Alat Musik Tifa, Irama Khas Bumi Papua dan Maluku

Alat Musik Tifa – Salah satu ciri khas kebudayaan Indonesia Bagian Timur adalah ekspresi jiwa keseniannya yang ramai dan riuh.

Ekspresi tersebut tertuang ke dalam irama musik yang dialunkan oleh alat musik Tifa, gendang tabuh khas masyarakat Papua dan Maluku.

Alat musik ini biasa digunakan oleh beberapa laki-laki dewasa untuk mengiring upacara adat dan tarian tradisional.

Alat Musik Tifa

Alat Musik Tifa

Alat Musik Tifa

  1. Sejarah Gendang Tifa

Dibalik keunikan alat musik ini terdapat sejarah di dalamnya. Terdengar simpang siur cerita sejarahnya. Namun cerita yang paling santer terdengar adalah kisah dua bersaudara dari Biak.

Dua bersaudara tersebut bernama Frainum dan Sarenbayer. Keduanya memiliki hubungan yang sangat baik.

Fraimun memiliki arti gagang senjata yang digunakan untuk perang dan membunuh musuh. Sementara Saren berarti busur dan Bayer artinya tali busur.

Sehingga secara keseluruhan nama-nama tersebut berarti anak panah yang tersemat pada busur. Kedua bersaudara ini meninggalkan Maryendi, desanya yang tenggelam dan tinggal di Wampember, Biak Utara.

Suatu hari keduanya hendak berburu di malam hari. Dalam perburuan, secara kebetulan mereka menemukan pohon opsur yang menghasilkan suara di tengah hutan.

Pohon tersebut menjadi sarang soa-soa, lebah madu, biawak serta binatang kecil lainnya. Kemudian, mereka memutuskan kembali keesokan harinya untuk menebang pohon tersebut.

Setelah menebangnya mereka mengosongkan bagian tengah pohon dengan mengeruknya sehingga membentuk sebuah pipa.

Mereka mengeruknya menggunakan nibong. Nibong adalah alat yang terbuat dari besi panjang dan tajam ujungnya. Untuk menutupi ujung pipa kayu tersebut mereka menggunakan kulit soa-soa. Kemudian alat tersebut disebut sebagai Tifa.

Baca juga : Alat Musik Tradisional Barat

  1. Langkah-langkah Pembuatan Tifa

Membuat gendang Tifa sangatlah mudah. Dengan langkah sederhana alat musik ini bisa dibuat menggunakan kayu lenggua dan kulit hewan.

Lantaran gendang ini diberi ukir-ukiran sehingga membuatnya memiliki nilai yang tinggi dan menjadi alat musik istimewa.

Untuk membuat alat musik Tifa yang istimewa, hendaknya memiliki pohon jenis lenggua yang memiliki kualitas tinggi.

Kayu ini kemudian dibentuk menjadi gendang dengan berbagai macam ukuran dan ketinggian. Masing-masing daerah di Papua memiliki karakter dan standar ukurannya tersendiri.

Kayu lenggua yang sudah dibentuk kemudian dikosongkan dibentuk menjadi tabung. Tujuannya agar rongga udara yang terbentuk menghasilkan bunyi nyaring ketika dipukul.

Mengosongkan kayu lenggua tidak membutuhkan waktu yang lama karena pembuatnya menggunakan nibong untuk memudahkan prosesnya.

Setelah kayu sudah dilubangi bagian tengahnya kemudian kedua ujung lubang pada kayu ditutup dengan kulit hewan.

Kulit hewan yang digunakan rata-rata adalah kulit rusa yang telah dikeringkan. Namun pada daerah tertentu penutup Tifa terbuat dari soa-soa atau biawak kering.

Setelah kulit hewan tersebut dikeringkan, kemudian langkah selanjutnya adalah dengan memanaskannya supaya kulit hewan tersebut tertarik kencang.

Semakin kering dan semakin kencang kulit hewan akan semakin nyaring bunyi yang dihasilkan ketika dipukul.

Terakhir, selesai Tifa ditutup dengan kulit kayu selanjutnya adalah mengukir badan Tifa untuk memberikan sentuhan estetis.

Ukiran yang terbentuk pada badan Tifa sangat disesuaikan dengan daerah asal pembuatannya. Seperti halnya ukiran Tifa Papua dan Maluku yang memiliki perbedaan corak bervariasi dan kontras.

Baca juga : Alat Musik Tradisional Utara

  1. Jenis-jenis Alat Musik Tifa

Beda daerah beda juga jenis Tifanya. Seperti Tifa Papua dan Maluku yang memiliki jenis yang beda berdasarkan bentuknya.

