20+ Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu Sesuai Dengan Islam

20+ Adab Bertamu dan Memuliakan Tamu Sesuai Dengan Islam

Adab Bertamu – Assalamu’alikum wr wb Pembaca muslim yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, seorang muslim yang beriman kepada Allah dan hari akhir akan mengimani wajibnya memuliakan tamu sehingga ia akan menempatkannya sesuai dengan kedudukannya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barang siapa yang beriman pada Allah dan juga hari akhir maka hendaklah dia menghormati  tamunya.” (HR. Bukhari)

Berikut ini merupakan adab-adab yang berkaitan dengan tamu dan bertamu. Kami akan sedikit membagi pembahasan ini dalam dua bagian, yaitu adab bagi tuan rumah dan adab bagi tamu.

Adab Bagi Tuan Rumah

Adab Bertamu

1.Mengundang Orang Yang Bertakwa

Ketika kita pada saat mengundang seseorang, hendaknya mengundang orang-orang yang bertakwa, bukan orang yang fajir (bermudah-mudahan dalam dosa), sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidaklah  engkau berteman kecuali dengan seorang mukmin, dan janganlah memakan makananmu melainkan orang yang bertakwa!” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

2. Tidak Hanya Mengundang Orang yang Kaya

Tidak mengkhususkan dari kita untuk mengundang orang-orang kaya saja, tanpa mengundang orang miskin, berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sejelek-jelek makanan merupakan makanan walimah di mana orang-orang kayanya diundang dan orang-orang miskinnya ditinggalkan.” (HR. Bukhari Muslim

3. Tidak Memberatkan orangnya

Tidak mengundang seorang yang diketahui akan memberatkannya jika diundang.

Jadi, maksud dari kalimat di atas  adalah ketika kita memiliki sebuah acara di rumah. Dan dari kita akan ingin mengundang sesorang, misalanya tetangga kita sendiri, tetapi tetangga yang akan kita undang juga memiliki acara sendiri.

Kita sebagai seorang muslim sebaiknya jangan mengundang orang tersebut karena mungkin akan memberatkan seseorang itu untuk datang ke acara kita.

4. Menyucapkan Selamat Datang

Disunahkan kepada kita semua untuk selalu mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari sahabat Nabi yaitu Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau bersabda,

مَرْحَبًا بِالْوَفْدِ الَّذِينَ جَاءُوا غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ نَدَامَى

“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan juga menyesal.” (HR. Bukhari)

5. Menghormati Tamu 

Menghormati tamu dan juga menyediakan hidangan untuk tamu makanan semampunya saja.

Mungkin kebanyakan dari kita akan menyedikan makanan maupun hidangan yang begitu mewah  akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala telah berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamun Beliau:

فَرَاغَ إِلىَ أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِيْنٍ . فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ آلاَ تَأْكُلُوْنَ

“Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian Beliau mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-ed) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27)

6. Tidak Menyajikan Makanan Yang Bermegah-megah

Dalam penyajiannya tidak bermaksud untuk menyajikan makanan yang bermegah-megah dan berbangga-bangga, tetapi bermaksud untuk mencontoh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabi sebelum beliau, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Beliau diberi gelar “Abu Dhifan” (Bapak para tamu) karena betapa mulianya beliau dalam menjamu tamunya tersebut.

7. Pelayanan Terhadap Tamu

Hendaknya juga, dalam pelayanan tamu diniatkan untuk memberikan kegembiraan kepada sesama muslim maupun muslimah.

8. Mendahulukan Tamu Sebelah Kanan Daripada Sebelah Kiri

Mendahulukan tamu yang ada pada sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal dapat dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.

9. Mendahulukan Tamu Yang Lebih Tua 

Mendahulukan tamu yang lebih tua dari pada tamu yang lebih muda, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami (Muhammad).” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad). Hadits ini menunjukkan bahwa perintah untuk menghormati orang yang lebih tua.

10. Dilarang Mengangkat Makanan

Jangan mengangkat makanan yang dihidangkan sebelum tamu selesai untuk menikmatinya.

11. Mangajak Berbincang-bincang Yang Menyenangkan

Di antara adab orang yang memberikan hidangan yaitu mengajak mereka berbincang-bincang dengan pembicaraan yang menyenangkan, tidak tidur sebelum mereka tidur, tidak mengeluhkan kehadiran mereka, bermuka manis ketika mereka datang, dan merasa kehilangan tatkala pamitan pulang.

12. Mendekatkan Makanan Kepada Tamu

Mendekatkan makanan kepada tamu dalam menghidangkan makanan tersebut kepadanya sebagaimana Allah ceritakan tentang Ibrahim ‘alaihis salam,

فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ

“Kemudian Nabi Ibrahim mendekatkan hidangan tersebut pada mereka.” (Qs. Adz-Dzariyat: 27)

13. Mempercepat Menghidangkan Makanan Tersebut

Mempercepat untuk segera menghidangkan makanan bagi tamu sebab hal tersebut adalah penghormatan bagi mereka.

