasilnya dapat dikatakan bahwa tidak ada korelasi apapun antara Dejavu dengan gangguan mental.

Untuk itu para peneliti mulai melihat apakah ada sebuah kemungkinan antara Dejavu dengan genetik. Hasilnya nihil, dapat dikatakan bahwa tidak ada hubungan antara Dejavu dengan genetik. Namun ditemukan bahwa ada hubungan antara Dejavu dengan salah satu gen pada kromosom 10, yaitu LGII. Gen tersebut merupakan gen yang memiliki hubungan dengan adanya penyakit epilepsi.

Penelitian juga mengatakan bahwa beberapa jenis obat dapat meningkatkan potensi terjadinya Dejavu. Obat seperti amantadine dan phenylpropanolamine untuk meredakan flu terbukti meningkatkan munculnya peristiwa Dejavu.

Menurut peneliti Taimininen dan Kaaskelainen mengatakan bahwa kandungan dopamine pada obat tersebut menstimulasi elektron pada otak.

Sejauh ini dejavu belum dapat disembuhkan karena penyebabnya pun belum terlalu jelas. Dejavu juga bukanlah suatu penyakit kronis meskipun ada sebagian besar orang yang kerap mengalami peristiwa ini dalam rentan waktu yang cukup lama, namun dejavu tidak berbahaya bagi kita karena belum ada satu pun kasus yang terjadi karena disebabkan oleh peristiwa dejavu.

Peristiwa Dejavu

Apa Itu Dejavu

Peristiwa terjadinya dejavu dapat terjadi karena seseorang mengalami dua kali sensor rangsangan secara berurutan. Sensor yang pertama terjadi secara cepat dan sangat jelas sehingga membuat seseorang menjadi kehilangan fokus yang menurut para peneliti kejadian itu terjadi dalam proses yang begitu dalam pada otak kita.

Sehingga ketika peristiwa kedua terjadi menimbulkan seuatu perasaan familiar. Selain itu hasil penelitian ilmiah para ahli, berikut beberapa penjelasan bagaimana peristiwa Dejavu terjadi.

Berdasarkan Ingatan.

Seseorang yang sering mengalami peristiwa dejavu dikatakan memiliki daya ingatan yang baik. Hal ini disebabkan ketika peristiwa dejavu terjadi, memori atau ingatan yang tersimpan akan kembali karena dipicu oleh suatu aktivitas atau kejadian tertentu yang masih berhubungan.

Sisa-sisa kenangan dari suatu memori lama yang tidak diketahui secara pasti atau terlihat samar-samar atau yang disebut dengan implicit memory dapat memicu reaksi pada otak kita yang membuat suatu kejadian seperti sudah pernah terjadi sebelumnya.

Ada juga yang disebut dengan cryptomnesia atau rekonstruksi suatu ingatan. Proses cryptomnesia terjadi ketika suatu peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu telah lama hilang dan dilupakan namun sebenarnya masih tersimpan di dalam otak kita.

ketika suatu kejadian yang memiliki karaktersitik sama denga informasi pada peristiwa masa lampau tersebut muncul, akhirnya mengaktifkan suatu perasaan familiar atau akrab yang disebut dengan dejavu.

Menurut para peneliti, memori kita sebenarnya tersusun atau terbentuk dari suatu proses rekonstruksi memori-memori lama yang sudah pernah, jadi bukan murni karena suatu peristiwa yang baru.

Semua memori yang kita punya merupakan suatu proses pembentukkan ulang, penjabaran, penyimpangan dari memori kita yang telah lama ada atau bahkan memori lama yang sudah dibuang atau dilupakan kembali lagi menjadi memori baru.

Untuk terjadinya suatu proses dejavu maka harus ada suatu titik temu atau hal yang menghubungkan antara memori ingatan sekarang dengan memori ingatan yang lama.

Bahkan menurut ahli, memori hasil dari rekonstruksi tersebut merupakan suatu memori yang sangat jauh berbeda dari memori yang sebelumnya namun masih memiliki rasa atau karakteristik yang serupa.

Berdasarkan Mimpi

Ternyata mimpi dapat juga disangkutpautkan dengan terjadinya suatu peristiwa dejavu, ada tiga aspek dimana mimpi dapat mempengaruhi proses terjadinya dejavu, yaitu

  • Pertama, beberapa orang mengalami kejadian dejavu yang berawal dari mimpi. Jadi peristiwa dejavu yang mereka alami merupakan bentuk visualisasi dari mimpi yang pernah mereka alami. Gambaran yang mereka alami di dalam mimpi masih menyisakan jejak memori dalam ingatan yang akhirnya terpicu oleh suatu peristiwa yang memiliki kesamaan atau terasa familiar. Menurut penelitian Brown pada tahun 2004, sebanyak 20% orang mengatakan mengalami dejavu dari mimpi mereka.
  • Kedua, pada kasus kedua dejavu terjadi karena ada beberapa bagian pada mimpi dan kenyataan yang mirip sehingga menimbulkan rasa mirip atau familiar. Menurut peneliti Zuger pada tahun 1966, diketahui bahwa ada hubungan nyata antara sebuah mimpi atau kejadian dalam mimpi dengan peristiwa dejavu yang dialami seseorang.
  • Ketiga, seseorang bahkan dapat mengalami peristiwa dejavu dalam mimpi. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengalami mimpi yang mirip dalam rentan waktu tertentu yang membuat seseorang mengalami dejavu dalam mimpi.

Dalam suatu penelitian belum diketahui secara pasti penyebab peristiwa dejavu pada manusia yang sehat. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kemungkinan terbesar seseorang mengalami dejavu adalah karena adanya anomali pada bagian sistem syaraf.

Namun pada seseorang yang sehat peristiwa dejavu dapat saja terjadi karena beberapa faktor, salah satunya seperti seseorang yang sering berpergian jauh ataupun senang menonton film pasti mengalami peristiwa dejavu yang lebih sering dibandingkan lainnya.

Peristiwa dejavu juga dapat sering muncul ketika seseorang dalam suatu kondisi yang lemah seperti sedang dalam tekanan. Penelitian juga mengkupkan peristiwa dejavu akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia.

Baca Juga : Apa Itu Psikopat

Leave a Comment