Bentuk Tifa Papua memiliki lengkungan dan pegangan pada bagian tengahnya. Sedangkan Tifa Maluku berbentuk seperti tabung biasa tanpa pegangan.

Pada umumnya terdapat lima jenis Tifa, yakni Tifa Jekir, Jekir Potong, Dasar, Potong dan Bas.

Kelima jenis Tifa ini dapat dibedakan dari warna suaranya. Sehingga untuk memainkannya harus memadu-madankan irama setiap jenis Tifa sampai akhirnya timbul suara yang selaras.

Di Maluku, Tifa memiliki namanya sendiri, tergantung dari mana ia berasal. Jika ia berasal dari Maluku Tengah maka disebut tihal atau tahito. Jika berasal dari Pulau Aru maka disebut titir.

Baca juga : Alat Musik Tradisional Selatan

  1. Cara Memainkan Alat Tifa

Alat musik Tifa dimainkan dimainkan sesuai dengan jenisnya. Bisa dengan menggunakan tangan kosong atau menggunakan alat pukul.

Alat musik ini tidak jauh berbeda dengan Gendang yang hanya memiliki satu suara. Jadi, jika ingin memainkannya harus dipadu-padankan dengan alat musik lainnya. Namun keberadaannya tetaplah penting sebagai pengatur irama.

Baca juga : Alat Musik Tradisional Riau

  1. Fungsi Alat Musik Tifa

Entah di daerah Papua atau Maluku, Tifa memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk mengiringi upacara adat masyarakat setempat, tarian tradisional dan nyanyian suku.

Terkadang alunan Tifa juga diiringi oleh alat musik lain yaitu Totobuang dalam tarian suku Asmat dan tari Gatsi. Kehadiran Tifa juga berfungsi mempengaruhi gerakan dan hentakan pada tampilan tari.

Totobuang merupakan alat musik melodis dengan varian nada dalam satu rangkaiannya. Bentuknya menyerupai bonang, instrumen gamelan Jawa.

Gambaran spesifiknya seperti gong kecil yang berjejer rapi dalam berbagai ukuran.

Baca juga : Alat Musik Pukul

  1. Perubahan Alat Musik Tifa dari Masa ke Masa

Hingga kini alat musik khas Tifa masih bisa kita temui karena dilestarikan dengan baik oleh masyarakat Papua dan Maluku. Karena seperti  yang kita ketahui alat musik ini masih dipakai untuk mengiringi kegiatan adat dan kesenian daerah.

Namun perkembangan zaman membuatnya juga dipakai untuk mengiringi acara-acara resmi pemerintahan dan pagelaran kesenian musik di dalam dan luar negeri dalam acara gelar budaya Indonesia di KBRI (Kedutaan Besar Repubik Indonesia).

Baca juga : Alat Musik Tradisional Papua

Perbedaan Tifa Papua dan Maluku

Walaupun Tifa Papua dan Maluku sama-sama berasal dari Indonesia Bagian Timur, tapi tetap saja terdapat perbedaan antara keduanya.

Tifa Papua sangat identik dengan suku-suku yang berada di Papua terutama suku Asmat. Kehadiran Tifa sebagai identitas beberapa suku di Papua ibarat telah menjadi kebutuhan sehari-hari.

Tifa Papua juga memiliki julukan yang berbeda pada setiap daerah. Tifa yang berasal dari Malim dijuluki Kandara, sedangkan di Biak dikenal dengan Sirep.

Sementara di Setani disebut Wachu dan di suku Asmat disebut sebagai Eme. Bagi masyarakat Papua sendiri memainkan alat musik ini dapat mewujudkan melodi-melodi sakral dalam ritual adat nenek moyang.

Sementara Tifa Maluku, memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan Tifa Papua. Bentuknya menyerupai tabung biasa dan tanpa pegangan.

Ukiran yang tertuang pada Tifa tidak hanya berperan sebagai hiasan, tetapi lebih dalam lagi, bernilai filosofis, berisi kisah hidup dan ungkapan rasa syukur.

Tifa Maluku pun digunakan sebagai pengiring upacara adat, seperti tarian Cakalele. Tarian tersebut merupakan sebuah tarian yang menggambarkan kondisi peperangan.

Berbeda dengan Tifa Papua, Tifa Maluku dibuat menggunakan kayu pohon sukun atau pohon eh. Salah satu kekhasan Tifa Maluku adalah cara memainkannya yang menggunakan tongkat pemukul.

Alat musik Tifa merupakan alat musik khas Indonesia bagian Timur. Bentuknya ringkas dengan ukiran yang menghiasinya.

Ukiran yang tertera pada Tifa juga menggambarkan nilai filosofis kehidupan. Instrumen musik ini dipakai untuk mengiri upacara adat dan tari-tarian tradisional Papua dan Maluku.