14.Melayani Tamu

Merupakan adab dari orang yang memberikan hidangan yaitu melayani para tamunya dan menampakkan kepada mereka kebahagiaan serta menghadapi mereka dengan wajah yang ceria dan berseri-seri.

15. Masa Penjamuan Dengan Tamu

Adapun masa penjamuan tamu merupakan sebagaimana dalam sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ وَجَائِزَتُهُ يَوْمٌ وَلَيَْلَةٌ وَلاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ مُسْلِمٍ أَنْ يُقيْمَ عِنْدَ أَخِيْهِ حَتَّى يُؤْثِمَهُ قاَلُوْا يَارَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يُؤْثِمَهُ؟ قَالَ :يُقِيْمُ عِنْدَهُ وَلاَ شَيْئَ لَهُ يقْرِيْهِ بِهِ

“Menjamu tamu  merupakan tiga hari, adapun memuliakannya sehari semalam dan tidak halal bagi seorang muslim tinggal pada tempat saudaranya sehingga ia menyakitinya.” Para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana menyakitinya?” Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau berkata: “Sang tamu tinggal bersamanya sedangkan ia tidak mempunyai apa-apa untuk menjamu tamunya.”

16. Mengantarkan Tamu Yang Hendak Pulang

Hendaknya mengantarkan tamu yang mau pulang sampai ke depan rumahnya jika rumahnya dekat dengan rumah kita.

Adab Bagi Tamu

Adab Bertamu

1.Minta Izin Maksimal Tiga Kali

Nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu yaitu cukup tiga kali. Sebagaimana dalam sabda Beliau,

عن أبى موسى الاشعريّ رضي الله عمه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه و سلم: الاستئذانُ ثلاثٌ، فان أذن لك و الاّ فارجع

Dari salah satu Sahabat Nabi yaitu Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk

Terkadang ketika seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya. Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk.

Allah SWt telah berfirman di dalam surat An-Nuur ayat 24-27 yang artinya sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, tidaklah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. .” (QS. An-Nuur [24]: 27)

Sebagaimana juga yang terdapat dalam hadits dari sahabat nabi muhammad yaitu Kildah ibn al-ambal radhiallahu’anhu, Beliau berkata,

“Aku telah mendatangi Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi sambil mengucapkan ‘assalamu’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi berkata: Hadits Hasan)

Dalam hal ini (memberi salam dan minta izin), sesuai dengan poin pertama, maka batasannya yaitu tiga kali. Maksudnya yaitu, jika kita telah memberi salam yang ketiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu.

Adapun ketika salam kita telah ada yang menjawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja maupun  jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk.

Mintalah izin terlebih dahulu  untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya.

Hal ini dapat  disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah tersebut.

Sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Rasulullah Sahal ibn Sa’adradhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,

اِنّما جُعل الاستئذان من أجل البصر

“Sesungguhnya disyari’atkan minta izin yaitu karena untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Ketukan Yang Tidak Mengganggu

Sering kali ketukan yang diberikan seorang tamu berlebihan sehingga dapat mengganggu pemilik rumah. Baik karena keras suara ketukan tersebut  atau cara mengetuknya.

Maka, hendaknya ketukan itu merupakan ketukan yang sekedarnya dan bukan ketukan yang mengganggu seperti ketukan keras yang mungkin mengagetkan atau sengaja ditujukan untuk membangunkan sang pemilik rumah tersebut.

Sebagaimana diceritakan oleh sahabat Rasulullah Anas bin Malik radhiallahu’anhu,

“Kami di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetuk pintu dengan kuku-kuku.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod bab Mengetuk Pintu)

4. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk

Hendaknya posisi berdiri tamu itu  tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk dapat mempersiapkan dirinya dan juga rumahnya dalam menerima tamu.

Sehingga di dalam posisi demikianlah , apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum mereka diizinkan oleh pemilik rumah. Sebagaimana amalan Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Bisyr Beliau berkata,

“Adalah Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud, shohih – lihat majalah Al-Furqon)

5. Tidak Mengintip

Mengintip ke dalam rumah sering sekali  terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Padahal Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat mencela perbuatan ini dan juga memberi ancaman kepada para pengintip, sebagaimana dalam sabdanya,

“Andaikan ada orang menengokmu di rumah tanpa izin, kalian melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

6. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang

Kita harus dapat menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali.

Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya mereka tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam.

Di antara hikmahnya merupakan hal  demi menjaga hak-hak pemilik rumah.

7. Menjawab Dengan Nama yanag Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”

Terkadang si pemilik rumah ingin dapat  mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan nama “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas.

Demikianlah beberapa poin penting yang perlu kita perhatikan agar apa yang kita lakukan ketika bertamu pun sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan mengetahui adab-adab yang telah diajarkan oleh Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam ini juga membuat kita lebih lapang kepada saudara kita sebagai tuan rumah ketika ia menjalankan apa yang menjadi haknya sebagai pemilik rumah.

8.Tidak Membedakan Orang Yang Mengundang

Hendaknya tidak membeda-bedakan siapa yang telah mengundang, baik orang yang kaya ataupun orang yang miskin.

9. Niat Untuk Hormat Sesama Muslim

Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda bahwa hormat kita kepada sesama muslim. Sebagaimana hadits yang menerangkan tentang bab atau masalah ini bahwa, “Semua amal tergantung niatnya, karena setiap orang tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

10. Masuk Ketika Sudah Diberi Izin

Masuk jika sudah mendapatkan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah ta’ala dalam firman-Nya:

يَاأََيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَدْخُـلُوْا بُيُـوْتَ النَّبِي ِّإِلاَّ أَنْ يُؤْذَنَ لَكُمْ إِلَى طَـعَامٍ غَيْرَ نَاظِـرِيْنَ إِنهُ وَلِكنْ إِذَا دُعِيْتُمْ فَادْخُلُوْا فَإِذَا طَعِمْتُمْ فَانْتَشِـرُوْا وَلاَ مُسْتَئْنِسِيْنَ لِحَدِيْثٍ إَنَّ ذلِكُمْ كَانَ يُؤْذِى النَّبِيَّ فَيَسْتَحِي مِنْكُمْ وَاللهُ لاَ يَسْتَحِي مِنَ اْلحَقِّ

11. Hindari Untuk Menghindari Undangan Ketika Kamu Berpuasa

Apabila kalian dalam keadaan berpuasa, tetap disunnahkan untuk menghadiri undangan karena menampakkan kebahagiaan kepada muslim termasuk bagian dari ibadah.

Puasa tidak dapat menghalangi seseorang untuk dapat  menghadiri undangan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَاِئمًا فَلْيُصَِلِّ وِإِنْ كَانَ مُفْـطِرًا فَلْيُطْعِمْ

“Jika salah seorang di antara kamu di undang, maka hadirilah! Apabila mereka puasa, maka doakanlah! Dan apabila tidak berpuasa, maka makanlah!” (HR. Muslim)

12. Tidak Memberatkan Sang Tuan Rumah

Hendaknya seseorang berusaha semaksimal mungkin agar tidak memberatkan sang tuan rumah, sebagaimana firman Allah ta’ala dalam ayat di atas: “Bila kamu telah selesai makan, maka keluarlah!” (Qs. Al Ahzab: 53)

13. Dianjurkan Membawa Hadiah Untuk Tuan Rumah

Sebagai tamu, kita juga dianjurkan membawa hadiah untuk tuan rumah karena hal ini dapat mempererat kasih sayang antara sesama muslim,

14. Jika Tamu Tidak Diundang

Jika seorang tamu datang bersama orang yang tidak diundang, maka ia harus meminta izin kepada tuan rumah terlebih dahulu, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ مِنَ اْلأَنْصَارِ رَجـُلٌ يُقَالُ لُهُ أَبُوْ شُعَيْبُ وَكَانَ لَهُ غُلاَمٌ لِحَامٌ فَقَالَ اِصْنَعْ لِي طَعَامًا اُدْعُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَدَعَا رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَامِسَ خَمْسَةٍ فَتَبِعَهُمْ رَجُلٌ فَقَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ دَعَوْتَنَا خَامِسَ خَمْسَةٍ وَهذَا رَجُلٌ قَدْ تَبِعَنَا فَإِنْ شِئْتَ اْذَنْ لَهُ وَإِنْ شِئْتَ تَرَكْتُهُ قَالَ بَلْ أَذْنْتُ لَهُ

15. Mendoakan Sang Tuan Rumah

Seorang tamu hendaknya juga mendoakan orang yang telah memberi hidangan kepadanya setelah selesai mencicipi makanan tersebut dengan doa:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ, وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ اْلأَبْرَارَ,وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلمَلاَئِكَةُ

“Orang-orang yang telah berpuasa telah berbuka di samping kalian. Orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian sendiri. semoga malaikat telah  mendoakan kalian semuanya.” (HR Abu Daud, dishahihkan oleh Al Albani)

اَللّهُـمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِي, وَاْسقِ مَنْ سَقَانِي

“Ya Allah berikanlah makanan kepada orang yang  telah memberikan makanan kepadaku dan berikanlah minuman kepada orang yang telah memberiku minuman kepadaku.” (HR. Muslim)

اَللّهُـمَّ اغْـفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِيْمَا رَزَقْتَهُمْ

“Ya Allah ampuni dosa mereka dan juga kasihanilah mereka serta berkahilah rezeki mereka semua.” (HR. Muslim)

16. Pualanglah Dengan Lapang Dada

Setelah kalian selesai bertamu maka hendaklah seorang tamu pulang dengan lapang dada, memperlihatkan budi pekerti yang mulia, dan juga memaafkan segala kekurangan tuan rumah.

Itulah sedikit artikel saya tentang adab bertamu. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan  atau pengetahuan anda semua tentang adab Bertamu dan memuliakan tamu, terlebih buat saya pribadi. Sekian dan terimakasih.

Leave a Comment